puisi

Apa gunanya?

Apa gunanya
Punya banyak pantai
Pasir putih nyiur melambai
Jika waktu hanya dihabiskan
Untuk bekerja?

Apa gunanya
Punya uang banyak
dompet tebal dan rekening gendut
jika tak punya waktu
untuk keluarga?

Iklan
log, puisi

Log maret

Aku mengantuk
Mengutuk kerjaan yang menumpuk
pagi siang kerja kuli
malam kadang lupa ngopi

ah, setan alas dan bajingan
boleh mencerca mimpi dan keinginan
mengutuk cara berpikir
dan mendikte sampai akhir

aku capek dan lapar
tanpa tidur, tak doyan makan
demi apakah?
demi apakah?

demi bayar cicilan
dan mimpi yang entah kapan
jadi kenyataan
jadi kefanaan

puisi

Perihal kamu yang keranjingan ngopi

masnun namanya
biasa mangkal di pertigaan pasar
kalau malam, wajib main gaplek
bersama yadi dan sudir

masnun akhir-akhir ini berubah
tidak lagi main gaplek
gosip mistis, atau ngomong politik
yadi dan sudir kehilangan

masnun ternyata disana
di warung kopi mbok yu
pesan kopi saset
diseruput seperti latte

lama-lama dia bosan kopi saset
terlalu sering buka youtube
inginnya ngopi mahal
yang bijinya diulek langsung

masnun ketagihan ngopi
dan mulai berfilosofi
mencari nikmat dalam cangkir
dompet kempes tak dipikir

masnun dulu lebih suka extra joss
atau wedang jahe sambil bilang “los!”
main gaplek sambil menghina pemerentah
kalah dan sumpah serapah

tapi sejak ngopi saset
masnun selalu ingin ngepet
demi berfilosofi
dengan segerombolan penjudi

kamu memang keranjingan ngopi
kata yadi dan sudir penuh arti
tapi tak perlu berfilosofi
karena kopi tinggal dinikmati

puisi

Seribu

seperti pagi yang tak meminta untuk datang
seperti pagi yang tak selalu cerah
seperti pagi, ingatanmu kupetakan lembut
seperti pagi, penanda awal hari

kuingin mencicip segala rasa
jika kelahiran kembali adalah pasti
maka kupinta pada semesta
aku ingin lahir di seribu semesta berbeda
pada seribu kurun berbeda

kucari cetak biru mu dalam seribu semesta berbeda
dalam seribu kurun berbeda
kuulang-ulang seribu kali
kuingat dalam seribu kali penciptaan

jika semesta berbeda, benar adanya
kucari pagi mu pada seribu pagi
pada seribu semesta berbeda
pada setiap seribu simpul yang mungkin

seperti pagi yang tak selamanya cerah
begitu pun setiap keinginan dan perjumpaan
tapi, bulan

Aku telah membuat pilihan

puisi

Star trail

Barangkali aku telat berfikir
Atau candu akan tafsir hidup telah mengubah ku;
Menjadi tumpul akan meragu
Melelahkan langkah bagi jiwa
Untuk singgah;
Pada puncak-puncak yang ingin kudaki
Sebelum setiap masa berubah jadi parit
Yang penuh isinya dengan pilihan
Yang terlontar kala
Tak dipilih

Isinya hanya repetisi saja
Atau igauan berulang-ulang
Tanpa maju untuk jadi ada
Hilang berganti jadi hasrat
Untuk diam, jauh menyepi
Dalam suka duka antroposentris

Tapi hilang tanpa ragu jadi makna
Yang hilang di parit perjalanan
Mungkin juga jadi sebab
Untuk mendaki lagi
Puncak-puncak galaksi
Dan relung relung senyap Nova
Menyebar, tanpa arah dan batas

Siap untuk itu, apapun keadaanya
Semesta kerap bicara
Dalam diam seperti biasa

puisi

kebenaran dari tulisan

kau ingin cerita panjang
epos nun jauh
dari negeri para perkasa

kau ingin kemerdekaan
kebebasan yang tinggi
kisah tanah, atau
realisme sosialis

yang kau inginkan adalah terus
terus terusan saja menyimak
tak peduli kisah apa ini

kau ingin cerita hebat
wira lagi karta
siapapun menang, kau mengerang
ingin, ingin lagi

kau ingin bias ada dan sirna
dalam tapakmu
dan menjelma jadi kisah
yang kau hafal akhirnya

kau ingin romantisme
dari tarian kata materi
dan bumbu hierarki
untuk prosa pendek
yang kau tuntut sudahnya

namun…
namun oh sang keagungan!
oh sang hierarki tertinggi dari untaian rantai sastrawi!
sang akhir dari awal yang terbaca!
wahai sang penyimak!
wahai kau yang tak pernah puas!

siapakah aku…
yang bisa melegakan dahagamu?

puisi

apa itu merapal sebab

tersebutlah
Kusdi, anak putus sekolah
inginnya besar sekali
sayang nyalinya kecil
hanya habis dibuat tarung ayam;
beli aibon murah, dan curi spion

diseberang ada Kabul
tak berada dan miskin papa
saban hari dihabiskannya;
untuk baca koran, sisa gorengan
punya majikan

sebab Kusdi
hidup untuk hari itu saja
perihal perut kenyang saban hari
kawan Marx mengamininya dari dalam kubur
lahir miskin dan mati miskin
seperti orang dulu kala

sebab Kabul
tau, ingin tau
haus dahaga akan gelap
ingin disinarinya
dengan ejaan ejaan kecut lagi setengah setengah
untuk jalannya yang berkabut

maka siaplah mereka merapal sebab
mencari premis sendiri dalam kulit sosialnya
mencari tau sendiri
memaknai awal
untuk siap diakhiri

maka apa itu merapal sebab?

ialah itu, mencari tau tempatmu
untuk tau jalanmu
melihat premis
memaknai ada
menyimpan start

atau kau bisa memanggilnya apapun