puisi

kebenaran dari tulisan

kau ingin cerita panjang
epos nun jauh
dari negeri para perkasa

kau ingin kemerdekaan
kebebasan yang tinggi
kisah tanah, atau
realisme sosialis

yang kau inginkan adalah terus
terus terusan saja menyimak
tak peduli kisah apa ini

kau ingin cerita hebat
wira lagi karta
siapapun menang, kau mengerang
ingin, ingin lagi

kau ingin bias ada dan sirna
dalam tapakmu
dan menjelma jadi kisah
yang kau hafal akhirnya

kau ingin romantisme
dari tarian kata materi
dan bumbu hierarki
untuk prosa pendek
yang kau tuntut sudahnya

namun…
namun oh sang keagungan!
oh sang hierarki tertinggi dari untaian rantai sastrawi!
sang akhir dari awal yang terbaca!
wahai sang penyimak!
wahai kau yang tak pernah puas!

siapakah aku…
yang bisa melegakan dahagamu?

puisi

apa itu merapal sebab

tersebutlah
Kusdi, anak putus sekolah
inginnya besar sekali
sayang nyalinya kecil
hanya habis dibuat tarung ayam;
beli aibon murah, dan curi spion

diseberang ada Kabul
tak berada dan miskin papa
saban hari dihabiskannya;
untuk baca koran, sisa gorengan
punya majikan

sebab Kusdi
hidup untuk hari itu saja
perihal perut kenyang saban hari
kawan Marx mengamininya dari dalam kubur
lahir miskin dan mati miskin
seperti orang dulu kala

sebab Kabul
tau, ingin tau
haus dahaga akan gelap
ingin disinarinya
dengan ejaan ejaan kecut lagi setengah setengah
untuk jalannya yang berkabut

maka siaplah mereka merapal sebab
mencari premis sendiri dalam kulit sosialnya
mencari tau sendiri
memaknai awal
untuk siap diakhiri

maka apa itu merapal sebab?

ialah itu, mencari tau tempatmu
untuk tau jalanmu
melihat premis
memaknai ada
menyimpan start

atau kau bisa memanggilnya apapun

puisi

wahai kamu yang menyepi

mari bergabung dalam diam
yang emas; mari rapatkan bibir
hilangkan desir nafas, semesta memanas
dan bubarkan ingatan

mari merapal mantra dalam bisu
hilangkan ada; matikan nisbi waktu
terkam keramaian dan cabik senyumanmu
biarkan hilang dalam lupa atau senja

wahai kamu yang menyepi
untuk asa atau kontemplasi
datar atau riak, menuju hymne sunyi
dari pusat galaksi

wahai kamu; kepingan surga
yang membeku bisu dalam haru biru
pencapaian tak sampai
dan debu terbang dalam waktu

sepimu, sepi kita
dalam wajah batas tak kentara
mengada dalam agenda
dan tujuan yang ganjil

untuk kamu yang menepi
pada sunyi dan jahatnya malam
dan berhenti untuk suka lara
dalam placebo struktur yang anonik

jadi waktu yang hilang
atau sirna tak ada lagi
tak bisa kembali
atau kembali jadi kenang

wahai kamu yang menyepi
menepilah
menepilah

puisi

teduh

ya, sajak ini sebagai pengingat saja
akan dedaunan yang jatuh, akan kehangatan yang menembus;
dalam celah-celah ranting;
dalam suara lembut angin.

senyummu kukekalkan siang itu;
dalam kenangan yang bias
dalam aroma pantai; dan aroma tubuhmu.
dan suara-suara semak
yang menyorak

atau kicauan kecil kita
tentang apa saja;
tentang yang lalu atau selanjutnya
tentang sirna atau fana
atau tak terencana
atau bias dan hilang

mereka merapal teduh siang itu
sebagaimana seharusnya angin dan ombak pada tempatnya
seharusnya siang itu tak kekal
hanya lalu saja, jadi bias
dan teduhmu menjadi kenanganku

untuk terus menepi

LifE, puisi

Kamu

Adalah pagi yang membuat segalanya menjadi mungkin, atau hampir mungkin

Dan senyapmu kulihat kala pagi berseri, tetap disana bagai kelabu

Seperti tumpukan hujan yang menari dalam lumpur

Atau seperti angin yang meledak dalam udara

 

Adalah kamu, dan dirimu yang membuat segalanya mungkin, atau pasti mungkin

Dan memberikan kekuatan seperti bensin kepada mesin, atau air kepada dahaga

Membuat jari jemari, dan selubung simpul bekerja, seperti seharusnya

Bahkan lebih keras lagi

 

Kamu adalah alasan, lompatan semangat, letusan harapan. The Last Piece. Takdir.

puisi

biarkan tenggelam

kemarin atau kemarin lagi
aku bermimpi
berada dikapal yang bocor
dan dengan sinis ku berkata
“biarkan saja tenggelam”

dan disungai itu aku arungi dengan sampan
sampan bocor dan aku berucap
“biarkan saja tenggelam”

aku sebenarnya tidak peduli
bahkan kapalmu pun bocor
sungguhpun itu…
sebenarnya aku tidak peduli

Uncategorized

beban

siapa yang tega, sebenarnya
melihat banyak tetangga terdekat
masih makan nasi aking
makan sehari sekali
atau puasa sama sekali

tak ada yang kuat, sebenarnya
dengan tetangga yang suka gunjing;
tengkar dan fitnah
yang hobi pamer motor laki
walau makan pun tak pasti

beban jadi tambah berat
kalau berpikir diri sendiri
yang mau baju dan celana bagus
jaket dan sepatu
elektronik dan tunggangan

dan harus dibagi lagi dengan teriakan
akan perut lapar atau isakan iba
dari bapak sol sepatu depan gang
atau bapak reparasi payung,
di pertigaan

semua orang mau hidup enak
punya baju dan celana
rumah dan kendaraan
dapur dan kulkas dan perut
yang semuanya terisi

kalau sudah cukup
ditambah lagi dengan tas, dompet, jaket dan sepatu
atau hp keluaran terbaru
rekomendasi tabloid lima ribu

oh, jangan lupa
nabung juga perlu
untuk hari tua
bisa emas, tanah, atau investasi
beli sapi yang gemuk
yang mahal harganya

tapi
kalau terus berpikir seperti ini
kapan ngurusi tetangga yang masih makan nasi aking?
atau bantu bapak tukang sol dan reparasi payung?
kapan bantu bapak dan ibumu yang sudah tua?
yang tiap hari menunggu kabar anaknya
yang sudah besar dan kadang lupa

ah, beban memang diciptakan untuk dipikul, bukan untuk dilempar, bahkan ditulisi