Uncategorized

Zor

karena seperti semesta
suka mu tak kekal
dukamu pasti berakhir

sukacita hanya mampir
terganti menjadi lara
seperti semesta
atau siang malam

terombang-ambing
dalam timbangan semesta
mengisi setiap lorong
setiap hembus nafas

cita mu tak kekal
begitu juga sedihmu
jadi
mari kita ikuti saja

dan rayakan setiap kehilangan

Iklan
Uncategorized

Aku ingin

aku ingin pergi jalan
dengan kawan
berkawan langit bintang
kemanapun hasrat berpinta

aku ingin segala rasa
kucampurkan bagai air mengisi cangkir
nominal kosmis tanpa rupa
kuaduk berputar seperti air

aku ingin mengukuhkan rasa
mengkristalkannya ke udara
pada hampa keinginan
surgawi perjalanan

aku ingin pergi tualang
sendiri atau berkawan
pergi melamun saat luang
dan pulang saat hendak makan

aku ingin pergi jalan
tapi banyak kerjaan
cicilan dan target bulanan
yang siap mengobrak-abrik keinginan

Uncategorized

01

kupikir,
pada akhirnya kita akan menghilang juga
jadi
kekalkan saja saat ini

tapi,
jika alasan menghilang jadi tujuanmu
untuk tidak merayakannya
biarkan saja

senja,
jingga perlahan, memudar pendarnya
terganti malam pekat tak bernyala

namun,
semesta tak tidur
dalam selaput batas-batas indra
terdapat disana, ribuan semesta bertakhta

tanpa akhir!

Uncategorized

Wahyu

saban malam itu rusdi sedang rokokan
malam sentosa, lingsir dan wingit
dalam dalam dihirup, diingat-ingat rasanya
pikirannya sedang tak disini

ah, enak kalau ada duit
atau tak punya utang atau cicilan
enak kalau tiap hari bisa madat
sehabis ke sawah badan selalu penat

sekonyong uwit bambu bergerak pelan, menunduk
rusdi bingung, makin dalam hirup dan asapnya
apa ini?
pikirnya malaekat turun

sekonyong bayang putih turba
tepat di uwit bambu pak Surda
malam sentosa, lingsir dan wingit
rusdi tafakur, jadi siap nerima wahyu

bayang putih mendekat
rusdi siap jadi nabi
bayang putih berucap
“kerja yang benar jangan kebanyakan ngasep!”

Uncategorized

Mari

mari samakan persepsi kita tentang itu
tentang jalan yang kau pilih
dan tentang pilihan-pilihan
atas keputusan yang kau ambil dan urungkan

sudahlah jangan mencerca waktu
cerca saja dirimu sendiri
salahkan orang lain
atau kau bisa mulai berbenah

hei, jalan ini tak sesulit nampaknya
rambunya cukup jelas walau sulit terlihat
udara memang kerap berganti
namun kaki berbicara pasti

apa itu tujuan?
apa itu rumah dan jalan terakhir?
bukankah kita hanya berjalan?
dalam perjalanan panjang dan hanya itu?

maka, mari kita samakan persepsi
jalan itu tak buntu disini
hanya memutar saja
jalurnya kau tentukan sendiri

Uncategorized

Pikiran akhir tahun

saat hujan pagi hari
pikirku banyak
sebentar-sebentar timbul tenggelam
bagai nyawa tanpa rupa

hujan semakin deras
pikiranku semakin ganas
banyak keinginan
namun tak bergerak

seperti tanah yang basah
atau daun yang terkoyak
hujan jadi penanda akhir tahun
atas tugas yang tak terselesaikan

LifE, log

Rigel

Rigel terkekeh. Raut mukanya nampak jelas, seperti sungai dengan banyak cabang dan berakhir di senyum lugasnya. “segala sesuatu tak harus sesuai kelihatannya”, ucapnya pendek. Aku menerka-nerka walaupun kelihatannya mudah dicerna. Segala sesuatu memang tak pernah sesuai dengan apa yang terlihat. Orang-orang memberikan alasan atas berbagai hal yang mereka lihat. Setidaknya aku berfikir demikian. “sebenarnya tidak ada alasan. Hanya tafsir-tafsir individual”, Rigel berucap lagi. Kali ini kedengarannya seperti dosen filsafat ilmu. Tapi aku menangkapnya dengan baik. Sesuatu memang disitu pada mulanya, apapun itu. Sampai kita menafsirkannya demikian. Sebelum itu sesuatu tak tentu kelihatannya. Superposisi.

Rigel membetulkan cara duduknya. Aneh sekali karena dia selalu terperosot dari kursi kesukaannya. Kuil ini tidaklah besar baginya, namun dia suka sekali kuil ini. Manusia memang hebat, dia selalu berfikir demikian. Rigel menggaruk-garuk lehernya yang sepertinya tidak gatal. Lebih kepada ungkapan apa lagi yang harus kuberitahu kepada bocah ini?  Dengan sekali kedipan mata sekarang dia berdiri. Lalu duduk lagi. Rigel memang begitu. Aku selalu menganggap dia dewa yang paling kikuk di parthenon ini. “Kau mengerti tempatmu sekarang?” ah, pertanyaan apa itu. Jawabannya pasti bukan seperti kelihatannya.  Aku tahu tengah berada di kuil Rigel sendiri. Pada hamparan debu kosmis luas tanpa tepi. Aku tahu bahwa aku makhluk fana yang cukup beruntung dapat kemari. Aku tahu posisiku lemah sekali. Namun aku tahu bukan semua itu yang Rigel inginkan. Jawaban itu terlalu statis dan menggantung pada akarnya. Mungkin dia mencoba meluaskan cakrawalaku.

“Dimana kau pada detik pertama penciptaan?” aku sedikit menyipitkan mata tanda berfikir. Jelas jawabannya bahwa aku tidak tahu. Apakah aku rencananya Nya sejak awal? Ataukah aku hanya potongan rantai yang berniat tercipta setelah ledakan sebab akibat berkongsi, membentuk jalinan posisi kosmis? Maksudku, apakah penciptaanku semula jadi, ataukah hasil kompromi dari triliunan opsi perjalanan? Sampai disini jawaban jadi semakin panjang. Rigel tetap pada kursinya dengan tangan terkepal pada sandarannya. Sepertinya dia ingin aku mengolah ide-ide itu. Menemukan suar dan anak sungai diriku sendiri. Membuatku paham posisiku dalam skema luas Pencipta. Aku ingin menjawab bahwa aku ada dalam rencana maha besar Sang Pencipta. Namun kelihatannya naif sekali. Membayangkannya sekali saja sudah membuatku tersadar bahwa bukan itu alasannya. Sulit kumengerti bahwa Pencipta spesifik menempatkanku ditempat ini untuk tujuan ini sekarang juga. Jikalau begitu, pastilah aku hanya bidak kecil dalam rencana Maha Luas Nya. Aku merasa kecil dan tak berarti. Tapi apakah benar itu jawabannya?

“Apakah benar seperti itu?” Rigel dengan presisi menebak isi otakku. Dewa yang satu ini memang terlalu suka melempar pertanyaan daripada menjawab dan menjelaskannya. Tapi perkataannya tadi seketika menjadi pertanyaanku. Bagaimana jika aku salah dan aku adalah rencana besar Nya?

Tapi apa alasannya?

Rigel selalu bilang segala sesuatu berjalan karena alasan. Begitupun pikiranku, atau daun jatuh, atau rasa jatuh cinta. Segala sesuatu memang berjalan karena alasan. Baik di dunia fana maupun di panggung besar kosmis. Alasan itu membuat kita terbangun setiap pagi, menjalankan seluruh kode-kode dan format apapun dalam tafsiran individual kita. Namun bagaimana aku mengetahui bahwa alasan ini, alasan yang sangat spesifik ini, adalah alasan spesial karena merupakan sisa-sisa penciptaan yang tercecer? Bagian dan rencana agung?

Aku berhenti mencari tujuan sejak aku menemukan alasan. Tujuan mengangkatmu dari titk satu ke titik lain. Namun alasan mengantarmu pada situasi yang lebih pelik dan dalam, sebuah kesempatan untuk mengintip kedalam kode sumber Sang Pencipta itu sendiri. Mencoba mengurai perintahnya, dan membawanya kembali ke panggung fana. Alasan juga yang membuatku tahan bertahun-tahun mengerjakan pekerjaan yang itu-itu saja dan menyiksa. Alasan membuatku bangun pagi demi menjalani hari dengan pola yang sama. Terus-menerus.

Alasan itu tidak harus nampak dan terbaca jelas. Alasan itu seringkali terlihat halus bagai remahan roti, atau seperti melihat dari celah rambut kekasih. Untuk alasan yang tidak dimengerti, Alasan itu selalu tak mau menampakkan dirinya yang sejati. Aku selalu mengingkan kehidupan yang baik. Rata-rata setiap orang demikian. Namun Alasan sejati dibalik itu jauh lebih kompleks lagi.

Saat itu aku sadar, pada keadaan itulah tangan-tangan pencipta menuntunku. Pencarian alasan ini menjadi jelas, siapa yang mencari dia akan menemukan. Alasan adalah bahasa Pencipta itu sendiri. Bahasa kosmis dan keinginan akan sesuatu diluar titik 1 dan 0. Alasan adalah manifestasi tertinggi dalam kuil manusia. Akar sekaligus buah dalam pohon hierarki semesta.

Rigel terkekeh. Berulang-ulang. Tawanya memecah dinding-dinding kuil. Menantul-mantul dan hilang pada lengkung pintu. Wajahnya nampak puas. Posisi tangannya terkepal. Semuanya.“Kau telah menemukan alasanmu. Segala sesuatu memang rencana besar Pencipta. Carilah itu, maka kau akan menemukannya.”