Uncategorized

Hidup bagi mereka

Untuk mereka yang lelah
Hidup adalah pelarian bercabang
Untuk mereka yang patah
Hidup adalah awal dari akhir yang sendu
Untuk mereka yang berlari
Hidup adalah tujuan yang selalu menjauh
Untuk mereka yang mencinta
Hidup adalah rekahan keabadian

Untuk mereka yang mengeluh
Hidup adalah neraka yang buntu
Untuk mereka yang tualang
Hidup adalah samudra tanpa labuh
Untuk mereka yang terkejar
Hidup adalah langit yang segera runtuh
Untuk mereka yang takut
Hidup adalah pengadilan abadi

Bagi mereka, yang tipis-tipis menanjak jalan terjal
Kesalahan-kesalahan pilihan,
Atau hanya pilihan saja
Hidup adalah pengadilan harian, neraka yang datang duluan

Bagi mereka, yang berlandai-landai
Pilihan-pilihan baik nan gembira, atau pilihan saja
Hidup adalah labirin pilihan, namun tanpa jalan keluar

Tergantung dimana kau mengambil hikmat

Uncategorized

Akhirnya gerimis turun

Lama juga aku menunggu
Banyak hal, seperti hari minggu
Antrian panjang, atau istri ku
Janji-janji pekerjaan yang tak terurus

Untuk sebuah alasan yang tak jelas,
Kulihat saja dia tertidur pulas
Disini, disampingku juga yang hampir lemas
Nafas-nafas kami beradu, jam sebelas

Lalu sejenak kuringankan badan
Pikiran lama akan kegelisahan
Datang, tanpa permisi melintang jalan
Hal-hal datang, pergi, tinggal, hilang

Dan berlalu begitu saja
Padahal kita bisa sama-sama kesana
Kan? Pastilah tak sukar adanya
Mimpi-mimpi yang terjalin lama

Ah pasti gembira kalau menyusuri jalan itu
Dengan pemandangan itu
Kota-kota jauh nan sendu
Pikiran yang terobati rindu

Untuk semesta yang menjadikannya mungkin,
Tapal batas yang terbawa angin
Harapan-harapan pada barisan ingin
Renjana yang kuharap tak kan dingin

Kutitip, kutitip kemauan! Kerenjanaan!
Kuambil! Pasti kuambil kembali
Hak kita akan waktu yang terbuang
Saat menunggu gerimis datang hati-hati

Malam itu tentu saja

Uncategorized

Namun, semesta..

Sarung kukibaskan
Pada udara tipis atap malam
Kureka reka lagi
Asumsi perjalanan ini

Untuk setiap pilihan yang ada
Yang kutetapkan untuk tak disesali
Adalah benar menurutku
Kulalui tanpa celaan

Untuk setiap duri dalam setiap jejak baru
Biarlah kumakan saja tanpa bumbu
Tanda kau tumbuh, kata orang-orang
Kuharap benar adanya

Untuk rencana yang aksi dengan pertimbangan
Dimana kutemukan tiap kesengajaan takdir?
Pada batas tipis akan keinginan percaya
Dan ramuan dari hasil kesadaran?

Berputar-putar begitu saja
Sambil kukibaskan sarung
Namun, semesta…
Apakah ini benar-benar jalan itu?

Uncategorized

Ide sempurna

Arah arah yang kelimpungan
Angin pada pohon, melambai, melambai
Sisa sisa kemanusiaan
Kejar-kejaran demi hidup

Jalinan ide yang seragam
Kamu, dia, mereka
Tukang bangunan, permak jeans, lonte
Politisi, tukang catut, pak ogah

Bahu membahu
Membuat keseimbangan
Memutar roda takdir
Berputar, berputar

Pendosa berfikir
Akan hutang hutang kemanusiaanya
Tukang bakso menghitung
Pentol pentol dalam dandangnya

Tukang cukur berdiam
Dibawah pohon rindangnya
Dan kamu, hasil segala hitungan biologi ku
Disana menunggu

Roda roda takdir berputar
Menuntut keseimbangan
Membuat keseimbangan
Dalam ide ide sempurna

Aku, kamu, mereka

Uncategorized

Jam sebelas dibelakang mimpi

Tik tok jam
Murung malam
Pudar pudar
Semua belukar

Dibelakang dipan
Raungan ayam jantan
Pikiran sahih
Waras, ku bayang masih

Telah jadi takut
Aku, tak berlutut
Apa itu garam, tanya mu
Malam hanya diam bisu

Kekal kekal
Tanya dan tanya
Kuulang ulang
Biar kau hafal

Jam sepuluh
Jam sebelas
Dua belas
Tak juga tidur

Tak butuh mimpi malam ini
Karena mimpi mu
Rusak saban hari
Terpecah

Jadi semesta lain yang takkan kau jangkau

Uncategorized

Mlg2k19

Jiwaku ingin pergi
Dalam kehilangan yang menyenangkan
Tak terucap
Tak terlacak

Pada pusat peradaban
Simpul budi adiluhur
Halaman belakang panggung sejarah
Halaman depan raja-raja

Jiwa ini ingin berlabuh
Pada jalan-jalan cabang
Belokan tak tentu,
Dan rehat tiap jarak

Jalinan puncak, pundak dewata
Mistis dan luwih
Jalan kuna dan purba
Patirtaan dan wanua

Aku ingin
Melangkah
Melangkah
Ke tempat hatiku selalu membuang sauhnya

Uncategorized

Tanya witana

Kulipat senja dengan pertanyaan sulit
Tentang narasi hidup tanpa rambu dan cabang
Tentang ‘tanpa’
Tentang ‘tanya kenapa’

Mengapa jua harus mengajukan tanya
Kalau hidup bisa dijalani saja?
Kerikil-kerikilnya
Duri dan pohonnya

Tapi selalu ada tanya
Karena apa?
Karena apa?

Karena ketakutan mu
Ketakutan ku

Sama