Resahku cepat menjadi cemas
Bersamaan dengan gonggongan anjing yang menyalak
Tiba-tiba juga di kanopi semesta ultra luas ini;
Aku merasa begitu rentan
Entah apa juga masalahnya
Entah seberapa pelik pikirannya
Mungkin pikiran bekerja seperti tubuh biologis
Yang punya ambang batas kalori dan persepsi simpanan energi
Tapi toh sesederhana apapun masalahnya
Bukankah manusia selalu terikat persepsi?
Dan ekspektasi dari ekspektasi yang dibangun saban hari
Juga perlombaan relativistik yang kadung banyak kotak centangnya
Apakah anjing menyalak dengan makna tertentu?
Dan ayam goreng yang kau makan siang tadi memang berkehendak menjadi lauk?
Apakah pilihan-pilihan sempurna mu memang harus menjadi cacat dulu?
Dan keraguanmu hanya ketiadaan akan kepastian metrik
Rasa-rasanya tak juga kuinginkan kenyamanan metrikmu
Kutukar dengan persepsi kopi dan leyeh-leyeh siang hari
Aneh juga kupikir, memegang kendali yang tidak ada
Toh hidup saat ini adalah meluas-luaskan zona nyaman
Mencari nyaman pada ketidaknyamanan harian
Genap
Kugenapi diriku dengan meragu.
Sebagai ketetapan akan semesta yang melaju.
Pada jalurnya yang acak beruntun runut.
Dan teliti dalam menimbang sebagai alat bantu yang absolut.
Karena persimpangan dalam segala peradaban.
Memaksaku untuk terpaksa memasang badan.
Pada setiap puncak-puncak penghakiman pikiran.
Titik nadir kejatuhan peradaban berkelindan.
Setiap tanda, rambu, dan kode-kode membosankanmu.
Yang terlalu kentara hingga aku mutlak jemu.
Namun hal-hal yang tak juga selesai saat pagi;
Jadi pekerjan rumah para pemecah kode di Fatmawati.
Aku beralih dari kreasionis, profanistis, dan berakhir di utilitaris;
Betapa keadaan deviant adalah kanker dalam sosietis.
"Beri mereka ruang, lalu iris!"
Semesta baru mati di meja operasi katarsis.
Jadi kugenapi diri dengan meragu.
Tak menunggu sampai semesta menjadi abu.
Pada malam sabuk Orion sedang cerah-cerahnya menggerutu;
Dibawah langit luas tanpa pilar batu.
Tafsir baru
Jika takdir adalah padang keragu-raguan
Dan tiap pilihan adalah kambing yang merumput
Maka seperti itulah guna gembala kontemplasi
Yang saban hari menafsir pada padang yang penuh dengan pilihan
Pun langit-langit penuh bintang
Yang mana seperti ribuan pilihan tak terpilih
Hanya terpisah Sejauh penciptaan
Yang tak terjangkau
Atau pula gelisahku di pagi dan dini hari
Boleh kukesampingkan; karena oh...
Aku bukanlah pusat semesta
Namun pada saat yang sama akulah kasta tertinggi dari mimpi semesta yang sadar
Akulah simpul terakhir dialektika materi/anti materi
Jalur kuantum paling mutakhir
Cabang-cabang terakhir dari pilihan infiniti
Kesimpulan bulat semesta
Aku, kau, dan milyaran kegelisahan lain
Adalah gir terakhir putaran Googol
Paling muda dan paling terakhir
Jadi dimana tempat rahim tafsir itu bermula?
Pada dengkur jam 3 pagi
Konon Semesta berumur empat belas milyar tahun
Dan umur Bumi empat setengah milyar tahun
Juga Sapien baru sekitar dua ratus ribu tahun saja
Adalah Aku pada umur tiga puluhan
Tapi rasanya bisnis menjadi manusia ini
Mengalahkan segala kemegahan
Dan waktu yang terlewat
Dalam menghitung-hitung umur semesta
Rasanya lebih mudah untuk;
Menghitung umur ruang waktu
Ketimbang;
Meraba-raba jalan ke depan
Sungguh sial karena kontinuum waktu;
Kubiarkan berlalu saja tanpa;
Perang menjadi ada dan kenisbian
Metafor persepsi yang disetujui sosieti
Seberat-beratnya Atlas dalam memanggul dunia
Lebih berat pula beban lelaki dalam keluarga
Tapi aku lupa Atlas pun lelaki
Tapi juga lelakinya harus yang bener
Dan pada orkestra jam 3 pagi
Tempat dengkurmu, dengkurnya, dengkur hantu
Berjibaku untuk menghabisiku
Yang tak juga mulai bergerak
Menyusun rencana yang dieksekusi
Merancang siasat mengalahkan asumsi
Karavan
Kau berkehendak, aku beralasan
Jalan berpilin berkelindan, kita berpadu padan
"Hentakanmu keras", kataku
Nafasmu sedang tinggi
Atau mungkin memang sedang jalannya
Tak apa jua melambat
Karavan kita;
Sedang lengkap-lengkapnya
Namun karavan lengkap tentunya,
Bukan tanpa persiapan
Mimpi buruk perbekalan;
Dan penilaian kafilah lain
Biarkan sejenak saja
Aku melambat, sayang
Seperti anak panah, atau bola bekel
Yang perlu mengambil arah sejenak
Tentunya aku tidak membuat alasan
Semua hal baik
Pagi buta kusapih keyakinan
Kubiarkan merumput sendiri
Dan muara-muara kegundahan
Kubiarkan berenang menjauh
Nun jauh pada samudra harian
Tempat ide-ide timbul dan hilang
Dan kadang, jika beruntung
Menemukan jalannya ke tepian
Semua hal baik berkumpul disana
Pagi, petang, siang, dan malam
Sekat-sekat pada lelap dan terjaga
Simpulan pada puncak menjadi manusia
Bermainlah sejenak di pesisir
Pungut satu, dua kebijaksanaan
Perhatikan dengan seksama
Peta sederhana
Untuk mencapai apapun itu;
Bahagia, pencerahan,
Atau melupakan
Aku
Aku tersesat dalam kontinuum waktu
Aku terpecah tak hingga, tanpa sadar
Aku bermuara pada aku yang tak pernah kukenal
Aku menjadi martir, pelawak, dan tak siapa siapa
Aku berbaur dalam lumpur disepatumu, atau kopi dalam susumu
Aku sel tunggal 8 milyar tahun yang lalu, dan kesadaran silika 8 milyar tahun kemudian
Akulah supra persona dan hamba paling hina
Akulah dirimu, dan semua yang kau temui
Leluhur dan semua buruanmu
Akulah putaran partikel, partikel, dan putaran sekaligus
Akulah semesta yang merayakan dirinya sendiri