puisi

Karavan

Kau berkehendak, aku beralasan
Jalan berpilin berkelindan, kita berpadu padan
"Hentakanmu keras", kataku
Nafasmu sedang tinggi

Atau mungkin memang sedang jalannya
Tak apa jua melambat
Karavan kita;
Sedang lengkap-lengkapnya

Namun karavan lengkap tentunya,
Bukan tanpa persiapan
Mimpi buruk perbekalan;
Dan penilaian kafilah lain

Biarkan sejenak saja
Aku melambat, sayang
Seperti anak panah, atau bola bekel
Yang perlu mengambil arah sejenak

Tentunya aku tidak membuat alasan
Uncategorized

Semua hal baik

Pagi buta kusapih keyakinan
Kubiarkan merumput sendiri
Dan muara-muara kegundahan
Kubiarkan berenang menjauh

Nun jauh pada samudra harian
Tempat ide-ide timbul dan hilang
Dan kadang, jika beruntung
Menemukan jalannya ke tepian

Semua hal baik berkumpul disana
Pagi, petang, siang, dan malam
Sekat-sekat pada lelap dan terjaga
Simpulan pada puncak menjadi manusia

Bermainlah sejenak di pesisir
Pungut satu, dua kebijaksanaan
Perhatikan dengan seksama
Peta sederhana

Untuk mencapai apapun itu;
Bahagia, pencerahan,
Atau melupakan
puisi

Aku

Aku tersesat dalam kontinuum waktu
Aku terpecah tak hingga, tanpa sadar
Aku bermuara pada aku yang tak pernah kukenal
Aku menjadi martir, pelawak, dan tak siapa siapa
Aku berbaur dalam lumpur disepatumu, atau kopi dalam susumu
Aku sel tunggal 8 milyar tahun yang lalu, dan kesadaran silika 8 milyar tahun kemudian
Akulah supra persona dan hamba paling hina
Akulah dirimu, dan semua yang kau temui
Leluhur dan semua buruanmu
Akulah putaran partikel, partikel, dan putaran sekaligus

Akulah semesta yang merayakan dirinya sendiri

puisi

Experience

Jadi hujan telah tampak diujung
Dan obrolan terlalu jauh untuk disudahi
Kita, mungkin cuma aku, tetap bertanya-tanya
Setiap lompatan dan cabang-cabang

Jadilah, maka jadilah
Premis itu berulang ulang, Redundan
Kukira itu usang, tapi tidak juga
Kita benar-benar muncul dari simpul pengalaman

Kau dan aku, bersama-sama
Mengayakan, berupaya
Lalu lintas kesadaran yang tak pernah surut
Pada bahasa tak hingga, dan semesta yang sesak dengan tanda

Muara kesadaranku dan kesadaranmu, bersama-sama
Berujung pada lompatan-lompatan pengertian
Dan tumpukan pengalaman bercela tanpa ujung
Tanpamu, kau, dia, dan mereka
Aku pasti mengarungi semesta yang benar-benar kosong

Uncategorized

Simpul

Seperti halnya pertanyaan yang selesai kemarin
Permainan terbaik dari menduga-duga alur cerita
Dan pilihan cepat berubah
Menjadi cerita utuh dan semesta baru

Namun mungkinkah,
Mungkin saja
Ada cara untuk mengintip utas lain itu?
Menengok dengan kendaraan “jika”, “bila”?

Mari berdiam dulu
Mari bersama menekan tombol itu
Lihatlah semesta lain, kala pilihan menemukan lintasannya yang bercabang
Dan raih tanganku, kita akan menyusur tak hingga

Apakah keputusan itu benar?
Apakah tumbuh disini sebaik melempar diri kesana?
Apakah keberanianmu berkata “iya” akan mendarat dengan rasa yang sama?
Apakah keberanianmu berkata “tidak” akan menemukan taut yang lebih baik?

Pengulangan. Apakah itu akurat?
Atau hanya ilusi simpul yang kau paksa menyatu?
Apakah kau akan mengulang pilihan yang sama?
Ataukah kau kan memilih kesalahan yang lain?

Apakah.. Memilih pilihan yang benar;
Dan mencoba pilihan yang salah;
Memang sebuah kemutlakan?

Bagaimana jika ternyata
Hanya ada jalan, utas, dan simpul
Tanpa rona, aura, dan warna apapun

Bagaimana jika hanya ada mimpi
Tanpa kesadaran?
LifE, log

Merapikan kehidupan

Kadangkala, walaupun kita punya rencana super ketat untuk masa depan, atau rencana super keren untuk segala hal, keadaan berjalan tidak untuk kita. Hal simpel inilah, mengapa kehidupan persis seperti namanya. Karena tidak ada jawaban pasti dan solid, atau marka jalan, atau peta inti untuk itu. Ada beberapa panduan, tentu. Namun pada akhirnya hanya kita yang menentukan jalan sendiri.

Maka seperti halnya diskursus pada tahun tahun belakang, tulisan ini seperti refleksi ketika hal hal memutuskan untuk ke selatan. Tahan semua yang kalian ketahui tentang apapun dalam hidup, karena diakhir hari tidak ada rumus atau formula baku untuk mengatakannya. Tentu aja ada hal hal yang pasti, seperti hari esok, atau jatuh tempo cicilan gawaimu. Namun dalam perspektif yang lebih halus, hal hal simpel seperti kebiasaan sehari hari membutuhkan waktu mengambil keputusan yang lebih filosofis. Ahaiiii

Kamu sadar dan paham bahwa kehidupan tidak dirancang untukmu seorang diri. Ada pikiran tak terbatas yang juga menuntut ruang untuk hidup. Ada banyak sekali kepentingan dan tafsir yang mendefinisikan dirimu. Namun dengan naif kau berkata bahwa kau adalah pencipta takdirmu sendiri. Yang mana pada dasarnya hanyalah bahan tertawaan bagi dirimu sendiri. Ah, pernyataan yang terakhir ini juga tidak sepenuhnya benar, tentu saja. Kita bisa berdebat panjang menghabiskan bergelas gelas kopi untuk itu, tapi itu untuk kesempatan lain.

Menjalani kehidupan dalam sifat praksisnya, seperti membuat jalan tanpa kau tahu medannya, ataupun tujuannya. Tak jarang dalam Tempo singkat, keputusan penting harus diambil. Jalan bercabang harus segera dibuat. Dan, mengerikannya, setelah satu jalan diambil, tidak ada kesempatan mencoba jalan lainnya. Tapi, segera setelah kau menyadari hal ini, frasa ‘mengerikan’ yang kupakai untuk menggambarkannya akan terlihat biasa saja. Kau akan terbiasa untuk mengambil satu keputusan tanpa harus memikirkan jalan lain yang tak kau ambil.

Maka seperti penjelasan yang tampaknya sangat kusederhanakan diatas, pilihan yang tak diambil akan tetap disitu, berhenti tepat di titik itu ketika kau tak mengambilnya. Hal termudah adalah melanjutkan perjalananmu membuat jalan, kembali tanpa panduan medan dan tujuan.

Oh, pilihan yang serupa seringkali akan muncul kembali. Namun dalam keadaan yang berbeda. Itu bukanlah pilihan di bukit atau lembah kemarin. Jangan tertipu. Itu adalah pilihan yang sama sekali baru. Dengan kemungkinan perubahan rencana yang 100% berbeda.

Jadi rapikan saja jalanmu, dan bersiaplah merubah jalan kapanpun dibutuhkan.

Uncategorized

Permafrost fikir

Kamu yang mereka-reka dalam kabut
Mencari penghakiman pada kenakalan waktu
Terlilit lumpur kesementaraan
Terseok dalam kebaikan jalang

Yang tak patut, sembunyikan
Yang lelah, menepi
Yang terlupa, hilang
Hanya waktu tanpa pembanding

Kamu yang tersenyum
Tanpa tahu rahasianya
Dan aku yang memudar
Dengan semua rahasia yang berkelindan

Dengan sepasang kaki dan ribuan cabang jalan