puisi

Perihal kamu yang keranjingan ngopi

masnun namanya
biasa mangkal di pertigaan pasar
kalau malam, wajib main gaplek
bersama yadi dan sudir

masnun akhir-akhir ini berubah
tidak lagi main gaplek
gosip mistis, atau ngomong politik
yadi dan sudir kehilangan

masnun ternyata disana
di warung kopi mbok yu
pesan kopi saset
diseruput seperti latte

lama-lama dia bosan kopi saset
terlalu sering buka youtube
inginnya ngopi mahal
yang bijinya diulek langsung

masnun ketagihan ngopi
dan mulai berfilosofi
mencari nikmat dalam cangkir
dompet kempes tak dipikir

masnun dulu lebih suka extra joss
atau wedang jahe sambil bilang “los!”
main gaplek sambil menghina pemerentah
kalah dan sumpah serapah

tapi sejak ngopi saset
masnun selalu ingin ngepet
demi berfilosofi
dengan segerombolan penjudi

kamu memang keranjingan ngopi
kata yadi dan sudir penuh arti
tapi tak perlu berfilosofi
karena kopi tinggal dinikmati

Iklan
LifE, log

Log februari

Tawaran Februari adalah tawaran akan musim yang hendak berganti. Angin dan udara panas tanpa cela. Matahari yang jumawa dengan langit biru tanpa ujung. Pantai atau pegunungan adalah tempat terbaik menghabiskan umur. Disela-sela tuntutan hidup yang menyita, paling baik mengadakan perjalanan kecil untuk menikmati angin dan matahari siang terik.

Februari datang dengan seketika. Secepat feed chat di group telegram. Secepat habisnya anggaran makan diluar. Februari bulan yang pendek, setidaknya dalam pikiranku. Bukan bulan yang spesial, tapi kosong juga tanpa memaknainya.

Hal-hal terjadi begitu saja. Janji-janji datang dan pergi. Ditepati dan diingkari. Beberapa hilang menguap. Lainnya berubah jadi makna. Beberapa hal tampak menjanjikan. Hal yang reguler menjadi sampah rutinitas. Hal baru jadi penyemangat. Tapi untuk berapa lama? Kehidupan memang jurang dan bukit. Pada filosofi apapun, dualisme itu tetap dipakai. Seperti kau hanya berputar-putar saja mengelilingi semesta. Padahal memang itu poinnya. Nah, baiknya kukatakan rahasia kecil tentang hal-hal. Apapun. Kau boleh bersemangat akan apapun. Namun selalu ingatlah bahwa semuanya tidak bertahan lama. Kenyataan bahwa semua bisa berakhir akan membuatmu mensyukuri segala momen yang terjadi. Merayakan segala rasa pada tepat waktu itu. Karena setelah ia beranjak dari waktunya, tidak ada lagi repetisi. Atau ada, namun berbeda. Praktis saat itu hanya ada pada saat itu saja.

Jadi apa itu Februari? Menurutku dia adalah pelunasan akan hal-hal yang tertunda. Resume atas hal-hal yang berhenti sejenak. Petualangan baru yang lama. Kejatuhan musim dan pengulangan praksis akan ide-ide. Jalan menanjak dan garis start untuk bulan-bulan terkembang. Februari tak akan jadi apa-apa, kecuali kau mengisinya dengan makna… Dan keinginan untuk menjadi ada

LifE, log

Memudar

Aku terbangun dengan perasaan yang tak menentu. Rasanya lebih baik bangun agak telat dan langsung dijejali kewajiban (ibadah), ketimbang bangun terlalu awal dan berfikir tiba-tiba. Maksudku, kontemplasi memang menarik, tapi bukan selepas tidur. Hal-hal terjadi begitu cepat dan aku kekurangan cengkraman untuk tetap waras. Aneh dan ganjil, aku terbangun dengan pikiran kosong dan memikirkan hal setengah-setengah. Seperti tv lama yang pada dini hari tak ada siaran, otakku seperti tv kesemutan. Berisik tanpa arti.

Beberapa hal terjadi begitu cepat. Beberapa lainnya memilih berjalan santai. Ditengah-tengahnya ada hal yang menggantung lama, dan akan tetap begitu terus sampai ada yang berkata sudah. Sepertinya aku sudah harus berhenti membikin banyak janji yang tak bisa kutepati. Atau banyak berjanji dengan kualitas pelunasan yang ala kadarnya. Atau melaksanakan semua janji, namun merasa kosong diakhir hari. Semuanya bukan pilihan yang bagus. Semuanya hanya percikan endorphin sementara yang habis kala masanya. Sepertinya aku akan mengingat potongan kalimat ini, yang entah kuambil dari mana. “Kau tak bisa menyenangkan semua orang.”

Sepertinya aku telah berada disekitar orang-orang terlalu lama. Iyakah? Rasanya melelahkan. Namun kuyakin-yakinkan diriku, itu lebih baik ketimbang tak bertemu sama sekali. Melelahkan, setiap reset hari harus mengulanginya. Tapi, hei! Seribu kali lebih baik bertemu satu kali lalu hilang selamanya, daripada tak bertemu sekalipun. ‘Kualitas bertemu’ itu menjadi semacam ingatan pengalaman yang menarik untuk diulang.

Bagaimanapun juga, aku tetap mencari gambaran besar dari potongan kecil yang berserakan

puisi

Seribu

seperti pagi yang tak meminta untuk datang
seperti pagi yang tak selalu cerah
seperti pagi, ingatanmu kupetakan lembut
seperti pagi, penanda awal hari

kuingin mencicip segala rasa
jika kelahiran kembali adalah pasti
maka kupinta pada semesta
aku ingin lahir di seribu semesta berbeda
pada seribu kurun berbeda

kucari cetak biru mu dalam seribu semesta berbeda
dalam seribu kurun berbeda
kuulang-ulang seribu kali
kuingat dalam seribu kali penciptaan

jika semesta berbeda, benar adanya
kucari pagi mu pada seribu pagi
pada seribu semesta berbeda
pada setiap seribu simpul yang mungkin

seperti pagi yang tak selamanya cerah
begitu pun setiap keinginan dan perjumpaan
tapi, bulan

Aku telah membuat pilihan

LifE, log

Berlalu

Musim pindah dan berlalu. Menghilang untuk kembali bersemi. Pada tiap-tiap siklus, ku petakan kembali setiap senyum dan kepalan tangan yang teringat. Untuk setiap kerja keras dan kerja rodi tanpa imbalan yang sepadan. Setiap janji dan nirjanji. Lautan dan parit.

Selalu mudah memetakan masa lalu. Selalu sulit berpaling dari luka. Tapi masa lalu atau luka, bukan hal yang seharusnya dilupakan. Semesta mencatat dan kepalamu merekam. Maka pada saat ini lantanglah berkata. Biarkan kau tegak diatas barisan luka.

Karena, kawan. Selalu mudah untuk berpaling. Selalu mudah berkata “tidak”. Dan memalingkan muka untuk melangkah jauh lebih mudah. Hanya perlu peta. Hanya butuh keinginan. Hanya butuh tujuan. Setiap lembah, setiap bukit, setiap gunung menjadi tujuan. Apapun tujuanmu, selalu ingat bahwa tujuan terakhir adalah rumah.

Ada cinta disana. Biarkan dia berkembang. Biarkan layarnya tegak. Biarkan dia berjalan pada luka nya sendiri. Cinta tidak pernah butuh alasan untuk ada. Cinta terlalu mandiri. Dia tidak butuh pengawasan konyolmu. Menemukannya bukan tujuan. Bukan juga pilihan. Seperti sifatmu sebelum lahir, dia selalu berada dalam ruangan khusus dalam hatimu.

Marilah selesai untuk malam ini. Kau bisa terus berlalu. Lupa dan melupakan. Pergi saja. Cari semestamu sendiri. Percayalah, dalam relung-relung debu kosmis, selalu ada cinta yang bersemayam dalam segala hal.

LifE, log

Teruntuk

Aku melihat suka duka dalam perjalanan hidupku. Silih berganti bagai siang malam. Jurang dan bukit. Bumi dan langit. Berganti ganti seperti baju atau musim setiap musim. Gelora jiwa yang menyenangkan namun juga menjemukan.

Aku menemukan diriku dalam keramaian, hanyut dan tercerahkan didalamnya. Aku juga menemukan diriku larut dalam keheningan atas kebutuhan menyendiri. Oasis dahaga mahakini yang selalu kubutuhkan tiap malam.

Aku memandang tiap hiperbola senyuman pada tiap senja, kekal pada kalanya. Terpetakan dengan baik dan terartikulasi dengan apik pada waktu-waktu yang kusediakan. Aku juga melihat jalan pulang dengan lampu temaram menjadi hidangan sejuk bagi jiwa yang mendamba hikmat dari sepi.

Karena pada apapun keadaannya, waktu adalah waktu itu sendiri. Tak ada masa depan atau masa lalu. Atau ada yang didamba dan disesalkan. Hanya ada kini dan kini saja. Masa lalu adalah untuk diingat, dan masa depan adalah untuk diharap. Tapi kamu pasti dan selalu ada pada kini. Kini dan hanya kini saja. Membuatnya menjadi ada dan bermakna adalah tujuanmu.

Pada akhirnya semua akan hilang dan tertelan waktu yang tidak menunggu. Suka duka cita dan lara mu pun tak juga kekal adanya. Bagimu pengelana jiwa, pencari kebijaksanaan tinggi pada waktu larut dan bisikan serangga. Pencari hikmat pada malam dan sisa-sisa kopi pada cangkir gelas kaca. Padamu wahai pengelana segala rasa. Peracik mimpi-mimpi yang terlupa dan sengaja dilupa.

Teruntuk engkau yang berbicara dalam bisu. Yang merapal dan mencecar cetak biru cara hidup yang dianggap baik. Padamu wahai seperangkat peralatan keras biologis, dengan ruh sistem operasi perancang peradaban.

Padamu yang selalu berdialektika namun hilang ditelan tuntutan kerja dan cicilan bulanan. Untukmu muara tanda tanya dan serpihan keagungan random pada saat melaju dengan motor.

Untukmu yang selalu dikebiri rindu namun tak merindu untuk alasan yang kelabu. Pada kamu sewaktu malam berbisik terlalu keras sehingga memilih untuk menulis daripada tertidur. Buatmu sang penulis kejadian takdir, dan menyerah pada takdir saat tulisanmu selesai.

Untukmu cetak biruku, yang selalu datang saat dunia kuanggap sedang baik-baik saja…

Dunia sedang tidak enak badan.

LifE, log

Log januari

Januari hujan terus, pulau kecil ini lama kelamaan bisa terendam (ngawur). Sebenarnya banyak hal bisa dikerjakan dibulan ini. Namun “sihir” hujan tiap hari dan tiap sore membikin badan keenakan untuk kemulan terus di ranjang bareng doi haha.

Apa yang menarik? Beberapa Kawan SMA yg memang dekat membuat semacam cult pengepul info dan apapun yang menarik. Ngumpul di gawai, kadang warung kopi, kadang dimanapun. Semakin malam, dialektika semakin nampak. Setelah bertahun-tahun meninggalkan komunitas parkour, baru sekarang saya mengingat kembali asyiknya berserikat dan bertukar pikir.

Beberapa kawan juga berprogress besar, senang melihatnya. Beberapa kabar terlihat sangat baik. Beberapa impian jadi nyata. Beberapa hal berjalan tak semestinya.

Masih menunggu musim berganti untuk mengumpulkan botol. Mengarungi muara ….