LifE, log

Log februari

Tawaran Februari adalah tawaran akan musim yang hendak berganti. Angin dan udara panas tanpa cela. Matahari yang jumawa dengan langit biru tanpa ujung. Pantai atau pegunungan adalah tempat terbaik menghabiskan umur. Disela-sela tuntutan hidup yang menyita, paling baik mengadakan perjalanan kecil untuk menikmati angin dan matahari siang terik.

Februari datang dengan seketika. Secepat feed chat di group telegram. Secepat habisnya anggaran makan diluar. Februari bulan yang pendek, setidaknya dalam pikiranku. Bukan bulan yang spesial, tapi kosong juga tanpa memaknainya.

Hal-hal terjadi begitu saja. Janji-janji datang dan pergi. Ditepati dan diingkari. Beberapa hilang menguap. Lainnya berubah jadi makna. Beberapa hal tampak menjanjikan. Hal yang reguler menjadi sampah rutinitas. Hal baru jadi penyemangat. Tapi untuk berapa lama? Kehidupan memang jurang dan bukit. Pada filosofi apapun, dualisme itu tetap dipakai. Seperti kau hanya berputar-putar saja mengelilingi semesta. Padahal memang itu poinnya. Nah, baiknya kukatakan rahasia kecil tentang hal-hal. Apapun. Kau boleh bersemangat akan apapun. Namun selalu ingatlah bahwa semuanya tidak bertahan lama. Kenyataan bahwa semua bisa berakhir akan membuatmu mensyukuri segala momen yang terjadi. Merayakan segala rasa pada tepat waktu itu. Karena setelah ia beranjak dari waktunya, tidak ada lagi repetisi. Atau ada, namun berbeda. Praktis saat itu hanya ada pada saat itu saja.

Jadi apa itu Februari? Menurutku dia adalah pelunasan akan hal-hal yang tertunda. Resume atas hal-hal yang berhenti sejenak. Petualangan baru yang lama. Kejatuhan musim dan pengulangan praksis akan ide-ide. Jalan menanjak dan garis start untuk bulan-bulan terkembang. Februari tak akan jadi apa-apa, kecuali kau mengisinya dengan makna… Dan keinginan untuk menjadi ada

Iklan
LifE, log

Memudar

Aku terbangun dengan perasaan yang tak menentu. Rasanya lebih baik bangun agak telat dan langsung dijejali kewajiban (ibadah), ketimbang bangun terlalu awal dan berfikir tiba-tiba. Maksudku, kontemplasi memang menarik, tapi bukan selepas tidur. Hal-hal terjadi begitu cepat dan aku kekurangan cengkraman untuk tetap waras. Aneh dan ganjil, aku terbangun dengan pikiran kosong dan memikirkan hal setengah-setengah. Seperti tv lama yang pada dini hari tak ada siaran, otakku seperti tv kesemutan. Berisik tanpa arti.

Beberapa hal terjadi begitu cepat. Beberapa lainnya memilih berjalan santai. Ditengah-tengahnya ada hal yang menggantung lama, dan akan tetap begitu terus sampai ada yang berkata sudah. Sepertinya aku sudah harus berhenti membikin banyak janji yang tak bisa kutepati. Atau banyak berjanji dengan kualitas pelunasan yang ala kadarnya. Atau melaksanakan semua janji, namun merasa kosong diakhir hari. Semuanya bukan pilihan yang bagus. Semuanya hanya percikan endorphin sementara yang habis kala masanya. Sepertinya aku akan mengingat potongan kalimat ini, yang entah kuambil dari mana. “Kau tak bisa menyenangkan semua orang.”

Sepertinya aku telah berada disekitar orang-orang terlalu lama. Iyakah? Rasanya melelahkan. Namun kuyakin-yakinkan diriku, itu lebih baik ketimbang tak bertemu sama sekali. Melelahkan, setiap reset hari harus mengulanginya. Tapi, hei! Seribu kali lebih baik bertemu satu kali lalu hilang selamanya, daripada tak bertemu sekalipun. ‘Kualitas bertemu’ itu menjadi semacam ingatan pengalaman yang menarik untuk diulang.

Bagaimanapun juga, aku tetap mencari gambaran besar dari potongan kecil yang berserakan

LifE, log

Berlalu

Musim pindah dan berlalu. Menghilang untuk kembali bersemi. Pada tiap-tiap siklus, ku petakan kembali setiap senyum dan kepalan tangan yang teringat. Untuk setiap kerja keras dan kerja rodi tanpa imbalan yang sepadan. Setiap janji dan nirjanji. Lautan dan parit.

Selalu mudah memetakan masa lalu. Selalu sulit berpaling dari luka. Tapi masa lalu atau luka, bukan hal yang seharusnya dilupakan. Semesta mencatat dan kepalamu merekam. Maka pada saat ini lantanglah berkata. Biarkan kau tegak diatas barisan luka.

Karena, kawan. Selalu mudah untuk berpaling. Selalu mudah berkata “tidak”. Dan memalingkan muka untuk melangkah jauh lebih mudah. Hanya perlu peta. Hanya butuh keinginan. Hanya butuh tujuan. Setiap lembah, setiap bukit, setiap gunung menjadi tujuan. Apapun tujuanmu, selalu ingat bahwa tujuan terakhir adalah rumah.

Ada cinta disana. Biarkan dia berkembang. Biarkan layarnya tegak. Biarkan dia berjalan pada luka nya sendiri. Cinta tidak pernah butuh alasan untuk ada. Cinta terlalu mandiri. Dia tidak butuh pengawasan konyolmu. Menemukannya bukan tujuan. Bukan juga pilihan. Seperti sifatmu sebelum lahir, dia selalu berada dalam ruangan khusus dalam hatimu.

Marilah selesai untuk malam ini. Kau bisa terus berlalu. Lupa dan melupakan. Pergi saja. Cari semestamu sendiri. Percayalah, dalam relung-relung debu kosmis, selalu ada cinta yang bersemayam dalam segala hal.

LifE, log

Teruntuk

Aku melihat suka duka dalam perjalanan hidupku. Silih berganti bagai siang malam. Jurang dan bukit. Bumi dan langit. Berganti ganti seperti baju atau musim setiap musim. Gelora jiwa yang menyenangkan namun juga menjemukan.

Aku menemukan diriku dalam keramaian, hanyut dan tercerahkan didalamnya. Aku juga menemukan diriku larut dalam keheningan atas kebutuhan menyendiri. Oasis dahaga mahakini yang selalu kubutuhkan tiap malam.

Aku memandang tiap hiperbola senyuman pada tiap senja, kekal pada kalanya. Terpetakan dengan baik dan terartikulasi dengan apik pada waktu-waktu yang kusediakan. Aku juga melihat jalan pulang dengan lampu temaram menjadi hidangan sejuk bagi jiwa yang mendamba hikmat dari sepi.

Karena pada apapun keadaannya, waktu adalah waktu itu sendiri. Tak ada masa depan atau masa lalu. Atau ada yang didamba dan disesalkan. Hanya ada kini dan kini saja. Masa lalu adalah untuk diingat, dan masa depan adalah untuk diharap. Tapi kamu pasti dan selalu ada pada kini. Kini dan hanya kini saja. Membuatnya menjadi ada dan bermakna adalah tujuanmu.

Pada akhirnya semua akan hilang dan tertelan waktu yang tidak menunggu. Suka duka cita dan lara mu pun tak juga kekal adanya. Bagimu pengelana jiwa, pencari kebijaksanaan tinggi pada waktu larut dan bisikan serangga. Pencari hikmat pada malam dan sisa-sisa kopi pada cangkir gelas kaca. Padamu wahai pengelana segala rasa. Peracik mimpi-mimpi yang terlupa dan sengaja dilupa.

Teruntuk engkau yang berbicara dalam bisu. Yang merapal dan mencecar cetak biru cara hidup yang dianggap baik. Padamu wahai seperangkat peralatan keras biologis, dengan ruh sistem operasi perancang peradaban.

Padamu yang selalu berdialektika namun hilang ditelan tuntutan kerja dan cicilan bulanan. Untukmu muara tanda tanya dan serpihan keagungan random pada saat melaju dengan motor.

Untukmu yang selalu dikebiri rindu namun tak merindu untuk alasan yang kelabu. Pada kamu sewaktu malam berbisik terlalu keras sehingga memilih untuk menulis daripada tertidur. Buatmu sang penulis kejadian takdir, dan menyerah pada takdir saat tulisanmu selesai.

Untukmu cetak biruku, yang selalu datang saat dunia kuanggap sedang baik-baik saja…

Dunia sedang tidak enak badan.

LifE, log

Log januari

Januari hujan terus, pulau kecil ini lama kelamaan bisa terendam (ngawur). Sebenarnya banyak hal bisa dikerjakan dibulan ini. Namun “sihir” hujan tiap hari dan tiap sore membikin badan keenakan untuk kemulan terus di ranjang bareng doi haha.

Apa yang menarik? Beberapa Kawan SMA yg memang dekat membuat semacam cult pengepul info dan apapun yang menarik. Ngumpul di gawai, kadang warung kopi, kadang dimanapun. Semakin malam, dialektika semakin nampak. Setelah bertahun-tahun meninggalkan komunitas parkour, baru sekarang saya mengingat kembali asyiknya berserikat dan bertukar pikir.

Beberapa kawan juga berprogress besar, senang melihatnya. Beberapa kabar terlihat sangat baik. Beberapa impian jadi nyata. Beberapa hal berjalan tak semestinya.

Masih menunggu musim berganti untuk mengumpulkan botol. Mengarungi muara ….

LifE, log

Rigel

Rigel terkekeh. Raut mukanya nampak jelas, seperti sungai dengan banyak cabang dan berakhir di senyum lugasnya. “segala sesuatu tak harus sesuai kelihatannya”, ucapnya pendek. Aku menerka-nerka walaupun kelihatannya mudah dicerna. Segala sesuatu memang tak pernah sesuai dengan apa yang terlihat. Orang-orang memberikan alasan atas berbagai hal yang mereka lihat. Setidaknya aku berfikir demikian. “sebenarnya tidak ada alasan. Hanya tafsir-tafsir individual”, Rigel berucap lagi. Kali ini kedengarannya seperti dosen filsafat ilmu. Tapi aku menangkapnya dengan baik. Sesuatu memang disitu pada mulanya, apapun itu. Sampai kita menafsirkannya demikian. Sebelum itu sesuatu tak tentu kelihatannya. Superposisi.

Rigel membetulkan cara duduknya. Aneh sekali karena dia selalu terperosot dari kursi kesukaannya. Kuil ini tidaklah besar baginya, namun dia suka sekali kuil ini. Manusia memang hebat, dia selalu berfikir demikian. Rigel menggaruk-garuk lehernya yang sepertinya tidak gatal. Lebih kepada ungkapan apa lagi yang harus kuberitahu kepada bocah ini?  Dengan sekali kedipan mata sekarang dia berdiri. Lalu duduk lagi. Rigel memang begitu. Aku selalu menganggap dia dewa yang paling kikuk di parthenon ini. “Kau mengerti tempatmu sekarang?” ah, pertanyaan apa itu. Jawabannya pasti bukan seperti kelihatannya.  Aku tahu tengah berada di kuil Rigel sendiri. Pada hamparan debu kosmis luas tanpa tepi. Aku tahu bahwa aku makhluk fana yang cukup beruntung dapat kemari. Aku tahu posisiku lemah sekali. Namun aku tahu bukan semua itu yang Rigel inginkan. Jawaban itu terlalu statis dan menggantung pada akarnya. Mungkin dia mencoba meluaskan cakrawalaku.

“Dimana kau pada detik pertama penciptaan?” aku sedikit menyipitkan mata tanda berfikir. Jelas jawabannya bahwa aku tidak tahu. Apakah aku rencananya Nya sejak awal? Ataukah aku hanya potongan rantai yang berniat tercipta setelah ledakan sebab akibat berkongsi, membentuk jalinan posisi kosmis? Maksudku, apakah penciptaanku semula jadi, ataukah hasil kompromi dari triliunan opsi perjalanan? Sampai disini jawaban jadi semakin panjang. Rigel tetap pada kursinya dengan tangan terkepal pada sandarannya. Sepertinya dia ingin aku mengolah ide-ide itu. Menemukan suar dan anak sungai diriku sendiri. Membuatku paham posisiku dalam skema luas Pencipta. Aku ingin menjawab bahwa aku ada dalam rencana maha besar Sang Pencipta. Namun kelihatannya naif sekali. Membayangkannya sekali saja sudah membuatku tersadar bahwa bukan itu alasannya. Sulit kumengerti bahwa Pencipta spesifik menempatkanku ditempat ini untuk tujuan ini sekarang juga. Jikalau begitu, pastilah aku hanya bidak kecil dalam rencana Maha Luas Nya. Aku merasa kecil dan tak berarti. Tapi apakah benar itu jawabannya?

“Apakah benar seperti itu?” Rigel dengan presisi menebak isi otakku. Dewa yang satu ini memang terlalu suka melempar pertanyaan daripada menjawab dan menjelaskannya. Tapi perkataannya tadi seketika menjadi pertanyaanku. Bagaimana jika aku salah dan aku adalah rencana besar Nya?

Tapi apa alasannya?

Rigel selalu bilang segala sesuatu berjalan karena alasan. Begitupun pikiranku, atau daun jatuh, atau rasa jatuh cinta. Segala sesuatu memang berjalan karena alasan. Baik di dunia fana maupun di panggung besar kosmis. Alasan itu membuat kita terbangun setiap pagi, menjalankan seluruh kode-kode dan format apapun dalam tafsiran individual kita. Namun bagaimana aku mengetahui bahwa alasan ini, alasan yang sangat spesifik ini, adalah alasan spesial karena merupakan sisa-sisa penciptaan yang tercecer? Bagian dan rencana agung?

Aku berhenti mencari tujuan sejak aku menemukan alasan. Tujuan mengangkatmu dari titk satu ke titik lain. Namun alasan mengantarmu pada situasi yang lebih pelik dan dalam, sebuah kesempatan untuk mengintip kedalam kode sumber Sang Pencipta itu sendiri. Mencoba mengurai perintahnya, dan membawanya kembali ke panggung fana. Alasan juga yang membuatku tahan bertahun-tahun mengerjakan pekerjaan yang itu-itu saja dan menyiksa. Alasan membuatku bangun pagi demi menjalani hari dengan pola yang sama. Terus-menerus.

Alasan itu tidak harus nampak dan terbaca jelas. Alasan itu seringkali terlihat halus bagai remahan roti, atau seperti melihat dari celah rambut kekasih. Untuk alasan yang tidak dimengerti, Alasan itu selalu tak mau menampakkan dirinya yang sejati. Aku selalu mengingkan kehidupan yang baik. Rata-rata setiap orang demikian. Namun Alasan sejati dibalik itu jauh lebih kompleks lagi.

Saat itu aku sadar, pada keadaan itulah tangan-tangan pencipta menuntunku. Pencarian alasan ini menjadi jelas, siapa yang mencari dia akan menemukan. Alasan adalah bahasa Pencipta itu sendiri. Bahasa kosmis dan keinginan akan sesuatu diluar titik 1 dan 0. Alasan adalah manifestasi tertinggi dalam kuil manusia. Akar sekaligus buah dalam pohon hierarki semesta.

Rigel terkekeh. Berulang-ulang. Tawanya memecah dinding-dinding kuil. Menantul-mantul dan hilang pada lengkung pintu. Wajahnya nampak puas. Posisi tangannya terkepal. Semuanya.“Kau telah menemukan alasanmu. Segala sesuatu memang rencana besar Pencipta. Carilah itu, maka kau akan menemukannya.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anekdot, CMS (cerita masa silam), LifE, log, Original bRAIN

Menghargai makan malam

Akan saya ingat-ingat fragmen ini: adalah setiap malam sekitar 5-6 tahun yang lalu, di kosan dengan suara nyaring lalu lintas. Saya tengah berlapar-lapar perut, sambil melihat langit-langit. Mata saya Kelu karena lapar, dan air tersisa sedikit. Lapar karena perut dan makanan, atau lapar karena keadaan yang bodoh jadi sama saja. Saya akan mengingatnya. Malam-malam ganjil menggalaukan yang membuat paginya menjadi keadaan sama bodohnya. Saya akan ingat fragmen ini.

Sudah 7 tahun sejak saya kuliah di Malang. Dan fragmen tentang lapar di malam hari itu kekal adanya. Dimaknai dengan baik oleh saya sendiri. Itu adalah hal idealis nan bodoh untuk semacam dialektika materialis yang saya rancang sendiri. Mengapa malam selalu dilewatkan dengan perut lapar adalah tindakan resmi akan ketidakbecusan saya dalam mengelola uang. Salah manajemen. Pemotongan anggaran untuk hal tetek bengek yang tidak saya sadari buntutnya. 

Masa itu benar-benar pertaruhan idealisme. Saya rela makan tahu isi 2000 rupiah perhari, karena anggaran makan dicatut oleh anggaran warnet, angaran hura-hura, beli buku, ngemil, bla bla bla. Begitu kacau sampai malam harinya saya berkicau dengan perut lapar tak tertanggungkan. Bersimpuh didepan deretan buku-buku dengan satu pikiran. “Cepatlah tidur, karena tidur akan menghilangkan rasa lapar.” Bocah edan itu merasa lapar sebagai sebuah pertaruhan sunyi bagi implan implan duniawinya, yang rela digoroknya demi apapun kepentingan tanpa timbangan yang logis. Saya ingat malam-malam itu saat lapar hanya tertangguhkan dengan tertidur. 

Hampir 6 tahun kemudian saya mengalaminya lagi. Dalam dimensi dan Spektrum yang berbeda. Kalau dulu saya menahan lapar karena tidak ada uang, sekarang saya menahan lapar dengan hati yang tenang untuk hari esok. Kalau dulu saya menahan lapar dengan bobot 55kg, sekarang saya menahan lapar dengan bobot 80kg. Kalau dulu saya menahan lapar karena memang tak ada yang bisa dibeli atau dimakan, sekarang saya menahan lapar dengan rendang, Indomie, telur dan nasi hangat siap tersaji. Jadi apa bedanya?

Kesehatan. Gaya hidup kerja rumahan yang saya jalani. Jarang gerak. Sangat jarang. Dulu saya biasa jalan kaki dari jl kalpataru ke UM. Dan siangnya jalan kaki dari UM ke Unmuh (bayangkan itu!) Sekarang jalan 1km bersusah payah. Rasanya konyol sekali. Dan hal pertama untuk mengembalikan lemak ini kembali ke asalnya yang azali, dimulai dari menghentikan makan malam. Menurut saya. Nanti kalau komposisi kimia dalam tubuh sudah dirasa cukup untuk mengembalikan metabolisme ke tahap siap gerak, mulailah gerak.

Ah, ada juga hal lain. Wasir. Mau operasi saja. Jadi, makan malam jadi pantangan, agar paginya tidak keluar terlalu berat.

Jadi kalau ditanya, saya sangat sangat menyukai hal ini. Seperti kembali seperti dulu. Dalam senyum dan gelambir yang berbeda. Dalam tujuan yang beda. Namun tetap dalam makna yang sama, berlapar-lapar di malam hari.

“Cepatlah tidur, karena tidur menghilangkan rasa lapar”

Cara saya untuk menghargai makan malam