LifE, log

Rigel

Rigel terkekeh. Raut mukanya nampak jelas, seperti sungai dengan banyak cabang dan berakhir di senyum lugasnya. “segala sesuatu tak harus sesuai kelihatannya”, ucapnya pendek. Aku menerka-nerka walaupun kelihatannya mudah dicerna. Segala sesuatu memang tak pernah sesuai dengan apa yang terlihat. Orang-orang memberikan alasan atas berbagai hal yang mereka lihat. Setidaknya aku berfikir demikian. “sebenarnya tidak ada alasan. Hanya tafsir-tafsir individual”, Rigel berucap lagi. Kali ini kedengarannya seperti dosen filsafat ilmu. Tapi aku menangkapnya dengan baik. Sesuatu memang disitu pada mulanya, apapun itu. Sampai kita menafsirkannya demikian. Sebelum itu sesuatu tak tentu kelihatannya. Superposisi.

Rigel membetulkan cara duduknya. Aneh sekali karena dia selalu terperosot dari kursi kesukaannya. Kuil ini tidaklah besar baginya, namun dia suka sekali kuil ini. Manusia memang hebat, dia selalu berfikir demikian. Rigel menggaruk-garuk lehernya yang sepertinya tidak gatal. Lebih kepada ungkapan apa lagi yang harus kuberitahu kepada bocah ini?  Dengan sekali kedipan mata sekarang dia berdiri. Lalu duduk lagi. Rigel memang begitu. Aku selalu menganggap dia dewa yang paling kikuk di parthenon ini. “Kau mengerti tempatmu sekarang?” ah, pertanyaan apa itu. Jawabannya pasti bukan seperti kelihatannya.  Aku tahu tengah berada di kuil Rigel sendiri. Pada hamparan debu kosmis luas tanpa tepi. Aku tahu bahwa aku makhluk fana yang cukup beruntung dapat kemari. Aku tahu posisiku lemah sekali. Namun aku tahu bukan semua itu yang Rigel inginkan. Jawaban itu terlalu statis dan menggantung pada akarnya. Mungkin dia mencoba meluaskan cakrawalaku.

“Dimana kau pada detik pertama penciptaan?” aku sedikit menyipitkan mata tanda berfikir. Jelas jawabannya bahwa aku tidak tahu. Apakah aku rencananya Nya sejak awal? Ataukah aku hanya potongan rantai yang berniat tercipta setelah ledakan sebab akibat berkongsi, membentuk jalinan posisi kosmis? Maksudku, apakah penciptaanku semula jadi, ataukah hasil kompromi dari triliunan opsi perjalanan? Sampai disini jawaban jadi semakin panjang. Rigel tetap pada kursinya dengan tangan terkepal pada sandarannya. Sepertinya dia ingin aku mengolah ide-ide itu. Menemukan suar dan anak sungai diriku sendiri. Membuatku paham posisiku dalam skema luas Pencipta. Aku ingin menjawab bahwa aku ada dalam rencana maha besar Sang Pencipta. Namun kelihatannya naif sekali. Membayangkannya sekali saja sudah membuatku tersadar bahwa bukan itu alasannya. Sulit kumengerti bahwa Pencipta spesifik menempatkanku ditempat ini untuk tujuan ini sekarang juga. Jikalau begitu, pastilah aku hanya bidak kecil dalam rencana Maha Luas Nya. Aku merasa kecil dan tak berarti. Tapi apakah benar itu jawabannya?

“Apakah benar seperti itu?” Rigel dengan presisi menebak isi otakku. Dewa yang satu ini memang terlalu suka melempar pertanyaan daripada menjawab dan menjelaskannya. Tapi perkataannya tadi seketika menjadi pertanyaanku. Bagaimana jika aku salah dan aku adalah rencana besar Nya?

Tapi apa alasannya?

Rigel selalu bilang segala sesuatu berjalan karena alasan. Begitupun pikiranku, atau daun jatuh, atau rasa jatuh cinta. Segala sesuatu memang berjalan karena alasan. Baik di dunia fana maupun di panggung besar kosmis. Alasan itu membuat kita terbangun setiap pagi, menjalankan seluruh kode-kode dan format apapun dalam tafsiran individual kita. Namun bagaimana aku mengetahui bahwa alasan ini, alasan yang sangat spesifik ini, adalah alasan spesial karena merupakan sisa-sisa penciptaan yang tercecer? Bagian dan rencana agung?

Aku berhenti mencari tujuan sejak aku menemukan alasan. Tujuan mengangkatmu dari titk satu ke titik lain. Namun alasan mengantarmu pada situasi yang lebih pelik dan dalam, sebuah kesempatan untuk mengintip kedalam kode sumber Sang Pencipta itu sendiri. Mencoba mengurai perintahnya, dan membawanya kembali ke panggung fana. Alasan juga yang membuatku tahan bertahun-tahun mengerjakan pekerjaan yang itu-itu saja dan menyiksa. Alasan membuatku bangun pagi demi menjalani hari dengan pola yang sama. Terus-menerus.

Alasan itu tidak harus nampak dan terbaca jelas. Alasan itu seringkali terlihat halus bagai remahan roti, atau seperti melihat dari celah rambut kekasih. Untuk alasan yang tidak dimengerti, Alasan itu selalu tak mau menampakkan dirinya yang sejati. Aku selalu mengingkan kehidupan yang baik. Rata-rata setiap orang demikian. Namun Alasan sejati dibalik itu jauh lebih kompleks lagi.

Saat itu aku sadar, pada keadaan itulah tangan-tangan pencipta menuntunku. Pencarian alasan ini menjadi jelas, siapa yang mencari dia akan menemukan. Alasan adalah bahasa Pencipta itu sendiri. Bahasa kosmis dan keinginan akan sesuatu diluar titik 1 dan 0. Alasan adalah manifestasi tertinggi dalam kuil manusia. Akar sekaligus buah dalam pohon hierarki semesta.

Rigel terkekeh. Berulang-ulang. Tawanya memecah dinding-dinding kuil. Menantul-mantul dan hilang pada lengkung pintu. Wajahnya nampak puas. Posisi tangannya terkepal. Semuanya.“Kau telah menemukan alasanmu. Segala sesuatu memang rencana besar Pencipta. Carilah itu, maka kau akan menemukannya.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan
Uncategorized

Tuhan

Tuhan Maha Baik
dia memberiku segala kesusahan
awal, karena aku akan bangkit
Tuhan Maha Baik
dia memberiku kesulitan pelik
awal, karena aku akan berlari
Tuhan Maha Baik
dia memberi semua aral didepan
agar aku belajar bersabar

Tuhan Maha Baik
jalan hidupku memang tertulis demikian
kuubah dengan keringat tanganku sendiri

Uncategorized

Kata

kata menyeruak jadi ada
keadaanmu tetap begitu, kekal semulajadi
kasta mu tak lagi memantulkan pendar
melingkar, tak lagi mendayaguna

kata melanggar azalinya
mengganti keadaan tetap
jadi ada dan bernafas
kala kata menjelma sadis
jadi selasar dan rahim kosmik
jadi keadaan ada pada hilangnya

lalu aku merangkai kata
lalu hilang dicerna
raib tersasar rasa tak tentu
terlelap dalam relung
diantara surga, dewa dewi dan manusia

apa yang kuusahakan hilang dalam riak
gelombang kecil makna tak dalam
namun lagi datang lagi
tak habisnya sampai kata menjelma
jadi semulajadi dan igauan sengak burung beo
yang bermuka dua lagi muram

lalu kata menantang tempatnya
naik dari altar antroposentris
naik mikraj dan apotheosis
terus, terus tinggi
tinggi dalam hierarki langit
yang atasnya langit juga tanpa tiang
tanpa aku

tanpa keinginan untuk jadi ada
dan bernafas untuk tetap

Uncategorized

Bagaimana jika setiap hari malam?

Terlalu mengada-ada sebenarnya, tapi bayangkan saja. Pada sebuah dimensi lain, di sudut jauh galaksi, atau pada alur sejarah alternatif bahkan pada alur waktu alternatif. Imajinasikan bahwa dunia selalu malam. Selalu malam dan hanya malam yang berbeda. Semua sama sesuai hukum dan kodratnya. Tumbuhan tetap hidup, orang-orang tetap bekerja, dan pak Supeni tetap ngutang makan di warung. Hanya satu hal yang berbeda yaitu keadaan selalu malam, selalu gelap. Bagaimanakah?

Jangan berandai-andai dengan pijakan sains atau apapun yang logis karena kita tengah berada di dunia imajinasi. Apa yang akan kalian lakukan? Apa yang akan saya lakukan?

  • Kontemplasi akan terasa membosankan. Hari gelap adalah kawan terbaik merenung. Merenung hidup atau merenung hutang. Karena malam terasa tak bertepi, kegiatan kebatinan ini akan terasa hambar.
  • Di sisi lain, karena kontemplasi menjadi rutinitas, saya akan menjadi begawan bijak mandraguna. Menjadi eyang atau Santo bahkan bhagwan. Saya berkesempatan membuka sekte, mungkin akan diberi nama “aliran kehidupan”. Fokusnya berada pada kesadaran kosmis dan cara agar tidak tertipu investasi bodong (dapat sertifikat).
  • Karena waktu tak menentu akibat jam alami siang dan malam hilang, jadwal kerja saya pasti kocar kacir.
  • Saya jadi ketagihan menonton bintang (seperti yang sudah-sudah). Saya bisa menonton bintang kapanpun
  • Omongan tentang bagaimana seharusnya kehidupan berjalan dan dijalankan semakin memanjang. Penuh argumen dan sidang jalanan. Teori muncul tiap hari dan diperbarui keesokannya lagi. Pada kondisi biasa, saat ngopi di angkringan menjadi majelis tinggi tentang bagaimana hidup semestinya disikapi.

Seperti saya katakan diatas, kalian boleh mereka-reka bagaimana jika setiap hari malam. Bebas, karena kalian adalah tuan dalam labirin kesadaran kalian sendiri, manifestasi dari semesta, cara semesta mengetahui dirinya sendiri!

Sampai pagi dan selamat mengarungi samudra luas atas ide-ide yang tak terijabah!

Uncategorized

Gus bingung

Gus, aku bingung sore ini
bakulku tak kunjung rame
saat sama bakul sempol cak po sedang ramai
apa harus aku pindah jadi bakul sempol?

Gus, aku bingung pagi tadi
bojoku ngambek perihal sayur
perihal baju sobek dan duit utangan
sedikit-sedikit ditinjunya pundakku

Gus, hidupku terlampau berat
duit listrik ngutang di los pasar
kadang mbeling nyuri listrik tetangga
tobatku nanti saja

Gus, kadang aku berfikir
apa usahaku kurang keras
atau aku terlalu malas
membuang waktu tanpa bernafas

Gus, kutakutkan akhirku
liang sempit, tubuh berat, warga yang takut
tapi, gus
hidupku lebih kutakutkan
karena bojo dan bisik tetangga

Uncategorized

Kamu

Kamu berhenti mencari pelangi karena telah menemukan hujan
Hujan menumbuhkan kehidupan seperti kamu menumbuhkan perasaan
Perasaan itu kadang hilang, kadang tetap disana
Kamu berharap hujan tetap turun, namun juga ingin segera usai

Kamu bergerak pelan pada jalanmu
Kamu lebih berhati-hati
Kamu ingin berlari tanpa was-was
Kamu tahu itu susah saja

Kamu firasatku akan marabahaya
Insting tuhan sebelum terjadi,prekognisi
Kamu wujud ego yang terbang liar
Yang ingin berada ditiap puncak alasan

Yamu suka ketidakpastian
Kamu juga benci jalan berkabut
Kamu tak segan menantang
Kamu juga sering cari aman

Ah, kamu begitu diabolis

Uncategorized

Ceracau galau

pada umur ini, malam ini disini
sedikit telah kupelajari
mengenai apa itu hidup dan kehidupan
bahasanya banyak, namun maknanya itu-itu saja

mengenai ingin jadi apa
orang selalu nyinyir saja
orang tua mu suruh ini itu
orang terdekat selalu nuntut
orang lain cuma bisa nyocot

ah pasti enak kalau bisa bersantai terus
makan tidur nimbun lemak
atau seperti kerjaan si bagong
yang saban hari jadi anjelo*

ah enak juga kalau pinter
banyak yang cari
banyak uangnya
awas banyak juga utangnya

mengenai cara mu hidup
orang lain sukanya dikte
orang terdekat cari kesalahan
orang tua terlalu kolot

tapi enak juga
kalau saban hari tak punya beban
makan asal cukup, perut asal tambun
malam nonton sampai semaput

lalu teringat kata
entah siapa yang bilang
“hidup adalah masalah”
“masalah seperi bata, tanpa itu rumah tak akan jadi”

*Antar jemput lonte