Uncategorized

Percikan

Kalau 2020 adalah wanita
Maka ia adalah wanita cantik
Dengan banyak muslihat

Hey tapi
Bukankah kita semua demikian?
Bermain dalam muslihat

Diam saja, agar kau tau pertanyaannya
Bukankah semua ide tentang kehidupan
Adalah rentetan tembakan serampangan?

2020 adalah percikan
Dalam ruang mesin hampir gagal
Tiap bulannya
Adalah usaha mengubah percik jadi pembakaran

Tapi 2020 memang seperti wanita cantik penuh muslihat
Yang kau ketahui ekor dan kepalanya
Namun kau dengar sadar terbuai

Berulang kali

Uncategorized

Radio Daring

Kubiarkan radio daring menyala
Suaranya kemana-mana
Persis pikiranku
Kala ini, yang menolak layu

Satu, dua keinginan
Tak jadi, tak apa
Toh satu
Lebih baik dari semua angka didunia

Kurapikan remah-remah
Petisi yang hilang, hikayat yang kosong
Lembar-lembar polos
Hari-hari hilang tanpa bekas

Kubiarkan radio daring menyala
Karena dunia tak hilang jam 11
Kita tetap satu kasur
Dengan keriput dan selisih paham

Uncategorized

Tak ada jalan berbelok

Mari terima takdirmu
Kita diatur hukum-hukum tak kasat mata
Setiap hutan dan gunung
Jalan setapak dan pasar

Mari nikmati laranya
Betapa remehnya kamu
Remah dalam mesin maharaksasa
Begitu tidak penting

Mari terima kekalahan
Bersahabat dengan luka dan duka
Bermain dengan sepi
Akur dengan kesalahan

Mari pahami ini:
Sekuat tenaga engkau mencari hikmat
Tetap saja;
Kau tetap diatur dalam hukum halus

Tak pernah bisa keluar

Uncategorized

Ada aku siang ini

Ada aku siang ini
Mondar mandir
Ada pinta yang diam diam dikubur
Siang ini aku mondar mandir

Ada aku siang ini
Dan berbaris baris pula
Antrean mereka, mereka
Siang ini aku tak ikut berbaris

Ada aku siang ini
Tergilas suasana
Sepi dan ramai apa bedanya
Kau aku makan sama nasi

Ada aku
Masih di siang ini
Dengan dunia yang masih berputar
Dan bermacam ketentuan tanpa jeda

Ada aku siang ini
Dan kamu. Dia. Mereka
Yang menghamba pada putaran
Dan makanan harian, mingguan, bulanan

Uncategorized

11 tahun

Pada senyap gulita
Selesainya buku harian
Usai komplain dan berenang
Renungku keluar malam-malam

Sebelas tahun lalu
Kota itu
Rumah kedua ku
Yang tak pernah kusesali

Lalapan di tiap perempatan
Warung makan di gang kampus
Bakso dua ribuan
Dan teman komunitas

Seperti masih kuingat baunya
Sego goreng di galunggung
Mie mek di SMA 2
Lalapan di jalan surabaya
Dan pentol depan Matos

Ah aku suka segala sudutnya
Kuhafal setiap gang nya
Kukuasai setiap terabasannya
Kuingat senjanya

Kadang di Rampal
Kadang di Unmuh
Kadang di Poltek

Hujannya awet sepanjang hari
Referensi makan malam tak berujung
Tiap minggu ke coban
Setiap hari bertemu

Kawan, dosen, kawan, kamu, mereka

Hidupku saat itu
Sesal tak pernah tertulis dalam kamusku
Selalu, karena selalu
Malang adalah rumah kedua ku
Uncategorized

Tentang hujan

Kita memang berbincang tepat
Sisa hujan di jalan gelap
Satu dua premis
Puluhan simpul magis

Nun juga di jalan itu
Rintik jatuh juga
Termakan angin dari pasifik
Tersorot lampu jalanan

Satu, tiga, lima tahun
Musim hujan datang dan pergi
Episode berbeda, dengan kita yang masih sama
Bertambah kerutan dan berat badan

Tiap-tiap hujan ada jalannya
Tiap bincang ada kenangannya
Tentang hujan deras
Dan engkau yang menangis, atau tertidur di pundakku

Rintik juga tetap turun
Angin terus bertiup
Kemana saja tak usah kau pikirkan
Karena arah memang tanpa marka

Hujan tetap datang dan pergi
Tapi kamu, aku, tetap disini
Satu dua premis
Puluhan kemungkinan jalan

Demi keabadian


Just for you, shurim
1120

Uncategorized

Menjadi sadar

Menjadi manusia
Berarti menjadi sadar
Menjadi sadar
Berarti memilih
Hidup memang memilih
Tanpa sekat tanpa marka
Haluan dan buritan

Menjadi sadar
Berarti mengarungi pilihan
Tanpa timbangan dan kompas
Labirin inersia

Menjadi sadar
Berarti masuk dalam ruangan infinity
Ruang ruang superposisi
Pilihan berujung multiverse

Tapi benarkah?
Menjadi sadar
Adalah kebenaran superposisi
Ataukah
Timbangan dan kompas moral kolektif
Neo korteks kita?