puisi

Menjadi Genangan

Maka begitulah keinginan
Terseok-seok tanpa ampun
Dan kita, dalam perjalanannya
Melakukan tembakan buta

Kau, aku, jadi kita
Pikiranmu jadi pikiranku
Dan tak lama
Kita mulai berbicara bahasa yang sama

Saban hari dalam ranjang yang sama
Kita, adalah pengejawantahan
Ide-ide sederhana
Latihan-latihan panjang

Tapi ada juga
Tebakan yang gagal
Tembakan yang meleset
Riak-riak dalam samudra

Ah sayang, tak perlu lah kau tangisi
Begitulah kita
Hal-hal yang hilang
Menjadi genangan

Karena apa gunanya
Timbunan bintang dan pilar-pilar langit
Kalau tak ada “kita”?

Uncategorized

Percikan

Kalau 2020 adalah wanita
Maka ia adalah wanita cantik
Dengan banyak muslihat

Hey tapi
Bukankah kita semua demikian?
Bermain dalam muslihat

Diam saja, agar kau tau pertanyaannya
Bukankah semua ide tentang kehidupan
Adalah rentetan tembakan serampangan?

2020 adalah percikan
Dalam ruang mesin hampir gagal
Tiap bulannya
Adalah usaha mengubah percik jadi pembakaran

Tapi 2020 memang seperti wanita cantik penuh muslihat
Yang kau ketahui ekor dan kepalanya
Namun kau dengar sadar terbuai

Berulang kali

puisi

Demi Betelgeuse, Demi Pleiades

Jadi kukisahkan saja
Pada siang terik tak berarti
Kucari, kutarik penjelasan
Pada tiap-tiap estafet yang singkat

Demi Betelgeuse
Kupasangkan karang pada kaki
Kukuatkan bahu pada badai
Taufan, ombak, mari hantam!

Demi Pleiades
Racun yang telah turun
Dahaga yang terganti
Kekaburan tanpa pengelihatan

Maka kubuat janji dengan Semesta
Untuk mengangkangi setiap gunung
Berteriak lancang di setiap ngarai
Dan menang pada setiap sistem

Maka, demi Betelgeuse dan demi Pleiades
Kuarak barisan berisi kuda kuda perang
Kuperiksa kereta berisi tombak dan parang

Hari ini aku akan melawan

Uncategorized

Radio Daring

Kubiarkan radio daring menyala
Suaranya kemana-mana
Persis pikiranku
Kala ini, yang menolak layu

Satu, dua keinginan
Tak jadi, tak apa
Toh satu
Lebih baik dari semua angka didunia

Kurapikan remah-remah
Petisi yang hilang, hikayat yang kosong
Lembar-lembar polos
Hari-hari hilang tanpa bekas

Kubiarkan radio daring menyala
Karena dunia tak hilang jam 11
Kita tetap satu kasur
Dengan keriput dan selisih paham

Uncategorized

Tak ada jalan berbelok

Mari terima takdirmu
Kita diatur hukum-hukum tak kasat mata
Setiap hutan dan gunung
Jalan setapak dan pasar

Mari nikmati laranya
Betapa remehnya kamu
Remah dalam mesin maharaksasa
Begitu tidak penting

Mari terima kekalahan
Bersahabat dengan luka dan duka
Bermain dengan sepi
Akur dengan kesalahan

Mari pahami ini:
Sekuat tenaga engkau mencari hikmat
Tetap saja;
Kau tetap diatur dalam hukum halus

Tak pernah bisa keluar

Uncategorized

Ada aku siang ini

Ada aku siang ini
Mondar mandir
Ada pinta yang diam diam dikubur
Siang ini aku mondar mandir

Ada aku siang ini
Dan berbaris baris pula
Antrean mereka, mereka
Siang ini aku tak ikut berbaris

Ada aku siang ini
Tergilas suasana
Sepi dan ramai apa bedanya
Kau aku makan sama nasi

Ada aku
Masih di siang ini
Dengan dunia yang masih berputar
Dan bermacam ketentuan tanpa jeda

Ada aku siang ini
Dan kamu. Dia. Mereka
Yang menghamba pada putaran
Dan makanan harian, mingguan, bulanan

Uncategorized

11 tahun

Pada senyap gulita
Selesainya buku harian
Usai komplain dan berenang
Renungku keluar malam-malam

Sebelas tahun lalu
Kota itu
Rumah kedua ku
Yang tak pernah kusesali

Lalapan di tiap perempatan
Warung makan di gang kampus
Bakso dua ribuan
Dan teman komunitas

Seperti masih kuingat baunya
Sego goreng di galunggung
Mie mek di SMA 2
Lalapan di jalan surabaya
Dan pentol depan Matos

Ah aku suka segala sudutnya
Kuhafal setiap gang nya
Kukuasai setiap terabasannya
Kuingat senjanya

Kadang di Rampal
Kadang di Unmuh
Kadang di Poltek

Hujannya awet sepanjang hari
Referensi makan malam tak berujung
Tiap minggu ke coban
Setiap hari bertemu

Kawan, dosen, kawan, kamu, mereka

Hidupku saat itu
Sesal tak pernah tertulis dalam kamusku
Selalu, karena selalu
Malang adalah rumah kedua ku