Anekdot, CMS (cerita masa silam), LifE, log, Original bRAIN

Menghargai makan malam

Akan saya ingat-ingat fragmen ini: adalah setiap malam sekitar 5-6 tahun yang lalu, di kosan dengan suara nyaring lalu lintas. Saya tengah berlapar-lapar perut, sambil melihat langit-langit. Mata saya Kelu karena lapar, dan air tersisa sedikit. Lapar karena perut dan makanan, atau lapar karena keadaan yang bodoh jadi sama saja. Saya akan mengingatnya. Malam-malam ganjil menggalaukan yang membuat paginya menjadi keadaan sama bodohnya. Saya akan ingat fragmen ini.

Sudah 7 tahun sejak saya kuliah di Malang. Dan fragmen tentang lapar di malam hari itu kekal adanya. Dimaknai dengan baik oleh saya sendiri. Itu adalah hal idealis nan bodoh untuk semacam dialektika materialis yang saya rancang sendiri. Mengapa malam selalu dilewatkan dengan perut lapar adalah tindakan resmi akan ketidakbecusan saya dalam mengelola uang. Salah manajemen. Pemotongan anggaran untuk hal tetek bengek yang tidak saya sadari buntutnya. 

Masa itu benar-benar pertaruhan idealisme. Saya rela makan tahu isi 2000 rupiah perhari, karena anggaran makan dicatut oleh anggaran warnet, angaran hura-hura, beli buku, ngemil, bla bla bla. Begitu kacau sampai malam harinya saya berkicau dengan perut lapar tak tertanggungkan. Bersimpuh didepan deretan buku-buku dengan satu pikiran. “Cepatlah tidur, karena tidur akan menghilangkan rasa lapar.” Bocah edan itu merasa lapar sebagai sebuah pertaruhan sunyi bagi implan implan duniawinya, yang rela digoroknya demi apapun kepentingan tanpa timbangan yang logis. Saya ingat malam-malam itu saat lapar hanya tertangguhkan dengan tertidur. 

Hampir 6 tahun kemudian saya mengalaminya lagi. Dalam dimensi dan Spektrum yang berbeda. Kalau dulu saya menahan lapar karena tidak ada uang, sekarang saya menahan lapar dengan hati yang tenang untuk hari esok. Kalau dulu saya menahan lapar dengan bobot 55kg, sekarang saya menahan lapar dengan bobot 80kg. Kalau dulu saya menahan lapar karena memang tak ada yang bisa dibeli atau dimakan, sekarang saya menahan lapar dengan rendang, Indomie, telur dan nasi hangat siap tersaji. Jadi apa bedanya?

Kesehatan. Gaya hidup kerja rumahan yang saya jalani. Jarang gerak. Sangat jarang. Dulu saya biasa jalan kaki dari jl kalpataru ke UM. Dan siangnya jalan kaki dari UM ke Unmuh (bayangkan itu!) Sekarang jalan 1km bersusah payah. Rasanya konyol sekali. Dan hal pertama untuk mengembalikan lemak ini kembali ke asalnya yang azali, dimulai dari menghentikan makan malam. Menurut saya. Nanti kalau komposisi kimia dalam tubuh sudah dirasa cukup untuk mengembalikan metabolisme ke tahap siap gerak, mulailah gerak.

Ah, ada juga hal lain. Wasir. Mau operasi saja. Jadi, makan malam jadi pantangan, agar paginya tidak keluar terlalu berat.

Jadi kalau ditanya, saya sangat sangat menyukai hal ini. Seperti kembali seperti dulu. Dalam senyum dan gelambir yang berbeda. Dalam tujuan yang beda. Namun tetap dalam makna yang sama, berlapar-lapar di malam hari.

“Cepatlah tidur, karena tidur menghilangkan rasa lapar”

Cara saya untuk menghargai makan malam

Iklan
LifE, log

wacana h+

mengapa kematian tak berhenti saja?
atau keabadian menguap saja
meninggalkan kita sendiri;
disini

dalam cahaya dan gravitasi
dalam hampa dan pekat

 

Akibat akhir-akhir ini sering tidur telat, berkontemplasi jadilah kegiatan semalaman. kurang tidur atau susah tisur jadi sama saja. waktu ini akan kuingat terus, sebagai pengingat bahwa waktu yang spesifik pada saat ini sebagai waktu yang berat, terkompresi. mungkin karena kurang olahraga atau kurang piknik, tidur menjadi susah sekali. rasanya kalau memejamkan mata, nafas tidak menjadi autopilot. sering kehilangan nafas saat ingin tidur. lupa bernafas. ada yang tau gangguan ini?

jadi, untuk membunuh waktu dan menunggu waktu kantuk, saya memutuskan untuk mencari wacana. salah satu yang pas adalah ide-ide transhumanis. sederhananya, menggunakan segala sumberdaya teknologi, bioteknologi, bioenjineering, nano teknologi, dan banyak paham-paham lain untuk meningkatkan taraf hidup manusia. beberapa pembicaraan di TED menyarankan untuk editing gen manusia dengan sebuah software termutakhir, mungkin untuk menghilangkan string spesifik dari untaian gen yang katakanlah, bertanggung jawab untuk sebuah penyakit serius. pembicaraan lainnya mensugestikan bahwa suatu saat di masa depan yang tak jauh lagi, manusia akan mengobati dirinya melalui penyembuhan tingkat sel. tanpa obat atau injeksi. lainnya datang dengan ide yang eksotis, mind uploading. mengunggah pikiran manusia, kalau suatu saat tubuh alaminya tidak bisa lagi menopang kehidupan. dan mengunduhnya lagi, mungkin kedalam tubuh baru hasil rekayasa di lab.

Elon Musk di pendiri Tesla, space X dan Paypal, menyarankan untuk kolonisasi Mars. demi tujuan spektakuler dari kemanusiaan, sebagai spesies interplanet. hal ini sebagai upaya anti kepunahan manusia jikalau tetap berada di bumi. dan jika suatu saat di bumi terjadi “kejadian level kepunahan manusia”. Jason Silva, visionaris youtube yang banyak mengunggah video tentang transhumanism dan singularity berkata lantang bahwa “we are the god now”. jangan takut tentang skenario skynet atau robot jahat khas film-film sci-fi, karena sebenarnya teknologi adalah perpanjangan tangan manusia. begitu jelasnya. menurutnya, perubahan fundamental manusia kearah singularitas salah satunya didorong oleh “free exchange of information”. pertukaran informasi secara bebas. jaman dahulu pengetahuan di kotak-kotaknya dalam segala macam struktur yang ada. sekarang berkat bantuan internet, untuk pertama kalinya manusia bisa berfikir selayaknya sebagai satu organisme tunggal, daripada hanya “8 milyar manusia” dengan berbeda pikiran. pertukaran informasi secara bebas pada akhirnya akan mengupgrade cara manusia untuk melihat dirinya sendiri, dan melihat dunia.

John Kurzweil, futurist terkemuka berkata demikian: otak kita bekerja secara linear. 1,2,3,4,5… namun teknologi bekerja secara eksponensial. 1,2,4,8,16… ambil 30 langkah linear maka kita akan mencapai 30. tapi ambil 30 langkah secara eksponensial, maka kita sampai ke milyar. kalau tahun 50an komputer sebesar lemari, tahun ini sebesar kantong, bisa jadi 20 tahun lagi komputer ada di sel tubuh kita. perkembangan teknologi yang eksponensial ini mengukuhkan kaum transhumanis bahwa teknologi ada untuk mengubah manusia (menjadi lebih baik menurut mereka). pada akhirnya diskusi tentang ini berembus pada satu wacana, immortality. bisakah? Elon Musk sendiri percaya bahwa tubuh manusia punya tanggal kadaluarsa, jadi dia agak skeptis dengan wacana immortality. yang lain datang dengan gagasan mind uploading (seperti diatas), cryostasis, rekayasa gen, kloning, dan kolonisasi angkasa.

jadi, seperti apa wajah kemanusiaan masa depan? singularitas (bertindak layaknya satu organisme tunggal)? skynet? poros transhuman-humanish (humanish adalah wacana bahwa di masa depan orang-orang yang memilih untuk tetap “natural” dan tidak terkontaminasi teknologi memiliki komunitas tersendiri yang harus dilindungi)? kolonisasi angkasa (mungkin akan ada UNSC – united nations of space command, macam franchise HALO)? atau skenario yang berbeda seperti new age (masuk jaman aquarius), armageddon, dan skenario surgawi seperti kiamat?

apakah nanti di suatu saat di masa depan (jika benar ada), ada terjadi kebosanan akan keabadian? bagaimana juga nasib semesta?

Anekdot, LifE, log

Visi…?

Ada kejadian menarik belakangan ini, dimana saya berfikir sangat keras untuk sekedar merumuskan visi. dan kemudian saya tersadar betapa terlambatnya bagi orang seperti saya untuk merumuskan visi saat ini. semuanya terjadi tahun ini. Tahun Kompresi, saya menyebutkan demikian.

Tahun ini luar biasa sekali tekanannya. Saya memang lebih suka menyeting hidup saya tidak jauh dari ketidakpastian, tapi entah mengapa tahun ini tetap saja sulit. Ada yang beranggapan bahwa semakin mapan kehidupan personal seseorang, semakin konservatif dia terhadap sesuatu hal. contohnya orang bujangan dengan yang sudah berkeluarga. Benarkah? Ya dan Tidak. Entah mengapa sebagian diri saya mengamini, sementara sebagian yang lain menolak. Secara tidak langsung saya tengah berkata bahwa saya telah melewati batas tak kasat mata (apapun itu), jadi pilihan untuk jadi konservatif lebih mengena. Sementara ada hal lain yang berkata bahwa semua tidak lebih dari sekedar keberanian untuk membuat perbedaan. Bagaimanapun itu sulit, merumuskannya adalah mutlak.

Jadi, visi apakah yang hendak saya bangun? Hei, bukanlah pembicaraan tentang visi ini sebenarnya sudah basi? Maksudnya, bukankah kau sedari dulu sudah memiliki visi? Ya dan Tidak. Jawaban sederhana untuk masalah ini adalah “saya lupa”. Dan beberapa kali saya mengingatnya, tetap saja ini bodoh, bodoh sekali.

Semua berawal dari ketidakmampuan saya untuk berbenah, atau menangkap rima dalam waktu, sehingga keadaan beruntung itu jauh saja dari pengamat. Dan seberapa kuatnya effort saya untuk mengejarnya tampaknya sia-sia saja. Tapi saya telah dilatih untuk tidak pernah menyerah. Ini garis yang telah saya pilih sendiri, benar atau salah. Dan pada akhirnya, hanya saya dan saya sendiri lah yang berhak memaknainya.

jadi saya akan merumuskannya, simpel, simpel saja. visi saya sederhana:

saya harus punya 10m pada usia 35 tahun.

dan saya akan memaknainya sendiri.

LifE, log

Spring of Hope

selamat malam. agak aneh kalau difikir, bahwa saya justru cenderung aktif menulis ketika malam hari. alasannya sangat simpel: malam itu sunyi, dan sunyi adalah satu-satunya bahan bakar yang dibutuhkan untuk berfikir, dan menuliskannya. oke, jadi darimana hendaknya kita memulai?

tanggal 7 maret kemarin saya resmi lulus dari perguruan tinggi. khatam pendidikan. wisuda. dalam bahasa sanskerta, wisuda ditulis vissudha yang artinya tercerahkan. apakah saya tercerahkan? ya dan tidak. kenyataan bahwa saya lulus telat dari batas waktu yang saya tetapkan sendiri menjadi sebuah tamparan moral dan integritas yang saya bangun sendiri. namun hikmah dari itu semua nampak jelas diakhir cerita, bahwa mengakhiri selalu lebih baik daripada digantung begitu saja. saya bersyukur telah menyelesaikan masa studi saya, ditambah kenangan bergelut dengan skripsi yang sebenarnya biasa saja, namun berubah menjadi luar biasa karena lompatan-lompatan semangat dan tawaran-tawaran untuk menjadikan lebih baik lagi. terima kasih, terima kasih.

tanggal 8 maret menjadi lebih spesial lagi karena saya memutuskan untuk menikah dengannya, dengannya, wanita yang selalu menyatakan dengan perbuatannya bahwa “aku akan selalu disampingmu, dalam keadaan apapun”.  dia dengan cara yang aneh menjadi bemper dan bahan bakar sekaligus untuk menggerakkan segala sumber daya. loncatan semangat dan harapan yang diperbarui lagi dan lagi. tidak ada fantasi dan melankoli dalam kehidupan kami. hanya penyeimbangan dan pengaturan lagi dan lagi, untuk memastikan bahwa kami akan (dan ingin) mendaki setiap puncak puncak yang mungkin didaki. dan semua itu mungkin karena dia. ya, karena dia. terima kasih untuk segala pengertiannya, bos!

lalu apa sekarang? saya telah menyelesaikan studi. sudah melengkapi separuh agama dengan menjalankan Sunnah Rasulullah. lalu apa? saya tidak khawatir dengan berbagai milestone konvensional. kuliah, lulus, kerja, menikah, punya anak, beli rumah, beli mobil, bla bla bla. percayalah bahwa sebenarnya hal itu bisa diubah sekehendak hati kita. namun ada hal lain yang lebih penting kiranya untuk difikirkan. hidup seperti apa kiranya yang ingin saya habiskan? karya seperti apa yang saya persiapkan untuk dunia? seperti apa saya ingin dikenang nantinya?

saya ingin menjadi berguna dimasyarakat, memiliki pencapaian dalam bidang yang saya geluti. menjadi role model bagi orang orang sekitar, dan menjadi kebanggan keluarga. hal hal tersebut setelah saya fikir-fikir lagi sangatlah konseptual. saya butuh model keinginan yang konseptis, namum juga praksis. karena sudah sangat sering saya bermimpi tentang visi atau apapun itu, dan melihatnya kandas tak berbekas hanya karena tidak dimotori oleh metode praksis yang bisa dijadikan acuan dalam bertindak.

jadi daripada saya bersusah-susah lagi membentuk ide-ide spektakuler namun mustahil. saya akan memancangkan kembali ide-ide lama yang sudah tertulis, menyebar diberbagai sudut ruang dan waktu, sebagai pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah saya didunia. saya ingin pergi menjelajah dunia. menjelajah Mars apalagi. saya ingin memiliki bisnis yang sustainable untuk 50 tahun kedepan. bergerilya dengan semangat progresif memasuki bidang-bidang bisnis yang mungkin dimasuki. mengembangkan bisnis yang sudah berjalan satu tahun ini, dan membesarkannya. memulai menulis lagi, dan menciptakan sebuah karya yang bisa dinikmati oleh mereka yang ingin beristirahat sejenak dari dunia. tetap ingin memiliki santuari kontemplasi pribadi dengan view yang kosmis. mewujudkan impian tiap minggu agar bisa berbagi dan memberi.

momen ini adalah trigger harapan yang meletus kala waktunya. loncatan-loncatan semangat yang berpendar cerah sekali di cakrawala. membawa ribuan harapan saya kedalam batas-batas yang baru saya ketahui. batas antara nyata dan tidak nyata. batas antara ada dan nihil. saya menginginkannya! saya menginginkannya!

LifE, log, Uncategorized

workspace

IMG_2026

Setiap orang punya definisi masing-masing tentang tempat kerja yang nyaman. Saya sendiri? sangat tergantung, bahkan kadang tanpa konsep sama sekali. atau bisa juga konsepnya sangat sederhana: sebuah meja, sebuah kursi, sebuah alat kerja, dan beragam kertas dengan berbagai tulisan yang menandakan itu hal yang penting. tidak ada yang spesial sesungguhnya.

tapi yang paling menarik adalah konsep kerja itu sendiri. mengapa harus bekerja, ketimbang, katakanlah, berdiam diri saja sambil tidur dan membaca sastra lama? mazhab utilitarian melihat bahwa bekerja adalah manifestasi tertinggi dari usaha aktualisasi diri manusia yang ingin beermanfaat. terlihat bahwa lagi-lagi maknanya mengerucut kedalam sebuah kata saja, manfaat. bekerja juga sesuatu yang sedari purba dipuji, masuk beragam kitab suci, dan kadang tempat kebanyakan orang menghabiskan 2/3 hidupnya.

karena sesungguhnya segala sesuatu didunia ini diperoleh dengan bertukar. barter. kamu menukar ijazah dengan pekerjaan, menukar nilai SMA untuk bisa belajar di perguruan tinggi. menukar skripsi atau tugas akhir dengan ijazah. menukar cincin untuk mempelai, menukar sejumlah uang untuk sebuah pekerjaan penting, dan menukar tenaga untuk lembar-lembar bernilai. bahkan juga menukar perbuatan baik dengan balasan sesudah kematian.

jadi sebenarnya saja, sederhananya, tak penting segala atribut pekerjaan itu. terlepas dari kedudukan pekerjaan yang satu dengan yang lain. karena intinya adalah, apakah selama ini kita melakukan pertukaran yang adil?

log

Kalau ada yang bertanya, apa moral dari sebuah cerita?

Kalau ada yang bertanya, “apa moral dari sebuah cerita?”
Maka aku akan menjawab bahwa moralnya adalah cerita itu sendiri, bahwa seseorang kadang harus menceritakan kisahnya –apapun itu. Kadang alasannya beragam, namun aku lebih senang mengatakannya sebagai upaya untuk membagi bebannya sendiri. Membaginya kedalam setiap baris dan lembaran kalimat dari ribuan kata. Dan sebuah kisah juga kadang tak mengandung moral apa-apa kecuali kisahnya itu sendiri, bahwa sebuah cerita kadang tak perlu moral untuk diceritakan. Pena dan kertas atau layar dan keyboard, atau touchscreen atau pita dan mesin ketik. Apapun.
Cerita juga tak pernah menuntut untuk jadi sempurna. Tak pernah marah kalau ceritanya tak pernah usai, atau penulisnya pergi. Meninggal atau lupa ingatan. Cerita tetap disana. Tempatnya selalu disitu. Disuatu tempat dimembran otak si penulis. Letaknya disimpul-simpul neuron. Bentuknya mungkin kimiawi. Dan butuh tenaga lebih besar lagi untuk si penulis merubah asa kimia ini menjadi materi. Dari ide menjadi fana. Dari surga turun kebumi.

Cerita tidak suka kalau dianggap jelek. Tidak ada cerita yang jelek. Semuanya sempurna seperti bayi yang baru lahir sejam yang lalu. Sempurna dan rapuh. Penulis adalah induknya. Ibunya. Persalinannya tak pernah lancar, karena mengeluarkannya dari “rahim” otak selalu bermasalah. Setidaknya itu yang selalu kurasakan saat mulai menyalin memori otak, anakku, kedunia nyata. Ke dunia yang bodoh. Idiot. Dunia sialan yang diabolis dan kadang tak ramah. Bahkan tak pernah ramah.

Dan, ada banyak alasan untuk menulis. Banyak, tapi butuh waktu lebih lama untuk menemukan satu – hanya satu – alasan dasar untuk mulai menoreh sejarah baru diatas kertas atau dilayar silau. Beberapa orang ingin namanya dipajang di rak-rak jaringan rak buku terkenal dikota-kota besar. Beberapa ingin dianggap sastrawan, walaupun sekarang sulit membedakan sastrawan dengan tukang gorengan (sama kontemplatifnya soal kehidupan). Ada yang berangkat dari ipk tinggi, dan pandai menulis, lantas mengirim naskah ke penerbit kemarin sore. Ada yang ikut-ikutan karena temannya sukses buat blog dengan visitor tinggi, dan blognya dinovelkan dan difilmkan. Beberapa mencoba menulis karena apes masuk jurusan sastra, dimana yang lainnya mengumpat karena harus menulis karena masuk jurusan sejarah. Cuma sedikit yang menulis untuk dahaga pribadinya, dan lebih sedikit lagi yang menulis untuk orang yang dikasihi, tanpa diketahuinya. Langka juga orang yang menulis karena tidak bisa membaca (yang terakhir ini kacau).

Cerita apa yang ingin didengar orang-orang? Cerita yang tokoh utamanya selalu menang? Happy ending? Cerita cinta dangkal ala teenlit? Biografi saduran internet? Buku teknis yang 2 bulan basi karena program sekarang diupdate harian? Cerita tentang konspirasi perusahaan rokok dengan kementrian kesehatan? Cerita tentang pengambilalihan dunia oleh organisasi jahat ala kamen rider? Cerita tentang penemuan dunia baru? Cerita cabul? Komik strip dengan pelajaran moral diakhir gambar? Ini lucu karena aku selalu bingung. Apa yang ingin kutulis? Aku tak pandai mengarang kisah fiksi. Dan kisah perjalanan-perjalanan ditanah tak bernama selalu sulit untuk dikeluarkan dari otak. Aku sering menulis pertanyaan. Aku suka bertanya. Hampir gila dan hampir tercerahkan karenanya. Aku tak pandai menulis filsafat. Rasanya mendekonstruksi filsafat Gramsci dan Fukuyama hanya berhasil diawal-awal bab buku mereka. Setelah itu mereka meracau, mungkin kesurupan. Foucault apalagi. Bukunya seperti buku kentut yang tak habis-habis. Benar-benar seperti kegilaan yang beradab. Tapi aku lumayan suka bercerita. Lumayan, bukan suka. Batas itu tegas. Benang merahnya terlihat, karena kusiram fosfor agar berpendar dalam gelap kehidupan.

Kadang-kadang kehidupan juru cerita itu tak seindah kisah yang mereka ceritakan. Dan cerita yang mereka karang, atau kisahkan, lebih bagus dari hidup mereka sendiri. Siapa yang memulainya? Tidak tahu dan tidak perlu tahu. Pikiran kita manusia sudah tertanam dari dulu, dari buku-buku lama, dari teks-teks kuno, dari tablet jaman assyria, dari hyreogliph mesir, dari pelepah lontar, dan dari buku cerita lima ribu perak dilampu merah, bahwa juru cerita haruslah seorang yang arif lagi bijak bestari. Dan bijak bestari selalu dikaitkan dengan kesederhanaan, dan kesederhanaan tak tegas batasnya dari kemiskinan. Apakah harus menjalani tapa brata dan semedi disungai tempur untuk menceritakan epos mahabarata? Apakah setiap cerita bernilai harus dipanggul oleh manusia suci yang –maaf– miskin? Apakah ada orang bijak yang menceritakan kisah suram? Tentang kiamat mungkin?

Apa batas tegas antara menulis dan cerita tertulis? Apakah yang kutuliskan ini adalah sebuah tulisan? Atau cerita? Aku pernah terbangun tengah malam. Bangun dengan jiwa yang merasa tua, dan masih terperangkap diwadah yang masih segar. Aku bingung. Dan dalam kebingungan aku berfikir, “apa batas tegas dari menulis dan cerita tertulis?” Dan sampai pagi aku merenung, dengan aplikasi olah kata terbuka disebuah layar silau diranjang, dan sebuah pulpen tanpa kertas ditangan kiri. Lebih mirip seseorang yang bingung mengisi tts daripada seorang filsuf amatir tanpa gelar yang merenungkan kehidupan. Dan sampai pagi jawaban tidak muncul. Aku menebus kesalahan dengan tidur lagi. Menyedihkan sekali.

Kalau sifat dasar manusia itu bergerak maju, haruskah ada manusia-manusia gagal? Bukankah gagal atau tidaknya itu adalah persepsi pikiran? Mengapa harus ada mereka yang gagal? Apakah mereka yang gagal pernah merasakan atau memikirkan hal ini? Sepertinya iya, karena aku sedang memikirkannya. Jalan pertama yang kulalui adalah jalur surga. Lalu gelap tanpa pegangan. Lalu aku diusir dari surga. Lalu aku tinggal ditanah profan. Lebih mirip purgatory. Lucu mengingat kalau dulu aku pernah memegang jalur surga sekuat hati, sepenuh jiwa. Memegangnya dengan gigi geraham. Semua hal adalah sakral. Lalu gelap datang dan peganganku terlepas. Semua hal jadi profan. Mau jujur? Aku tak suka hal ini. Aku benci tiap detik didalamnya. Dan lucu juga mengingat betapa bodohnya aku. Pathetic moron.

Kembali ke cerita. Apa moral dari sebuah kisah? Agar kau tahu, dan kau faham. Mengerti dan menjauh jika itu buruk bagimu. Faham dan mengekor jika itu baik bagimu. Mari kita sederhanakan semua, namun tidak lebih sederhana lagi. Cerita tak harus punya setting waktu. Seperti cerita ini, tanpa waktu. Timeless. Aku tak berniat membubuhkan paraf waktu disini. Biarkan cerita ini dibacakan diluar buku waktu. Diluar jadwal Masinis Alam Semesta. Biarkan dia asing dan hanya dibaca mereka yang sempat keluar dari beban waktu. Para manusia-manusia malas dan congkak. Dan para manusia yang pintar dan bijak. Biarkan cerita ini juga hilang tak dicatat waktu. Dibawa angin menjauh dari pohon pengetahuan. Terlantar dan layu seperti bintang sekarat. Jadi pengembara abadi dalam simpul-simpul maha luas dari penciptaan. Dicaci dan dipuji. Dibaca dan dibakar. Biarkan dia menemukan tempatnya yang tidak ada. Biarkan dia wafat di kampungnya yang tak pernah dikenal. Biarkan dia hilang dalam peristiwa yang tak pernah terjadi.

Jadi, apa moral dalam cerita ini?

log

Profan

Philosophy is a lullaby
— Hegel

Bahkan Hegel si Bapak filsafat modern yang membidani lahirnya dialektika pun, mengakui dalam magnum opusnya, bahwa filsafat itu sebuah kebingungan. Tapi saya tidak akan membahas masalah filsafat, hegelian kanan ataupun hegelian kiri. Frankfurt atau utilitarian. Saya ingin berbicara yang diabolis. Tentang yang filosofis dan praksis, yang sakral dan yang profan, yang mengawang-awang dan membumi.

Dimana posisi manusia?

Mengapa harus ada titik cabang? Mengapa atom harus terbagi menjadi dua saat dihadapkan pada dua pilihan? Apakah waktu linier, atau paralel? Dan penjelasan selalu tak cukup. Terjebak disuatu waktu kosmis bisa membuat dirimu gila.

Mengapa harus hidup dalam cercaan dan pujian orang lain?

Lalu bagaimana sebenarnya hidup itu? Apa hikmah dari masalah? Apa gunanya kontemplasi?

Apa batas yg kasat mata antara sakral dan profan?