Uncategorized

29 july

Seperti kamu yang berjalan pada kelamnya malam
Desir-desir angin meniup rambutmu
Pada senyap, saat serangga berbisik perlahan
Saat mesin semesta terdengar melambat

Ah, kamu memang penulis takdir
Terbang sana sini membuang cerita
Menulis ulang kisah kisah dan sastra
Melantunkan lagu sendu, dan rindu

Ah, kamu memang tercipta untuk mencipta
Daun daun tetap jatuh dan rasa itu tetap ada
Kisahmu tetap disana tak hilang lekang, tak kemana mana jua
Daun jatuh ke sungai, hanyut ke muara

Engkau memang warna yang beragam
Pelangi tanpa batasan warna
Apapun, apapun warnamu pada pagi dan senja
Aku menikmati setiap kisahmu

Dalam ada, maupun dalam rindu

Iklan
Uncategorized

Argumen 20

Setelah lama kupikirkan,
Ternyata aku tak menyentuh kubah semesta.
Mendekatinya pun tidak.

Dalam semangat untuk memaknai hidup diluar ide profetik,
Aku menemukan kesenangan.
Tapi tidak ketenangan.

Dalam upaya menyelami semesta pikiran tak berujung,
Aku tersesat dalam rima-rima dangkal.
Dalam kamar-kamar pengap kepunyaan filsuf jaman now.

Setelah narasi tentang pentingnya posesivitas tangible,
Tak kutemukan rohnya dimanapun gaungnya.
Hanya problem tentang utilitas.

Dan pada bangunan tak wujud dari kuil manusia,
Aku hanya menemukan cita-cita yang terbang jadi dandelion malam.
Aku hanya melihat narsistik berbisik-bisik.

Mungkin memang sosok divine campur tangan dalam proses sapienis

Uncategorized

18 july

pada hari ditutup
mata mengantuk
hiruk pikuk
pasar tapi senyap
kamar tapi pengap
tidur namun hangat

hanyalah tentang hal dangkal
dan ketepian ketepian
dimana berlabuh tiap hari sial
dimana singgah tiap tiupan aral
kosmis menjalar
tanpa pengampu di selasar

bagi kedangkalan
bagi tepian pheripheri

bagi repetisi bernilai namun kering hikmat

Uncategorized

ah

ah
keinginan yang banyak
banyak inginnya
laiknya rumput liar

ah
kucing-kucing mengeong manja
atau mengeong lapar
selalu tiap pagi

ah
kerja-kerja-kerja
kera-kera-kera
hakim darwin majelis hidup

ah
flu, encok, pegal
kerokan dan herbal cina
janji esok sehat

ah
diam lalu diam
berak lalu berak
berganti hari berganti pikir

ah
lorong waktu
dicat gelap tapi padang
tanda bahaya mengancam

ah
impian
selalu datang
dan pergi seenaknya

seenak udelmu

Uncategorized

Tangan

Kupinjam sebentar saja lelahmu
Kuicip sekenanya
Daun-daun jatuh dari ranting yang lesu
Seperti lesu harimu
Dan pada masanya tiba;
Kupijat lembut bahumu
kucari letak salahnya
Kulihat rapat-rapat lipatan kulitmu

Dan kulihat,
Tangan yang menuntunku
Pada puncak semesta infiniti
Dan nebula tinggi tanpa tiang

Uncategorized

Log april

Ada banyak yang ingin kutuliskan tentang April. Tapi hidupku datar begitu-begitu saja. Aku bukan seorang diri dengan kewajiban untuk memenuhi sandang pangan mereka yang menjadi tanggungan. Aku bukan seorang diri yang diserahi nasib memikul beban dunia. Aku juga bukan satu-satunya orang yang paling sengsara. Ekspektasi hidup yang datar bukanlah hal azali yang memang ditentukan. Seringkali, ia hanyalah tafsiran dangkal yang kuperbarui setiap hari.

Aku benci kehilangan uang untuk alasan praksis. Aku lebih benci kehilangan uang secepat kehilangan motor. Aku benci segala kebohongan sistemik yang ketahuan belangnya.

Arah baru dalam bekerja. Namun apa itu kerja dan seberapa penting nominal uang, adalah pekerjaan sulit tapi gampang. Mengapa imbalan dari bekerja adalah uang dan bukan pahala. Mengapa?

Kesenangan begitu sesaat, saking sesaatnya aku bisa menghitungnya sendiri. Kadang tak bisa dinominalkan begitu saja, kadang kuanggap saja tak bernilai saking berharganya. Kesenangan seperti rokok. Cepat habis, pahit, dan dinanti lagi. Satu lagi, berbahaya.

April adalah bahan tertawaan Tuhan atas diriku yang tak bisa mengontrol diri