Uncategorized

19.49 malam

Untuk kesukaran dalam memikirkan hidup
Untuk malam-malam bodoh,
Yang kuhabiskan dalam gelas kaca
Beserta topik yang bias

Untuk jalan-jalan malam tanpa hikmat
Hanya perpanjangan tangan pencari nikmat
Lesu, lemas tanpa arti yang jelas
Berakhir tanpa apapun yang pantas

Untuk hari-hari kelam tanpa repetensi
Atau keengganan menengguk fiksi
Ribuan jalan baru yang terbuka
Jutaan kemungkinan yang ada

Ternyata susah, jadi makhluk yang berfikir

Iklan
Uncategorized

Titip menitip

Kutitipkan salam
Pada angin, dan membawanya
Pada celah-celah daun
Daun jatuh terbawa ngarai

Daun menitipkan jatuhnya
Pada sungai, dan menghanyutkannya
Pada liuk-liuk hulu
Terbawa sampai hilir

Hilir menitipkan airnya
Pada muara, dan menghamparkannya
Pada derasnya samudera
Tergulung ombak ketepian

Salam ku tercerai-berai
Pada daun, sungai, dan samudera
Sedangkan engkau… Engkau
Muara semestaku

Yang tetap disana
Sistem bintang ganda, dan nova-nova
Galaksi berkilau dan radiasi
Pleiades muda dan betelgeuse

Kemana engkau menitipkan salam?

Uncategorized

Vana

Kita memang fana
Tapi abadi, hanya ada di pikiran manusia
Kita memang menua
Tapi awet muda, kita juga yang menciptakan
Kita memang mati
Menjadi debu
Berserakan

Namun entah apa yang mengusiknya,
Kita selalu mencari cara kesana

Kemana?

Keabadian


We always love you

Uncategorized

Tentang musim

Aku tahu kala hujan turun
Pikiranku bermain-main dengan rintik gemerisik
Aku tahu kala angin kering
Peluh memanjat menjadi semangat
Masa-masa berubah
Menjadi angin lalu hujan lalu terik
Musim-musim berganti
Musim hujan, telur lilit, atau gempa
Apapun tentang apapun diluar sana
Apapun kau menyebutnya
Muara musim adalah repetisi dari hikmah-hikmah
Perjudian mutakhir untuk harapan-harapan
Dan kemanapun muara musim, atau muara apapun berlabuh…
Setiap kata, berubah
Menjadi ada
Menjadi kekal
Menjadi sejati
Pada waktunya

Uncategorized

Sialan

Aku bermimpi terbang
Badanku gempal, tapi ringan
Terangkat, terangkat
Aku lihat kebawah
Rumahku mengecil, begitu juga isinya

Aku bermimpi terbang
Kulihat pesawat
Kulihat pilotnya
Pilotnya melihatku
Pilot kaget
Pesawat oleng

Aku terbang termenung
Tower islamic center lewat
Monas lewat
Burj khalifa lewat
Himalaya lewat
Kenangan lewat
Lalu melompat kepundakku

Heh, sialan!
Sebelum aku sempat mengumpat lagi,
Kepalaku terjedut kubah semesta
Aku terjatuh
Untung, Tuhan Maha Adil
Aku terjatuh di kasurku
Disebelahmu

Ah, mimpi sialan

Uncategorized

Cerita 3

Satu titik dalam hidupku
Kucoba mengadu, berjudi
Tentang apa jua, kucari-cari alasannya
Tentang ini dan itu

Maka kulepas tuas rem itu
Dan kuinjak pedal gas, pelan namun pasti
Kuhirup angin perjalanan
Kulihat pemandangan

Berlalu saja, berlalu semuanya
Tak lagi sama, tak lagi sama
Kucoba semua jalan
Beraspal atau curam

Kucoba bersalaman dengan iblis
Kucoba mengikuti sayap malaikat
Maka saban hari,
Aku menjadi pengkhotbah
Sekaligus pendosa

Ah, kawan, pada ujung hari itu
Kuhitung-hitung pahala dan dosaku
Neraca moral dan sandi etikaku
Kulihat masa penghakimanku

Aku memang diabolis
Akan candu yang ditawarkan hidup,
Kuraih saja, kuminum saja, kumuntahkan saja
Dimanakah aku mencari terang?

Sementara jalan terbentang luas
Apakah aku harus menginjak pedal gas
Ataukah berhenti disini
Menikmati dahulu perjalanan

Dimanapun bayangmu nampak

Uncategorized

Cerita 2

Katanya
Hidup terbentuk atas pilihan-pilihan
Dan keputusan-keputusan sulit
Juga arah-arah tertentu

Hidup memaksa untuk memilih jalan
Namun tak memberikan peta jalan
Hidup berkata seenaknya
Menyerahkan takdirnya pada manusia

Tentang malam ini
Untuk kopi-kopi instan
Untuk gorengan dingin
Untuk udud maupun e-udud

Hidup memaksa memberi pilihan jalan
Dengan bercengkerama dan bercerita
Ceritamu, ceritaku
Sama saja dalam lingkar semesta

Maka,
Begitulah cerita kehidupan
Tanpa sebab musabab dan jalan keluar
Semua tanda dan rambu berceceran

Aku sadar, hidup tak pernah benar-benar punya jalan dan cabang-cabang