Uncategorized

Hujan turun lamat-lamat

Tentang sore yang dingin itu
Ingin sekali kurebut dingin
Dari tanganmu yang menggigil
Dari gemerisik tubuhmu

Hujan jangan dulu datang, katamu
Namun hujan tak menunggu
Segera harapmu berubah
Jadi serapah

Dan pada sore sebelum malam itu
Rambutmu menghantam pusat kesadaranku
Menjulur serampangan pada pundakku
Berkuasa dengan manja

Ah, pada sore semesta memurung itu
Ingin kujabat tangan semesta
Dan kuucap terima kasih
Atas hujan yang turun lamat-lamat

Iklan
Uncategorized

Petrichor 02

Hidup kadang tak perlu terlalu kaku
Tak perlu ngotot pada target kedepan
Tak perlu lama mencari hikmat kebelakang

Cukup petrichor malam hari
Dan mimpi fana akan perjalanan
Kota-kota tanpa teman
Kopi tubruk perjalanan

Aku suka udara
Sehabis hujan kala malam
Juga keinginan
Juga ketenangan

Ah
Aku ingin makan nasi goreng

Uncategorized

Mengapa tidak?

Mengapa tidak berhenti saja di sini?
Jauh berlari, kau kesal juga
Sengatan matahari menerpa rambutmu
Yang kuingat betul wanginya

Mengapa tidak berhenti saja di sini?
Jangan terlampau jauh, sayang
Kaki-kakimu kuat, namun kecil
Aku takut jempolmu terkena batu

Mengapa tidak berhenti saja di sini?
Pada waktu ini, tempat ini
Pada semua terasa baik-baik saja
Pada semua labirin yang kukenal semua cabangnya

Mengapa tidak berhenti saja di sini?
Untuk hal-hal yang terlampau jauh dikejar
Mimpi-mimpi kecil kita
Dan ribuan argumen dangkal saban hari

Ah, aku lupa
Tujuan kita sama-sama masih jauh

Uncategorized

19.49 malam

Untuk kesukaran dalam memikirkan hidup
Untuk malam-malam bodoh,
Yang kuhabiskan dalam gelas kaca
Beserta topik yang bias

Untuk jalan-jalan malam tanpa hikmat
Hanya perpanjangan tangan pencari nikmat
Lesu, lemas tanpa arti yang jelas
Berakhir tanpa apapun yang pantas

Untuk hari-hari kelam tanpa repetensi
Atau keengganan menengguk fiksi
Ribuan jalan baru yang terbuka
Jutaan kemungkinan yang ada

Ternyata susah, jadi makhluk yang berfikir

Uncategorized

Titip menitip

Kutitipkan salam
Pada angin, dan membawanya
Pada celah-celah daun
Daun jatuh terbawa ngarai

Daun menitipkan jatuhnya
Pada sungai, dan menghanyutkannya
Pada liuk-liuk hulu
Terbawa sampai hilir

Hilir menitipkan airnya
Pada muara, dan menghamparkannya
Pada derasnya samudera
Tergulung ombak ketepian

Salam ku tercerai-berai
Pada daun, sungai, dan samudera
Sedangkan engkau… Engkau
Muara semestaku

Yang tetap disana
Sistem bintang ganda, dan nova-nova
Galaksi berkilau dan radiasi
Pleiades muda dan betelgeuse

Kemana engkau menitipkan salam?

Uncategorized

Vana

Kita memang fana
Tapi abadi, hanya ada di pikiran manusia
Kita memang menua
Tapi awet muda, kita juga yang menciptakan
Kita memang mati
Menjadi debu
Berserakan

Namun entah apa yang mengusiknya,
Kita selalu mencari cara kesana

Kemana?

Keabadian


We always love you

Uncategorized

Tentang musim

Aku tahu kala hujan turun
Pikiranku bermain-main dengan rintik gemerisik
Aku tahu kala angin kering
Peluh memanjat menjadi semangat
Masa-masa berubah
Menjadi angin lalu hujan lalu terik
Musim-musim berganti
Musim hujan, telur lilit, atau gempa
Apapun tentang apapun diluar sana
Apapun kau menyebutnya
Muara musim adalah repetisi dari hikmah-hikmah
Perjudian mutakhir untuk harapan-harapan
Dan kemanapun muara musim, atau muara apapun berlabuh…
Setiap kata, berubah
Menjadi ada
Menjadi kekal
Menjadi sejati
Pada waktunya