Uncategorized

Log mei

Ah, Mei berakhir lama tanpa satu kata pun yang aku tuliskan. Bodoh.

Mengapa?

Rekor penjualan kupecahkan bulan ini

Iklan
Uncategorized

ah

ah
keinginan yang banyak
banyak inginnya
laiknya rumput liar

ah
kucing-kucing mengeong manja
atau mengeong lapar
selalu tiap pagi

ah
kerja-kerja-kerja
kera-kera-kera
hakim darwin majelis hidup

ah
flu, encok, pegal
kerokan dan herbal cina
janji esok sehat

ah
diam lalu diam
berak lalu berak
berganti hari berganti pikir

ah
lorong waktu
dicat gelap tapi padang
tanda bahaya mengancam

ah
impian
selalu datang
dan pergi seenaknya

seenak udelmu

Uncategorized

Tangan

Kupinjam sebentar saja lelahmu
Kuicip sekenanya
Daun-daun jatuh dari ranting yang lesu
Seperti lesu harimu
Dan pada masanya tiba;
Kupijat lembut bahumu
kucari letak salahnya
Kulihat rapat-rapat lipatan kulitmu

Dan kulihat,
Tangan yang menuntunku
Pada puncak semesta infiniti
Dan nebula tinggi tanpa tiang

Uncategorized

Log april

Ada banyak yang ingin kutuliskan tentang April. Tapi hidupku datar begitu-begitu saja. Aku bukan seorang diri dengan kewajiban untuk memenuhi sandang pangan mereka yang menjadi tanggungan. Aku bukan seorang diri yang diserahi nasib memikul beban dunia. Aku juga bukan satu-satunya orang yang paling sengsara. Ekspektasi hidup yang datar bukanlah hal azali yang memang ditentukan. Seringkali, ia hanyalah tafsiran dangkal yang kuperbarui setiap hari.

Aku benci kehilangan uang untuk alasan praksis. Aku lebih benci kehilangan uang secepat kehilangan motor. Aku benci segala kebohongan sistemik yang ketahuan belangnya.

Arah baru dalam bekerja. Namun apa itu kerja dan seberapa penting nominal uang, adalah pekerjaan sulit tapi gampang. Mengapa imbalan dari bekerja adalah uang dan bukan pahala. Mengapa?

Kesenangan begitu sesaat, saking sesaatnya aku bisa menghitungnya sendiri. Kadang tak bisa dinominalkan begitu saja, kadang kuanggap saja tak bernilai saking berharganya. Kesenangan seperti rokok. Cepat habis, pahit, dan dinanti lagi. Satu lagi, berbahaya.

April adalah bahan tertawaan Tuhan atas diriku yang tak bisa mengontrol diri

Uncategorized

Beban

kita semua punya beban

ayah dan pak dirman punya beban
ibu dan mok kawiyan punya beban
paman dan sosrodilogo punga beban
aku dan kau berbagi beban

saban hari kuatur-atur beban itu
kuatur menurut abjad, atau tingkat kesulitannya
kupilah sesuai kepelikannya
dan kuingat-ingat sebabnya

namun, Gusti
beban cuma jadi beban
atau jadi omongan dan kentut
atau janji politikus
maknanya tetap disana

dalam ketakutan akan esok yang tak tentu

Uncategorized

Hari itu sekonyong gempa

hari itu sekonyong gempa di dusun kami
atap kantor dusun yang sudah jelek, roboh
hari itu orang-orang berbisik
tentang kantor dusun yang roboh

pak kadus berkata, bantuan akan segera datang!
orang-orang berbisik
bukan karena kasihan
bukan karena panik

wagir, si pedagang pecah belah nekat bertanya
anu, pak. bukan masalah itu kami disini
pak kadus berkata, tenang! kantor dusun akan direnovasi!

orang-orang berkumpul bukan untuk meratapi kantor roboh
tapi untuk mengambil uang subsidi
tapi untuk mengambil ektp
yang tak jadi dan dikurangi

mungkin oleh pak kadus sendiri

Uncategorized

Para bandit hujan

Rintik selalu jadi rintik. Melambai pilu dalam vibrasi yang akustik. Saat-saat panas atau hujan, Semenjana dirimu mengejawantah. Bandit harapan dalam kuah tanpa tuah. Terpana melihat bayang nirwana? Kamu? Ah, bahkan kau tak pernah melihat penghakiman berlangsung. Kamilah. Kami yang melihatnya. Kami bandit bandit tanpa asuransi rakit. Tak perlu menyeberang Valhalla berhala. Kami bisa langsung naik atau turba. Bisa langsung menghadap Gusti atau diam dulu didepan arca.

Bandit hujan namanya. Gelora bayang yang diam-diam datang, tak merasa hadir namun mendikte titik nadir. Perasaan aneh ketika hujan turun romantis. Atau ketika menahan kentut pun jadi asketis. Dorman dan profan dalam ketakutan adi alami. Dorsal dalam kapal kesadaran nisbi. Potongan igauan sore, pagi. Kesulitan hormonal yang datang pagi, sore.

Para bandit melukis diatas suka duka kebodohan sistemik. Mengencingi monumen aneh waktu yang hermaprodit. Dan pada suatu waktu, turut serta merancang apologi langit pada pagi buta. Bandit hujan memang kurang ajar. Ajarnya Budi namun badung. Kelakarnya keras menindas. Cadas.

Pada cerah, bandit kembali tobat. Meratapi petrichor kenyataan tanpa fiksi, dan berjalan nafsi nafsi. Gawat.