Uncategorized

Equinox

Seorang pertapa memandang serius, apa yang didepannya disebut dengan punden. Dilihatnya lama-lama sambil menghela nafas. Matanya berputar putar, berfikir. Pikirnya dia bisa linuwih malam ini, dengan merapal beberapa mantra kuno dan sajen kesukaan mbah petruk, yang diyakini bersemayam disini. Dia melihat dengan sayu, seakan putus doanya. Dipikirnya, “apakah sesuatu harus berulang?” dan titik balik apakah yang berada dibelakangnya? Pertapa bosan kalau harus merapal lagi mantra yang sama, punden tak juga keluar tuahnya. “Mungkin saja kamu buang waktu, atau jalan itu memutar tak disini”.

Dalam waktu beberapa lolongan anjing kampung, pertapa makin gelisah saja. Lama lama diseruput juga kopi yang disuguhkan untuk mbah petruk. Masa bodoh kalau sudah haus, perihal catut sajen jadi hal lumrah. Pertapa kembali merenung. apakah jalan ini benar adanya, dan berbalik dibenarkan untuk melangkah. Apakah celaku selalu disini, bersama ketiadaan untuk ada dan menjadi kelu dalam lidah disetiap ujarku?

Pertapa bosan, mengambil langkah berani: memutar arah. Melangkah mundur. Dia yakin kesalahan adalah mutlak diperbaiki. Waktunya terserah niskala. Punden ini hanya batuan yang dimaknai saja. Pertapa bangkit, meninggalkan sajen dan mantranya, memutar arah, berbalik mundur.

Merancang kekuatan dan menentukan langkah lagi.

Dia ingat saat itu titik balik matahari

Uncategorized

Lewat batas waktu

Target bisa diartikan sebagai tujuan. Atau akhir. Atau bisa juga sebagai perhentian sementara. Seberapa pentingkah target? Luar biasa penting. Tapi disisi lain target juga tidak begitu penting. Mengapa harus ngotot bahwa hal itu harus selesai besok? Atau bulan depan? Atau tahun depan? Jawabannya sangat sederhana: karena satu-satunya alat tukar manusia -dan seluruh semesta- adalah waktu. Waktu yang menentukan baik tidaknya pekerjaan seseorang. Menetapkan dengan bijak dan menimbang dengan teliti seluruh tumpah ruah pekerjaan manusia. Dia seperti hakim agung nan bijak bestari, yang menggenggam seluruh urusan dan keputusan, untuk diakhir tenggat dibacakan dakwaannya. Maka disanalah target tercipta untuk pertama kalinya. Karena sedari dulu waktu memang tak pernah sudi menunggu, karena semakin lama timbangan akan semakin jauh dari adil.

Target membedakan kau dan aku. Dia dan mereka. Mengkotak-kotakkan manusia dalam ring tinju paling adil sejak penciptaan: perseteruan dengan dirimu sendiri, dan seperti biasa, waktu adalah jurinya. Target adalah cermin segala harapan dan segala jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang terlintas sore lalu, kala tidur, kala berbaring, dan sewaktu senja. Membantu kita mendaki gunung pribadi kita sendiri, dan untuk pertama kalinya membawa kita kedalam pesan pesan otokritik akan pencerahan dan pengetahuan yang eksponensial. Target adalah muara segala harapan, lidah matahari, dan nebula kepercayaan yang dibangun atas dasar dasar rasional dan irasional sekaligus. Memberikan manusia tujuan yang jelas lagi terukur tentang apapun, tentang apapun.

Tapi target juga ditakdirkan untuk meleset. Gagal dan dilupakan. Melupakannya biasa saja. Namun mengingatnya saat waktu telah membacakan buku dakwaan bisa membuat gejala serius, seperti gangguan cerebral misalnya. Itu wajar karena simpelnya kita telah menghabiskan catatan di buku Sang Juri tanpa adanya skor yang jelas di papan.

Maka kuwasiatkan kepadamu, untuk berhati hati mengarungi nova tanpa tali kekang yang kuat, dan tanpa peta atau dongeng cerita yang samar untuk tidak berlayar. Ingatlah bahwa target harus terukur dan tidak harus rasional. Ingatlah bahwa waktu tak pernah sudi menukar catatannya dengan kebodohanmu. Ingatlah bahwa bata selamanya menjadi bata, sampai kau memulai untuk membuat naunganmu sendiri.

Uncategorized

Tribute to hujan di mimpi

Bisakah kau ceritakan padaku
Perihal gundah, atau resah saat pagi
Atau mangkuk kosong diujung meja
Yang menunggu terisi
Bukankah pagi adalah pengaruh suci dari pusat kosmis?

Dan ingatkah kau saat kau berkata,
Bahwa hujan dimiliki tanpa bertanya
Petir terdengar tanpa deritanya
Angin berhembus tanpa akarnya

Kesunyian itu anugerah

Sepi itu indah

Percayalah

Uncategorized

Tembok

Tembok itu berdiri megah;
Kokoh, kuat berbatu karang
Tiang pancangnya didirikan;
Kuat, untuk dipercaya
Menahan berbagai badai
Didalamnya tinggal manusia manusia pikun
Pelupa dan penakut
Sekaligus sombong
Katanya,
Tembok ini akan menahan kita sampai kiamat!
Tapi tak perlu menunggu sampai kiamat
Tembok itu runtuh malam itu juga
Karena yang jaga lupa
Diperdaya angin badai dan kawan kawan
Paginya tembok dibikin lagi
Tetap kuat, kokoh seperti adanya
Tapi manusia memang sifat azalinya;
Pelupa dan pikun
Lumpuh dan buta hatinya
Maka malamnya tembok runtuh lagi

Begitulah, kawanku, perihal tembok tinggi, kuat dan gagah
Yang hancur dimalam harinya
Dan diperbarui pagi harinya
Terus begitu setiap hari…

Semoga saja tidak

Uncategorized

di mekkah

disini, di hotel
aku, bapak, ibu, dan abangku
tengah tertidur
bapak dan ibu beradu dengkur
tinggi, dan rendah
ah, kasihan… mereka sudah tua
tiap hari berjalan lima waktu ke rumah Mu
dari hotel ke tempat Mu, mungkin ada 1 kilometer

dan kaki mereka sudah renta
namun semangat mereka tetap ada
menyusul ke rumah Mu, Wahai muara segala sesuatu
tertambat hatinya, rela berlama lama
walau asam urat dan keseleo jadi kawan

tak apa
itulah harga yang harus dibayar seorang hamba
demi menjadi tamu Mu,
Wahai penghapus segala keluh kesah

dan abang juga mendengkur
lelah mencari oleh-oleh
juga beribadah, tentunya
dengkurnya keras, tanda lelah

aku pun disini, dengan takzim meminta
Wahai Yang memudahkan segala urusan,
urusanku banyak, maka mudahkanlah
dan utangku banyak, maka lunasilah
dan usahaku mangkrak, maka jalankanlah
dan pintaku banyak, maka penuhilah

tapi ada dua pinta saja yang utama, Wahai Sang pemegang hidup kami semua,
pertama, kasihanilah kedua orang tua hamba
kedua, bahagiakan hamba dunia dan akhirat

ya, malam ini di tanah yang Engkau sucikan dan makmurkan
aku berdoa, meminta
diantara dengkuran bapak, ibu dan abangku

Al Misfalah, Al Makkah Al Mukarronah, 1/1/15

Uncategorized

keheningan

keheningan menjalar seperti akar
dan merambat bagai selasar;
semesta, yang meluas tanpa batas pagar
yang menari-nari dalam quasar;
atom dan kuark
disudut gelap penciptaan yang terserak
atau terangkat bagi kerak-kerak
yang mati, bagai pukulan telak
dari sabda alam kosmis yang menyalak

bagai bangkai liar tanpa arah
udara gelap sunyi yang memerah
bagai darah,
tertimbun rasa bersalah

keheningan dalam dimensi, bagaikan menipu diri sendiri. karena dalam dimensi, tak ada kata berhenti. keheningan sejati ada pada gravitasi. yang kuat, bahkan menghentikan waktu itu sendiri