LifE, sekolah

seni merencanakan

saya pernah kepikiran tentang sesuatu… menurut hasil korek kepribadian di situs sebelah, ternyata saya seorang visionary. yap, kalau istilah mudahnya, pemimpi/berpikiran kedepan/perencana. apakah benar?

saya ingat lagi hal-hal yang membuat saya tersenyum ketika mengingatnya,

  1. ketika saya kerja menjadi guide tahun lalu. kerja guide bukan asal-asalan. karena ini seperti one man company. semua hal saya urus. sebenarnya bukan guide, lebih cocok seperti tour operator. hanya saja, saya merangkap semuanya. ya, semuanya! mulai dari manager, tour organizer, driver, client concierge, guide, sampai urusan konsumsi saya yang handle. bwah! banyak sekali yang harus dipersiapkan, direncanakan. saya ingat sekali berapa kali harus tambal sulam rundown tour, bolak balik kesana sini buat ngecek harga dan lain-lain. ditambah tekanan sana sini ternyata harga aktual sebuah service tidak sama seperti harga mental (hahaha). tapi disinilah enaknya. saya merencanakan semua, seorang diri. dan itu berhasil (at least tamu-tamu saya merasakan pengalaman serunya)
  2. ketika saya merencanakan kunjungan teman-teman kuliah ke jogja. satu hal yang perlu kalian tahu. teman-teman saya itu… susah banget diurusnya! mau pergi kemanapun kalau dibicarain (bakalab) ga jadi! sebel ga sih? mau pergi ke jatim park, WBL, dll selalu gagal. alasannya? pembicaraan terlalu alot, banyak faksi, mau enak sendiri, atau tiba-tiba membatalkan janji ketika hari H. jadi saya ambil inisiatif kala itu untuk merencanakan semuanya. pakai apa ke jogja, disana nginep dimana, di jogja mau kemana aja, berapa duit yang dihabiskan… saya ambil kendali karena beberapa hal : pertama, yang ikut hanya 6 orang (pada akhirnya hanya 4 orang), dan kedua, ocha juga ikut, jadi dia yang nyuruh saya buat rencanain. berhubung saya dikenal introved dan nggak banyak omong didepan teman-teman sehingga teman-teman (terutama yang cewek) jadi sungkan sama saya, jadilah saya menduduki tempat teratas untuk urusan kali ini. dan saya benar, saya suka merencanakan! dan melihat saya berhasil “menerbangkan” teman-teman saya itu ke jogja dengan budget minimal tapi hasil maksimal (menurut kata teman-teman saya), saya semakin percaya pada kekuatan tersembunyi saya: merencanakan!

nah, semester 6 ini saya didaulat lagi untuk merencanakan rencana KKL ilmu sejarah 09 ke jakarta. saya terima. ketua pelaksana, itu gelar saya. ini bukan main-main, dan saya sudah merencakannya sejak awal. pergi ke suatu tempat itu bukan perkara asal-asalan. bukan sekedar “nanti disana kita putuskan bagaimana”. jadi saya merancang semuanya. ke jakarta naik apa, disana nginep dimana, tempat-tempat yang mau dikunjungi apa, dll (masalah surat-menyurat maupun hubungan dengan tetek bengek birokrasi saya serahkan ke sekretaris). saya bahkan membuat peta online (google map) di jakarta tentang rencana destinasi KKL di jakarta. beserta jalur-jalurnya dan rencana harian.

well, itulah seni merencanakan. semoga semuanya berjalan sesuai dengan apa yang kita kerjakan

sekolah

Kondisi Chaos sebelum UN

Benar adanya omongan guru BK tempo hari tentang ‘ujian sesungguhnya’. Paling tidak, sebulan sebelum UN saya sudah merasakan kebosanan luar biasa jika melihat buku pelajaran. Apalagi jika yang ada angka-angkanya.

Semua gara-gara ujian praktik itu. Awalnya, saya sudah fully loaded. Memory berbagai rumus dan hafalan berbagai macam kesosialan telah tersimpan rapi. Tinggal menjaganya saja agar tidak crash dikemudian hari. Tapi, apa daya. Karena terpengaruh ujian praktik itu, akibatnya sedikit fatal. Buyar sudah semua rumus-rumus kecuali rumus sederhana seperti limit tak hingga, logika, manipulasi angka, dan statistika. Bah!, dengan keadaan seperti ini paling banter saya hanya bisa menjawab 14 soal dari 40 yang diberikan.

Setelah ‘musibah ujian praktik’, datang lagi berbagai cobaan yang memaksa otak saya untuk tidak mengeksekusi berbagai pelajaran. Pertama-tama, wabah AP gretongan yang secara sporadis menyebar dan tak tahu bermula dari mana. Setelah sebelumnya rajin ke sekolah membawa laptop (kadang nggak bawa buku), akhirnya secara tidak resmi kami (saya, padfoot/piko, terra, dan amri) membentuk kelompok gerilyawan khusus mengincar AP bocor. Kegiatan wardriving menjadi menarik. Apalagi dengan netbooknya amri yang mungil kami muter-muter kota mini Mataram pake motor. Well, sebenarnya mungkin kurang tepat disebut wardriving. Mungkin yang cocok warcycling 😉

Baca lebih lanjut

LifE, sekolah

Seputar ujian nasional (fakta atau mitos?)

Yang paling menakutkan, menggemparkan, mencengangkan, dan mendebarkan bagi anak-anak SMA tahun ini pastinya adalah ujian nasional. Bukan hanya karena tidak ada “nyawa tambahan” untuk mengulang dalam sekali waktu, tapi juga karena disinilah penentu apakah kita bisa segera keluar dari gedung penuh muslihat bagi sebagian siswa sekaligus gedung penuh kenangan bagi siswa lainnya, SMA.

Ujian nasional tak lengkap rasanya bila tidak disertai bumbu-bumbu berupa “cerita konon kabarnya”, “kabar angin”, “kabar kabur”, atau kabar-kabar lain yang belum diuji ke otentikannya. Ini menjadi menarik karena dengan stimulan ini kita bisa menjadi lebih deg-degan, merasa coklat, optimis, pesimis, atau bahkan berniat bunuh diri (dont do that). Baca lebih lanjut

LifE, sekolah

Olimpiade Teknik 2008 (FT-UNUD) : The Foreigner #4 (habis)

Bangun lebih awal lagi… langsung saja saya mandi dan shalat subuh. Kali ini keadaan sungguh berbeda. Kami akan check out dari hotel pagi ini. Setelah acara penutupan selesai barulah kami akan langsung pergi ke habitat asli kami, Mataram.

Perjalanan dari hotel menuju Jimbaran lebih membosankan lagi. Di dekat bandara Ngurah Rai kami terjebak macet. Akibat nyata dari keadaan ini selain perjalanan menjadi lebih lama, saya dan snivelus mengantuk dan tertidur (padahal baru jam setengah 8). Setelah macet bisa teratasi akhirnya kami sampai juga ditempat.

Anak-anak sekolah lain sudah menunggu disini. Ada yang memakai jaket sekolah mereka sebagai pembeda. Yah, rata-rata disini begitu. Rombongan selong tampak berbeda karena mereka memakai baju sekolah warna oranye-hitam, dan putih abu-abu (SMK selong). Sementara dari SMAN 2 Mataram… terlalu aneh dan sangat tidak serasi. Snivelus memakai baju khas SMAN 2 Mataram yaitu warna hijau muda-hijau tua. Anehnya, dia sangat loyal sama jaket abu-abunya. Lain dengan saya. Saya malah memakai baju putih-abu. Dan yang lebih anehnya, saya juga begitu loyal dengan jaket hijau tua saya. Baca lebih lanjut

LifE, sekolah

Olimpiade Teknik 2008 (FT-UNUD) : The Foreigner #3

banyak hal yang diluar kebiasaan terjadi ketika saya berada diBali. Pertama, saya jarang sekali menggunakan minyak rambut. Tapi waktu disini saya setiap pagi menggunakannya. Ini adalah manifestasi karena saya tidak membawa sampo. Kedua, saya mandi paling telat jam 5. ga tau kenapa tapi saya merasa nggak nyaman kalau harus mandi jam 6-7an. Ketiga, setiap pagi kami makan di kantin FT (muslim), yaitu makan lalapan ayam. Ini menarik karena kalau dimataram hanya makan lalapan ayam kalau ada uang dan sedang hepi. Dan yang terakhir saya menjaga perut dari hal-hal yang kurang baik.

Hari ini acara kami adalah jalan-jalan. Jalan-jalan ke nusa dua dan uluwatu. Sewaktu di uluwatu kami mengurungkan niat untuk masuk karena perut saya sedang ingin maintenance. Akhirnya saya dan snivelus kongkow-kongkow di warung luar dan pesen snack serta U C 1000. kami menghabiskan waktu untuk membaca buku.

Akhirnya kami pergi ke nusa dua. Seperti yang bisa ditebak, ini daerah pantai. Jangan tanyakan saya keadaan disini.ramai!. bahasa mulai berubah ketika saya memasuki wilayah ini. Inggris, mandarin, melayu, jerman, perancis. Saya dan snivelus udah ngebet mau posting lagi. Kami mencari kafe yang ada hotspotnya. Tentu ada, tapi sayangnya macbooknya snivelus lagi drop n disana nggak colokannya. Kami melanjutkan perjalanan kami ke matahari nyari buku. Well… nyasar. Ternyata yang ada hanya baju, celana, sepatu, parfum. Dan yang mendominasi adalah para foreigner dari belahan bumi seberang. Waw, ada konfrontasi budaya rupanya.

Trus akhirnya kami kembali ke pantai foto-foto (muka ditutup). Cari objek foto aneh (seperti celana yang ditinggalkan, buldoser, sampe jejaknya kami foto). Main-main sambil melongo melihat pantai yang agak menjorok ke laut karena surut. Ini sore hari bung!. Laut sedang tak ingin mencari perhatian.

Setelah asik melihat bule bercakap-cakap dengan pedagang setempat, kami memutuskan untuk pulang. Seperti postingan saya kemarin. Hari ini nggak terlalu istimewa. Karena besok adalah hari penentuan. Good luck boy….

LifE, sekolah

Olimpiade Teknik (FT-UNUD 2008) : The Foreigner #2

saya terbangun jam 4 pagi setelah tadi malam sempat menyetel double alarm jam setengah tiga dan jam empat. ini adalah jurus ampuh saya untuk membangunkan diri setelah tidur larut. Tidur larut bukanlah soal, tidur hanya 4 jam juga bukan masalah, asal tak ketinggalan shalat subuh. Setelah itu saya kembali mengutak-atik photoshop + dreamweaver… suntuk tapi enak juga. Jantung berdetak dagdigdug. Menurut informasi yang bisa dipercaya mobil panitia akan menjemput kami ke bukit jimbaran (tempat fakultas teknik UNUD berada) pada jam tujuh pagi ini untuk menghadiri acara pembukaan. Sumpah, tak ada spesial kecuali rentetan baris kode, harapan terakhir remaja tanggung ini.

Mobil yang menjemput kami datang. Saya langsung berdoa dalam-dalam. Doa adalah penentu. Doa adalah benteng terakhir saya. Merendah diri dan menghina diri. Kalbu tenang setelah mengucap beberapa patah kata penghinaan diri kepada Sang Pentarbiyah.

Akhirnya kami sudah berada di mobil. Menuju jimbaran. Jujur, saya baru tahu jimbaran itu nama wilayah (setelah sebelumnya hanya mengenal melalui iklan es krim ;)). Ternyata jauh juga dari hotel kami ke jimbaran. Hotel kami berada di “The Denpasar’s Suburb”, piinggiran kota. Saya tak menyesalinya. Perjalanan menjadi menarik karena banyak hal yang bisa dilihat disini. Jantung saya masih berdegup kencang. Saya mulai merasa sakit perut. Kondisi wajar yang saya alami ketika berada dalam situasi yang berhubungan dengan orang banyak, atau sebuah kompetisi, atau ulangan matematika.

Kampus FT ternyata luaass banget. Berada dibukit jimbaran. Kalau anda memiliki pandangan yang  luas maka tak susah mencari bibir laut dari atas sini. Kami turun dari mobil, registrasi, basa-basi dengan rombongan selong, berkenalan dengan beberapa orang sebelum mengikuti acara pembukaan. Acara dibuka dengan tarian khas bali. Kemudian sambutan Bupati Badung, kemudian sambutan PR (pembantu rektor), kemudian acara makan. Ketika konsumsi dibagikan, saya tiba-tiba menjadi vegetarian untuk sementara. Saya mencoba untuk menjaga perut dari hal-hal merusak kemakbulan doa saya. Maafkan saya panitia, bukan untuk menyinggung.

Pembukaan diakhiri dengan demonstrasi oleh pendiri FT UNUD, yaitu bapak (adduuh lupa, soalnya namanya kesimpen di otak kiri, yang notabene udah dihapus karena bersifat short term memory). Kemudian kami digiring (kayak kambing) oleh kakak-kakak panitia menuju ruang lomba. Perasaan saya biasa saja. Nggak banyak pikiran. Hanya kepanansan karena pakai jaket (biar keliatan besar badan kurus ini).

Setelah masuk ruangan kami dipersilahkan duduk di komputer masing-masing. Meng-copy bahan kerja kami ke komputer dan mulai bekerja setelah ada aba-aba. Setelah itu maka dijalankanlah proyek ambisius kami. Sibuk ngetik script!. Seingat saya, hanya saya dan snivelus yang komputernya bunyi klotak-klotek karena keyboardnya ditekan sangat agresif, persis seperti pemain ayo dance level tinggi. Selanjutnya sesi buat css. Saya singkat ya biar ngga menghabiskan waktu?.

Sisa waktu tinggal 5 menit ketika saya sudah merampungkan webnya. Naas, terlalu kecil, kecil sekali. Layar 18” (jika tak salah) membuat web saya menjadi kecil karena selama ini hanya dicoba dilaptop berlayar seadanya. Persiapan sudah jadi. Script sudah digunakan. Dan senjata pamungkas saya akhirnya berkibar dengan gemilang. “Multi Search Engine”. Hasil utak-atik script dengan sedikit penyesuaian. Semula saya takut kalau tu script nggak jalan. Karena tadi malem saya sama snivelus mencoba mencari kesalahan tu script karena pas dijalanin ga bisa. Tapi sekarang sudah bisa!. Syukur….

Saat penjurian. Lebih membosankan lagi. Saya hanya menghabiskan waktu untuk browsing amboradol tak sistematis. Nunggu giliran dinilai. Sementara itu snivelus asyik ngoprek situsnya yang udah jadi. Dengan latar oranye, latar yang katanya adalah warna energi. Terlihat sangat menarik karena para mahasiswa dari tadi berada dibelakangnya. Mungkin kaget sambil kagum bagaimana anak kerempeng ini bisa begitu encer idenya. Saya sendiri memilih untuk ngenet lagi. Tak ada yang berubah kecuali menambah beberapa kata-kata yang sebenarnya nggak penting untuk dicantumkan pada sebuah web biasa sebelum juri menghampiri saya.

Dia mengklik halaman index.htm saya. Pas dibuka, ternyata activeX controlnya belum jalan. Membuat flash dan java tidak bisa berjalan. Dia bertanya : “kenapa ini?”. “activeX nya belom nyala pak!” saja jawab sambil menyalakannya. Akhirnya berjalan juga flashnya. Kemudian dia beralih ke status komputer yang saya buat pake java + marquee direction=up.
“pake apa ini dibuat?”
“marquee pak, jawab saya”
“apaan?” sambungnya
“marquee, html…” saya jawab lagi..
Ooo katanya. Lalu dia melihat yang lainnya di web saya. Saya menjelaskannya. Tak lengkap, tapi saya yakin telah membuatnya melongo. Sayangnya dia tak mencoba script pamungkas saya. Saya hanya menjelaskan kalo ini adalah multi search engine yang dibuat pake java. Trus ada juga rollover image yang juga dibuat pake java, tapi memanfaatkan fitur dari dreamweaver.

Snivelus mendapatkan pertanyaan yang sama ketika sang juri melihat ada tulisan aneh wara-wiri jalan-jalan di situsnya. Seingat saya narasinya sama seperti yang saya dapatkan. Dugaan saya benar, sang juri melongo melihat menu flash dropdown, begitu juga kakak2 mahasiswanya… good job!, akhirnya mereka seperti disember petir pada bulan sebelum bulan disember ini (lho?) walaupun sudah jelas bahwa saya tidak melihat petir…;)

Lomba berakhir. Kami disuruh pulang atau mau ngenet. Tentu saja kami mau pulang ke hotel.

Diluar orang sudah berhamburan. Tak ada yang saya kenal. Hanya seragam putih-abu yang menandakan mereka adalah makhluk dari tempat yang konon kabarnya adalah sekolah menengah umum negeri. Sama seperti kami… kami bertemu rombongan selong. Sedikit basa basi. Menanyakan lomba. Hening…. kemudian mobil datang dan membawa kami pulang.

Sesampainya dihotel kami mendeklarasikan bahwa malam ini adalah saat yang tepat untuk cucimata, cari buku dan jalan-jalan. Langsung saja kami pesan taksi menuju matahari (entah matahari mana, soalnya otak saya semrawut memikirkan arah utara-selatan). Sampai disana kami mencari buku… bagus bagus dan tentunya lebih lebih lengkap daripada di Mataram. Saya membelli buku “The last secret of the temple”. Novel yang katanya menandingi the da vinci code. Saya nggak tertarik dengan anggapan orang. Saya tertarik karena itu menyangkut tiga agama… menarik. Snivelus membeli majalah linux, distro linux, sementara guru kami sibux mencari buku underground (hacker, virus, dll)

Hari ini kembali mencapai klimaks ketika mata saya nggak bisa diajak kompromi dengan tamu kami yang datang setiap malam, kantuk… saya tidur dengan memegang buku novel yang saya beli (menurut pengakuan snivelus…)

Bagian 3 nanti ya, saya mau bobok dahulu…

LifE, sekolah

Olimpiade Teknik (FT-UNUD 2008) : The Foreigner #1

menindaklanjuti “affair” saya dengan guru TIK (silahkan baca postingan yang lalu), akhirnya tanggal 12 November 2008 kami bertiga (saya, snivelus, n guru TIK) pergi ke Bali… tentu saja untuk ikut lomba. Jujur, seumur hidup saya baru ikut lomba akademik kayak gini baru 2 kali. Yang satu pas sd, dan yang satu ya… sekarang.

Jam 10.00 pagi, Mataram
Mobil yang kami tumpangi sedang berjalan cepat dan pasti menuju pelabuhan di barat pulau Lombok, lembar. Banyak yang telah berubah. Seingat saya sudah hampir setahunan saya nggak naik kapal lagi. Sekarang dilembar udah banyak banget perubahan yang berarti. Tak usah diceritakan.Biarkan dunia yang mengeksposnya ;). setelah menyelesaikan administrasi di pelabuhan, akhirnya mobil kami berhenti di depan dermaga yang kapalnya sudah hampir mengangkat jembatannya. ayo! bergegas masuk dengan membawa barang seadanya (setelah tentunya berjabat tangan dengan sang sopir).

Naik kapal selalu menyenangkan, tak peduli berapa kali kau naik kapal. Selalu begitu. Selalu menyenangkan. Karena saya dari kecil udah terlanjur suka dengan kapal. Karena dari kecil kerjaan saya bolak-balik Bima-Mataram. Jadi naik kapal adalah sebuah rutinitas biasa. Tetapi tetap saja menyenangkan. Saya tak tahu mengapa.

Dikapal, tentu saja ada banyak orang. kendaraan didominasi oleh truk-truk besar. suara yang memekakkan telinga, ketika mesin kapal dihidupkan. Membawa kami dan lamunan-lamunan kami serta harapan kami pergi menuju pulau di seberang sana, Bali. Tak ada yang menarik tentang orang-orang dikapal. seperti biasa, kursi panjang di dek habis oleh satu orang (dipakai tidur). Saya bisa memahami kalau mereka adalah supir truk yang kecapekan. Tapi tetap tidak bisa mengerti sikap egoisnya (saya harap saya salah).
Setelah 4 jam waktu dikapal kami habiskan untuk membuka laptop, belajar script, maen photoshop, pergi ke dek atas, melihat ombak, sholat, tidur, akhirnya pulau itu terlihat, Bali. setengah jam kemudian kapal merapat. tidak ada yang istimewa. semua berdesak-desakan inign keluar. Bau anyir menyengat ketika kami melewati mulut kapal. Bau seperti cumi busuk dicampur dengan oli. Bau khas dari kapal-kapal disini.
Sampai di Padangbai. Kami segera mencari rumah makan muslim. ada, dan langsung saja mengambil teh botol dan U C 100. kami sampai jam 3. Sedangkan menurut keterangan yang berhasil dikorek oleh guru kami, mobil jemputan dari panitia akan datang jam lima. Itu berarti ada banyak celah untuk sedikit bermain-main. Setelah waktu ashar masuk kami (saya dan snivelus lupa untuk menggabungkan sholat dzuhur dan ashar di kapal tadi)pergi solat ke masjid terdekat. Setelah itu kami kembali ke rumah makan. Tiba-tiba guru kami menerima Incoming transmission. Ternyata selain kami, ada rombongan lain dari pulau disebelah pulau Bali. Tepatnya ditimurnya lagi. Tepatnya Selong…
Ada 18 orang. Pikiran pertama saya : busset, ambisius banget yah… tapi mudah-mudahan saya salah menilai.

Kami menunggu kapal-kapal lain merapat, berharap rombongan itu ada disana. Hasilnya nihil. Saya dan snivelus memutuskan untuk pergi kongkow-kongkow ke pelabuhan. Ketika sedang asyiknya melihat kapal kapal yang bersandar di padangbai, tiba-tiba saya merasakan insting saya berkata ada yang tidak beres. Saya dan snivelus balik lagi ke RM. Benar, orang-orang dari panitia udah datang (pake mobil penjahat, soalnya mobilnya jeep sih… hehe). Karena romobongan selong belum tiba, kami menunggu lagi. Sesi menunggu mencapai klimaks ketika panitia datang diiringi dengan belasan anak-anak selong. Finally, kamipun berangkat ke Denpasar (hampir jam 6-an).

Denpasar. Ingin sekali kukatakan bahwa tidak ada yang spesial. Namun kenyataan berkata bahwa semuanya disini berbeda. Jalan, rumah, orang-orang, bahasa, kultur, rasa, paras, ciri khas… everything. Yang nggak berbeda adalah dari tadi saya merasa agak risih karena belum buang air kecil sejak pagi. Singkat cerita kami menginap di sebuah hotel. Saya ragu apakah ini hotel. Tapi karena didepan ada plank besar bertuliskan “HOTEL MUTIARA”, saya setuju saja kalau ini benar-benar sebuah hotel. Pelayanannya biasa saja. Tidak ada yang mengantar. Nggak ada makanan, jemur handuk tidak boleh (takut salah angkut katanya). Setelah kami check in kami mulai merancang strategi terbaik untuk mendesain web dengan cepat, singkat, dan memukau. Dengan mempertimbangkan aspek waktu dan meminimalkan proses trial error, akhirnya diputuskan bahwa strategi kami adalah : 1. Buat script java dulu biar ga lupa 2. Buat file CSS 3. Buat langsung file .htmnya. proses trial error dilakukan nanti saja setelah semua jadi. Kami agak pesimis. Saingan kami ada 16 orang. Saya sendiri meminta bantuan snivelus untuk membantu saya merancang banner web saya. Dan dia saya beri beberapa script java yang mantap untuk dihafal. Saya sendiri sudah mempersiapkan senajata pamungkas saya sendiri. Untuk mengetahuinya simak ya posting berikutnya ;).

Rombongan selong terdiri atas 2 sekolah. SMAN 1 Selong dan STM Selong. Mereka mengikuti lomba rancang bangun jembatan dan karya tulis ilmiah. Enggan saya mengomentarinya karena jujur saya bukan pakar EYD atau otak arsitek. Ucapan semoga berhasil tulus mengalir melalui lidah saya (sueer men!).
Malam hari, dihotel Mutiara. Lembur! Kami sedang sibuk2nya. Snivelus sibuk mencoba-coba scriptnya. Latihan dan latihan!. Saya sangat yakin dia sangat berpotensi menang (nggak efektif banget ni kata-kata). Melihat menu flash dropdownnya saja sudah membuat saya kagum. Apalagi jika dilihat oleh saingan lain. Bisa bisa mereka pingsan seperti disambar petir pada bulan sebelum bulan disambar ini (lho?). Saya sendiri sibuk dengan photoshop saya. Memeriksa dengan teliti kemungkinan kesalahan image dan malfunction browser ketika dijalankan. Pekerjaan yang menyenangkan. Otak kanan saya berkooperasi dengan otak kiri dalam hal ini. Thanks buat snivelus untuk inspirasi idenya. Saya namakan layout ini “minimalis”. Saya nggak peduli masalah konten. Konten saya bisa jadi paling sedikit diantara yang lain. Halaman utama, tentang kami, artikel yang nggak mutu 2, dan halaman kontak kami yang begitu statis. Singkat cerita, saya merasa pede dengan konten pas-pasan seperti ini.

Lembur sampe jam 12an… ngantuk udah ilang dari ingatan. Besok tanggal mainnya. Kami berharap semua baik-baik saja. Snivelus dari kapal sejak mengetahui pesaingnya ada 16 orang langsung minta pulang. Sementara saya sudah makan mie instan yang dibeli pak guru 2 bungkus ;). Setelah menaruh banyak harapan pada desain dan script yang kami buat, dia datang lagi. Ngantuk. Akhirnya hari ini berakhir dengan rebahnya 2 tubuh kurus ke kasur biasa….

Tunggu cerita berikutnya ya!