LifE, log

wacana h+

mengapa kematian tak berhenti saja?
atau keabadian menguap saja
meninggalkan kita sendiri;
disini

dalam cahaya dan gravitasi
dalam hampa dan pekat

 

Akibat akhir-akhir ini sering tidur telat, berkontemplasi jadilah kegiatan semalaman. kurang tidur atau susah tisur jadi sama saja. waktu ini akan kuingat terus, sebagai pengingat bahwa waktu yang spesifik pada saat ini sebagai waktu yang berat, terkompresi. mungkin karena kurang olahraga atau kurang piknik, tidur menjadi susah sekali. rasanya kalau memejamkan mata, nafas tidak menjadi autopilot. sering kehilangan nafas saat ingin tidur. lupa bernafas. ada yang tau gangguan ini?

jadi, untuk membunuh waktu dan menunggu waktu kantuk, saya memutuskan untuk mencari wacana. salah satu yang pas adalah ide-ide transhumanis. sederhananya, menggunakan segala sumberdaya teknologi, bioteknologi, bioenjineering, nano teknologi, dan banyak paham-paham lain untuk meningkatkan taraf hidup manusia. beberapa pembicaraan di TED menyarankan untuk editing gen manusia dengan sebuah software termutakhir, mungkin untuk menghilangkan string spesifik dari untaian gen yang katakanlah, bertanggung jawab untuk sebuah penyakit serius. pembicaraan lainnya mensugestikan bahwa suatu saat di masa depan yang tak jauh lagi, manusia akan mengobati dirinya melalui penyembuhan tingkat sel. tanpa obat atau injeksi. lainnya datang dengan ide yang eksotis, mind uploading. mengunggah pikiran manusia, kalau suatu saat tubuh alaminya tidak bisa lagi menopang kehidupan. dan mengunduhnya lagi, mungkin kedalam tubuh baru hasil rekayasa di lab.

Elon Musk di pendiri Tesla, space X dan Paypal, menyarankan untuk kolonisasi Mars. demi tujuan spektakuler dari kemanusiaan, sebagai spesies interplanet. hal ini sebagai upaya anti kepunahan manusia jikalau tetap berada di bumi. dan jika suatu saat di bumi terjadi “kejadian level kepunahan manusia”. Jason Silva, visionaris youtube yang banyak mengunggah video tentang transhumanism dan singularity berkata lantang bahwa “we are the god now”. jangan takut tentang skenario skynet atau robot jahat khas film-film sci-fi, karena sebenarnya teknologi adalah perpanjangan tangan manusia. begitu jelasnya. menurutnya, perubahan fundamental manusia kearah singularitas salah satunya didorong oleh “free exchange of information”. pertukaran informasi secara bebas. jaman dahulu pengetahuan di kotak-kotaknya dalam segala macam struktur yang ada. sekarang berkat bantuan internet, untuk pertama kalinya manusia bisa berfikir selayaknya sebagai satu organisme tunggal, daripada hanya “8 milyar manusia” dengan berbeda pikiran. pertukaran informasi secara bebas pada akhirnya akan mengupgrade cara manusia untuk melihat dirinya sendiri, dan melihat dunia.

John Kurzweil, futurist terkemuka berkata demikian: otak kita bekerja secara linear. 1,2,3,4,5… namun teknologi bekerja secara eksponensial. 1,2,4,8,16… ambil 30 langkah linear maka kita akan mencapai 30. tapi ambil 30 langkah secara eksponensial, maka kita sampai ke milyar. kalau tahun 50an komputer sebesar lemari, tahun ini sebesar kantong, bisa jadi 20 tahun lagi komputer ada di sel tubuh kita. perkembangan teknologi yang eksponensial ini mengukuhkan kaum transhumanis bahwa teknologi ada untuk mengubah manusia (menjadi lebih baik menurut mereka). pada akhirnya diskusi tentang ini berembus pada satu wacana, immortality. bisakah? Elon Musk sendiri percaya bahwa tubuh manusia punya tanggal kadaluarsa, jadi dia agak skeptis dengan wacana immortality. yang lain datang dengan gagasan mind uploading (seperti diatas), cryostasis, rekayasa gen, kloning, dan kolonisasi angkasa.

jadi, seperti apa wajah kemanusiaan masa depan? singularitas (bertindak layaknya satu organisme tunggal)? skynet? poros transhuman-humanish (humanish adalah wacana bahwa di masa depan orang-orang yang memilih untuk tetap “natural” dan tidak terkontaminasi teknologi memiliki komunitas tersendiri yang harus dilindungi)? kolonisasi angkasa (mungkin akan ada UNSC – united nations of space command, macam franchise HALO)? atau skenario yang berbeda seperti new age (masuk jaman aquarius), armageddon, dan skenario surgawi seperti kiamat?

apakah nanti di suatu saat di masa depan (jika benar ada), ada terjadi kebosanan akan keabadian? bagaimana juga nasib semesta?

puisi

teduh

ya, sajak ini sebagai pengingat saja
akan dedaunan yang jatuh, akan kehangatan yang menembus;
dalam celah-celah ranting;
dalam suara lembut angin.

senyummu kukekalkan siang itu;
dalam kenangan yang bias
dalam aroma pantai; dan aroma tubuhmu.
dan suara-suara semak
yang menyorak

atau kicauan kecil kita
tentang apa saja;
tentang yang lalu atau selanjutnya
tentang sirna atau fana
atau tak terencana
atau bias dan hilang

mereka merapal teduh siang itu
sebagaimana seharusnya angin dan ombak pada tempatnya
seharusnya siang itu tak kekal
hanya lalu saja, jadi bias
dan teduhmu menjadi kenanganku

untuk terus menepi

InterneT, LifE

problem kekinian: malpraktik resep online

2 tahun belakangan ini saya memulai bisnis sendiri di kontrakan. bisnis yang diseriusin, bukan yang sambi lalu saja seperti dulu-dulu. akhirul kalam, saya punya banyak waktu dirumah. karena pusat hidup saya hanya disitu-situ saja jadinya. untuk membunuh bosan, saya mencoba memasak. saya dan istri suka banyak hal, cemilan pasar atau street food. burger, kebab, pempek, mendoan, dll banyak sekali. sampai kami berfikir kenapa tidak dicoba saja dirumah? pasti bahan yang dibutuhkan leih murah daripada beli.

dan satu-satunya yang bisa diandalkan kalau seperti ini ya google! membuka resep masakan dan camilan. sepertinya sekarang banyak sekali situs resep makanan yang berkeliaran disana. dan dari sinilah kejadian bermula. eberaa waktu lalu saya ngotot pengen buat pempek sendiri. setelah googling, ada perbedaan. tepung beras yang lebih banyak atau tepung terigu? diayak sampai kalis atau seperlunya saja? hal ini sangat mengganggu karena situs resep yang jadi rujukan saya seringkali hanyalah situs konten pasaran yang digunakan untuk pasang iklan, konten nomor sekian. hasilnya berantakan. saya coba sekali lagi, salah lagi. kemarin bikin mendoan berdasarkan resep juga jadinya gorengan tempe. akhirnya saya beli tepung mendoan saja 😀

hal yang bisa dipetik dari kejadian ini adalah:

  1. jika ingin membuat resep suatu makanan, apapun itu, jangan cari satu resep tunggal. bukalah beberapa situs, 3-4 situs. jika bahan dan langkahnya konsisten, maka bisa dicoba. seringkali situs resep tidak peduli dengan hal ini (karena hanya mengejar view, judul bombastis, isi kulit semua). misalnya di satu situs tepung 100gr, disitus lain tepung 1 sdm, padahal takaran lain sama. repot? iya!
  2. banyak situs resep belakangan ini hanya sebuah lahan bisnis baru untuk mendulang rupiah dari adsense, dengan kata kunci yang beragam di sektor kuliner. namanyapun sangat beragam, resepharian, resepnasional, anekaresep, dll. sebenarnya kita sebagai end user menjadi terbantu dengan ini, namun juga perlu diperhatikan dari kualitas kontennya (bukan hanya sekedar konten lolos copyscape), karena pengunjung tidak hanya akan melihat dan membaca, namun juga mempraktikkannya.
  3. ada baiknya jika anda ingin membuat resep masakan dengan merujuk secara online, gunakan saja layanan video seperti youtube agar tidak meraba kata-kata di situs resep. menonton video bisa menjadi lebih mudah, karena kita bisa melihat langsung prosesnya. tapi tunggu dulu! sekarangpun video youtube telah berubah menjadi ladang baru untuk monetisasi. jadi ada video resep, yang ketika dibuka, isinya hanya slide gambar dan teks cara pembuatan (ada musik ala kadarnya). hindari menonton video seperti ini. karena selain membuang data, kurang manfaat juga. lebih baik tonton video cara pembuatan yang real.

jadi begitu. selamat mencoba, jangan sampai salah masuk situs ya!

 

jelajah, LifE

yang murah di Kota Malang

Banyak sih yang bilang kalau di jogja yang notabene kota pelajar itu harga makanan sangat terjangkau. benarkah? ya dan tidak. beberapa kali saya ke jogja, karena banyak saudara disana. harga makanannya menurut saya tidaklah murah. mungkin memang ada yg miring banget, tapi itu benar-benar harus mubeng kemana-mana hehe. mungkin karena jogja juga merupakan destinasi wisata andalan, jadi harus pinter-pinter pilih tempat makan. kalau kita memang pandai mencari warung atau angkringan murah, pasti dapat.

Hal yang sama berlaku juga di Malang. kalau kamu tidak tahu tempat makan yang enak lagi murah, ya pasti kamu punya anggapan kalau makan di Malang itu mahal. ini tidak salah, karena banyak juga pedagang kegelapan yang seenaknya pasang harga tinggi begitu yang beli dilihat pakaiannya necis, bahasanya beda, dan rupanya bersih. kelakuan buruk di Malang.

jadi kali ini saya akan berbagi berbagai macam tempat makan yang enak dan murahnya miring, di Malang.

  1. Mie Mek. Mie mek secara kasar bisa diartikan sebagai mie pangsit. kenapa namanya mie mek? mek=cuma (bahasa malangan). jadi mie mek, mie cuma. cuma apa? cuma 2500! dulunya malah 2000. semangkok mie pangsit cukuplah buat menunda lapar. awalnya mie mek cuma ada di belakang pasar besar dan di comboran. sekarang udah menyebar, macam franchise saja. rasanya? enaaak! apalagi tambah pentol cuma 500 rupiah. langganan bapak-bapak angkot dan becak, serta ibu2 yang habis shopping di pasar. rekomended!
  2. bacem klojen. bukanya sore sampe malam. dulu nasi bacem tempe lengkap dengan lalapan harganya 3000 aja. sekarang? mungkin 5000. lalapan ayam bacem 7000. rame kalau malam malam. coba lihat di perempatan yang dekat stasiun. di sukun juga ada, dekat lampu merah sukun. rasa gurih, lembut. rekomended!
  3. pecel. biasanya pagi-pagi banyak yg jual pecel di seputaran jalan-jalan utama kota Malang. harga pecel biasanya seporsi 5000 aja. jangan lupa, sebelum beli tanya dulu harganya. kalo ga, habis makan bisa-bisa jadi 15.000, hehe.

apa lagi ya? nanti kalau ada saya update lah. over and out.

Anekdot, LifE, log

Visi…?

Ada kejadian menarik belakangan ini, dimana saya berfikir sangat keras untuk sekedar merumuskan visi. dan kemudian saya tersadar betapa terlambatnya bagi orang seperti saya untuk merumuskan visi saat ini. semuanya terjadi tahun ini. Tahun Kompresi, saya menyebutkan demikian.

Tahun ini luar biasa sekali tekanannya. Saya memang lebih suka menyeting hidup saya tidak jauh dari ketidakpastian, tapi entah mengapa tahun ini tetap saja sulit. Ada yang beranggapan bahwa semakin mapan kehidupan personal seseorang, semakin konservatif dia terhadap sesuatu hal. contohnya orang bujangan dengan yang sudah berkeluarga. Benarkah? Ya dan Tidak. Entah mengapa sebagian diri saya mengamini, sementara sebagian yang lain menolak. Secara tidak langsung saya tengah berkata bahwa saya telah melewati batas tak kasat mata (apapun itu), jadi pilihan untuk jadi konservatif lebih mengena. Sementara ada hal lain yang berkata bahwa semua tidak lebih dari sekedar keberanian untuk membuat perbedaan. Bagaimanapun itu sulit, merumuskannya adalah mutlak.

Jadi, visi apakah yang hendak saya bangun? Hei, bukanlah pembicaraan tentang visi ini sebenarnya sudah basi? Maksudnya, bukankah kau sedari dulu sudah memiliki visi? Ya dan Tidak. Jawaban sederhana untuk masalah ini adalah “saya lupa”. Dan beberapa kali saya mengingatnya, tetap saja ini bodoh, bodoh sekali.

Semua berawal dari ketidakmampuan saya untuk berbenah, atau menangkap rima dalam waktu, sehingga keadaan beruntung itu jauh saja dari pengamat. Dan seberapa kuatnya effort saya untuk mengejarnya tampaknya sia-sia saja. Tapi saya telah dilatih untuk tidak pernah menyerah. Ini garis yang telah saya pilih sendiri, benar atau salah. Dan pada akhirnya, hanya saya dan saya sendiri lah yang berhak memaknainya.

jadi saya akan merumuskannya, simpel, simpel saja. visi saya sederhana:

saya harus punya 10m pada usia 35 tahun.

dan saya akan memaknainya sendiri.

cerpen, Original bRAIN

Konyol

Dusun kecilku mendadak geger setelah desas desus kemarin sore menyebar seperti hama. Tepat dibelakang desa, jalan terabasan menuju desa belakang didekat kuburan dusun, ada warga yang menemukan sebuah patung. Patung itu arca Dewi Sri. Kebanyakan warga dusunku, walaupun penetrasi agama abrahamik sudah sampai mengakar ke tulang-tulang mereka, tetap saja selalu percaya dengan hal klenik. Maka seperti halnya masyarakat pedalaman di Jawa, kemunculan arca dewi sri itu dikaitkan dengan satu hal: pertanda dari dewata. Sejak hari itu lokasi kemunculan arca itu mendadak ramai. Banyak yang menyaksikan karena penasaran saja, tapi tidak sedikit juga yang langsung bawa ubo rampe kembang dan ayam cemani. Segala pinta dipanjatkan. Kerumunan manusia selalu disambut oleh pelaku ekonomi bagai semut mendatangi gula. Lokasi itu juga ramai para pedagang, pedagang sesajen. Aku lihat terakhir kali bahkan sudah ada tukang parkir!

Sudah hampir seminggu sejak penemuan arca itu. Semakin banyak orang datang. Namun pemuda-pemuda dusunku justru membatasi orang untuk masuk. Gus Rohman yang punya pesantren yang kebetulan letaknya tak jauh dari lokasi penemuan itu sudah mewanti-wanti untuk menjauhi kemusyrikan. Dia merasa tersinggung pondok pesantrennya justru sepi, disaat yang sama 100 meter didekatnya orang beramai-ramai kumpul, tapi bukan untuk meminta pada Tuhan.

Para pemuda suruhan Gus Rohman manut saja, soalnya mereka takut Gus nantinya tidak mau mendoakan mereka waktu ada apa-apa, waktu nikah misalnya. Atau waktu ruwatan Gus tidak mau datang. Tapi namanya pemuda, darah mereka memang sedang membara-membaranya. Gepeng, pentolan pemuda desa Ningsekar –desaku- sibuk mengompori rekannya. Pemuda pengangguran yang kesehariannya utak atik cb tua dan mainan burung ini menjelaskan keuntungan patung dewi sri itu kepada temannya, Samsul.

“kon ngerti sul, aku krungu arek deso lor onok sing tembus nomere. Mari nggrandong nang buri!”*

Samsul hanya memperhatikan. Otaknya sibuk memikirkan mimpinya semalam. Mimpi itu dia kait-kaitkan dengan apa saja. Warna baju, suara tokek, bahkan suara penjaja bakso. Kode alam, mereka menyebutnya.

“aku bengi iki kate nang kono, siapa tau tembus!”** Gepeng semakin berapi-api. Sementara samsul mengangguk-angguk namun pikirannya buyar memikirkan tukang bakso yang kebetulan lewat. Biasanya si tukang bakso mengambil jalur kiri, namun hari ini jalur kanan.

Bagi Samsul, itu adalah kode alam. Dia mencatat rumus kiri kanan pada selembar kertas. Lama dia mengutak atik rumusnya sendiri. Dia kalikan dengan panjang jalan desa, lalu masing-masing ditambah dengan koefisien kiri kanan. Hasilnya harus ditambah lagi dengan angka firasat yang dia dapat dimimpinya. Tidak lupa juga dia menambahkan dengan agnka warna merah jambu, warna itu dia lihat dipakai oleh Wangi, wanita putus sekolah penjaja rokok kesukaannya. Lama lama dia mencoret kertasnya, diremas lalu dilemparnya sambil misuh.

“Jancok! Peng, ngkok bengi aku melok!”***

***

Bagi aku yang tamatan S1 ini, tidak ada yang lebih menyengsarakan daripada pulang kuliah membawa gelar namun tidak dengan pekerjaan. Kondisi sosial masyarakat didesaku tidak mau ambil pusing kau ingin pulang dengan gelar apapun, asalkan kau sudah bekerja. Pendidikan akademik tidak lain hanyalah sebuah tempat les yang ujung-ujungnya hanya memproduksi manusia siap kerja. Singkat kata, pendidikan menjadi perpanjangan tangan pasar yang menuntut kapasitas tenaga kerja yang handal, namun relatif murah. Setidaknya itu adalah garis besar kebijakan pendidikan di negeri ini, dan entah mengapa warga desaku mengamininya. Sudah setahun sejak aku menyelesaikan studiku, namun aku belum juga bekerja. Orang rumah sudah khawatir. Takut investasi berjuta-juta mereka tidak seperti diharapkan. Biaya pendidikan sekarang luar biasa mahal, wajar bila orang tua kadang kalap sampai menyogok untuk masuk sebuah instansi karena dipandang lebih efisien, daripada menyekolahkannya yang membuat waktu, juga tidak ada jaminan kerja.

Ibuku pun sangat khawatir. Panjang doanya tiap malam agar aku bisa bekerja. Aku sendiri bukannya tidak mau bekerja. Resiko orang idealis yang punya kode sendiri memang jauh lebih pahit. Aku ingin membuat sesuatu yang besar, yang tak mungkin dilakukan dengan bekerja 15 jam sehari dengan bayaran seadanya. Tapi ibu tidak mau tahu, omongan tetangga lebih sakti daripada buku-buku pencerahan sekalipun. Tapi kali ini kurasa dia sangat kelewatan.

“le, siapa tau ini pertanda. Coba kamu ke belakang desa, ke patung dewi sri itu. Siapa tahu dibukakan jalan”.

Ibu mungkin berfikir, jika Tuhan semesta alam belum mengabulkan doanya, mungkin saja tuhan kecil dibelakang desa itu bisa mengabulkan.

“buat apa sih, bu? Kayak tidak ada kerjaan saja”, aku menimpali.

“ya kayak kamu ini yang nggak ada kerjaan, kuliahmu larang, le. Apa hasilnya?”

Aku terdiam. Ibu sudah kelewatan karena menyuruhku meminta pada patung. Tapi perkataannya barusan juga benar. Aku terdiam saja.

“ingat, le. Ibu bapak sudah tua. Adik-adik kamu juga masih belum selesai. Ibu menyuruhmu kuliah karena ibu tahu Cuma kamu yang bisa diandalkan, le. Pokoknya kamu harus dapat kerja ya, kalau tidak kamu ke belakang desa sana. Beli sesajen dijalan, jangan lupa”.

Aku terdiam. Tertegun. Seratus persen benar perkataan ibuku. Sungguh sangat sulit mempertahankan idealisme. Saat ini aku sadar bahwa hal baik pun harus didukung dengan kekuatan finansial. Kekuatan ini hanya bisa kudapat jika aku menukarkan keahlian yang kubeli saat kuliah dengan uang uang gaji bulanan. Menyedihkan sekali.

Aku kuat jika diejek teman-temanku. Aku kuat jika diejek tetangga-tetangga, toh aku tidak minta makan dari mereka. Aku kuat harus berjalan dijalan desa dengan status “sarjana nganggur”. Tapi aku tidak kuat kalau ibuku sendiri memintaku untuk hal yang aku belum persiapkan.

Sambil berjalan keluar rumah aku berfikir bagaimana caranya agar ibuku tidak menyuruhku lagi. Sampai depan warung pak solkan aku menemukan caranya: akan kuberikan apa yang dia inginkan, untuk memberinya pelajaran. Akan kudatangi patung itu dengan sesajennya, kufoto sekalian. Jika hal ini tidak berhasil aku akan memberitahu ibuku, bahwa sangat konyol bagiku, bagi kami untuk menyandarkan sesuatu bukan pada kekuatan sendiri. Aku berfikir lama, meyakin-yakinkan diriku bahwa ini adalah hal yang benar. Konyol, namun benar. Ya, ini benar, demi mimpi-mimpi dan rencana besar, ini benar!

Maka aku dengan wajah sumringah menyusuri jalan dusun, menuju belakang ke tempat patung dewi sri itu. Sepanjang perjalanan banyak mata yang melihatku. Aku tahu tatapan itu. Tatapan rasa kasihan karena pendidikan kota justru tidak membuatku menjadi berpenghasilan, namun latah mengikuti orang-orang untuk berwasilah kepada patung itu. Tidak masalah. Bagiku, pemahaman membutuhkan sedikit pengorbanan. Sebelum belokan belakang dusun aku membeli sesajen dulu. Mbok Ngantrem sudah lama jadi penjual kembang untuk tanggal nyekar tiap hari hari yang sudah ditentukan dalam pranata jawa. Namun melihat antusiasme warga untuk berkunjung ke patung dewi sri ini, dia langsung banting setir jadi penjual sesajen. Baginya sesajen dan kembang itu mirip-mirip. Arwah orang mati mungkin hobi makan kembang. Aku membeli paket lengkap berupa kembang tujuh rupa, kopi pahit sepahit-pahitnya, rokok jagung, dupa kualitas super, dan ayam cemani. Harus kurogoh kantungku sampai kempis. Kempis sekempis kempisnya. Ini sebagai tanda bahwa aku sungguh-sungguh ingin memberi pelajaran pada ibuku.

Setelah sesajen lengkap aku berjalan lagi. Sambil membawa nampan berisi sesajen yang lumayan berat. Dalam hati aku berfikir nakal untuk memotong anggaran untuk dewi sri. Ayam cemani ini saying sekali kalau hanya untuk dipersembahkan kepada patung, bukan dimakan. Mungkin para dewa tidak akan marah aku mengambil bagian pahanya. Toh mereka sudah mendapat dada, sayap, dan kepala. Aku tertawa kecil menyusuri jalan tanah dusun menuju lokasi patung. Orang-orang yang kutemui merasa heran. Mungkin aku dikira gila, membawa sesajen lengkap dan tertawa sendiri.

Memasuki area rawa tempat patung itu, aku terkejut. Sudah banyak polisi berjaga dan memasang garis polisi. Ada apa ini? Apakah ada kejadian kriminal? Atau polisi sekarang juga mengambil alih tugas untuk menjaga patung? Atau temuan ini begitu misterius sehingga kepolisian turut campur tangan? Aku kebingungan. Ini jelas diluar rencana. Aku mencoba mendekat, siapa tau mereka hanya berjaga. Warga yang ingin menghadap patung tetap diperbolehkan. Aku nekat mendekat. Beberapa warga didekatku berbicara serius. Katanya patung dewi sri yang muncul di rawa ini bukan muncul karena pertanda. Bukan muncul karena kemudahan hati para dewa. Namun ada pencuri benda cagar budaya yang mencurinya dari museum purbakala seminggu yang lalu. Si pencuri lantas membuangnya ketika kabur melewati dusunku karena sedang ditangkap. Desas desusnya patung ini bernilai sangat tinggi karena hanya satu-satunya patung dengan posisi tidak biasa, seperti yang biasanya ditemukan…

Aku bingung. Sesajen sudah ditangan, pinta siap diucapkan. Tapi patung itu sendiri tidaklah mistis atau tuah. Dia ada disana karena ulah konyol si pencuri. Aku memaki dalam-dalam…

 

* kamu ngerti sul, aku dengar anak desa utara ada yang tembus angkanya. habis nggrandong di belakang!
** aku malam ini mau kesana, siapa tau tembus!
*** Jancok! Peng, nanti malam aku ikut!
LifE, puisi

Kamu

Adalah pagi yang membuat segalanya menjadi mungkin, atau hampir mungkin

Dan senyapmu kulihat kala pagi berseri, tetap disana bagai kelabu

Seperti tumpukan hujan yang menari dalam lumpur

Atau seperti angin yang meledak dalam udara

 

Adalah kamu, dan dirimu yang membuat segalanya mungkin, atau pasti mungkin

Dan memberikan kekuatan seperti bensin kepada mesin, atau air kepada dahaga

Membuat jari jemari, dan selubung simpul bekerja, seperti seharusnya

Bahkan lebih keras lagi

 

Kamu adalah alasan, lompatan semangat, letusan harapan. The Last Piece. Takdir.