Uncategorized

Equinox

Seorang pertapa memandang serius, apa yang didepannya disebut dengan punden. Dilihatnya lama-lama sambil menghela nafas. Matanya berputar putar, berfikir. Pikirnya dia bisa linuwih malam ini, dengan merapal beberapa mantra kuno dan sajen kesukaan mbah petruk, yang diyakini bersemayam disini. Dia melihat dengan sayu, seakan putus doanya. Dipikirnya, “apakah sesuatu harus berulang?” dan titik balik apakah yang berada dibelakangnya? Pertapa bosan kalau harus merapal lagi mantra yang sama, punden tak juga keluar tuahnya. “Mungkin saja kamu buang waktu, atau jalan itu memutar tak disini”.

Dalam waktu beberapa lolongan anjing kampung, pertapa makin gelisah saja. Lama lama diseruput juga kopi yang disuguhkan untuk mbah petruk. Masa bodoh kalau sudah haus, perihal catut sajen jadi hal lumrah. Pertapa kembali merenung. apakah jalan ini benar adanya, dan berbalik dibenarkan untuk melangkah. Apakah celaku selalu disini, bersama ketiadaan untuk ada dan menjadi kelu dalam lidah disetiap ujarku?

Pertapa bosan, mengambil langkah berani: memutar arah. Melangkah mundur. Dia yakin kesalahan adalah mutlak diperbaiki. Waktunya terserah niskala. Punden ini hanya batuan yang dimaknai saja. Pertapa bangkit, meninggalkan sajen dan mantranya, memutar arah, berbalik mundur.

Merancang kekuatan dan menentukan langkah lagi.

Dia ingat saat itu titik balik matahari

Iklan
puisi

kebenaran dari tulisan

kau ingin cerita panjang
epos nun jauh
dari negeri para perkasa

kau ingin kemerdekaan
kebebasan yang tinggi
kisah tanah, atau
realisme sosialis

yang kau inginkan adalah terus
terus terusan saja menyimak
tak peduli kisah apa ini

kau ingin cerita hebat
wira lagi karta
siapapun menang, kau mengerang
ingin, ingin lagi

kau ingin bias ada dan sirna
dalam tapakmu
dan menjelma jadi kisah
yang kau hafal akhirnya

kau ingin romantisme
dari tarian kata materi
dan bumbu hierarki
untuk prosa pendek
yang kau tuntut sudahnya

namun…
namun oh sang keagungan!
oh sang hierarki tertinggi dari untaian rantai sastrawi!
sang akhir dari awal yang terbaca!
wahai sang penyimak!
wahai kau yang tak pernah puas!

siapakah aku…
yang bisa melegakan dahagamu?

puisi

apa itu merapal sebab

tersebutlah
Kusdi, anak putus sekolah
inginnya besar sekali
sayang nyalinya kecil
hanya habis dibuat tarung ayam;
beli aibon murah, dan curi spion

diseberang ada Kabul
tak berada dan miskin papa
saban hari dihabiskannya;
untuk baca koran, sisa gorengan
punya majikan

sebab Kusdi
hidup untuk hari itu saja
perihal perut kenyang saban hari
kawan Marx mengamininya dari dalam kubur
lahir miskin dan mati miskin
seperti orang dulu kala

sebab Kabul
tau, ingin tau
haus dahaga akan gelap
ingin disinarinya
dengan ejaan ejaan kecut lagi setengah setengah
untuk jalannya yang berkabut

maka siaplah mereka merapal sebab
mencari premis sendiri dalam kulit sosialnya
mencari tau sendiri
memaknai awal
untuk siap diakhiri

maka apa itu merapal sebab?

ialah itu, mencari tau tempatmu
untuk tau jalanmu
melihat premis
memaknai ada
menyimpan start

atau kau bisa memanggilnya apapun

puisi

wahai kamu yang menyepi

mari bergabung dalam diam
yang emas; mari rapatkan bibir
hilangkan desir nafas, semesta memanas
dan bubarkan ingatan

mari merapal mantra dalam bisu
hilangkan ada; matikan nisbi waktu
terkam keramaian dan cabik senyumanmu
biarkan hilang dalam lupa atau senja

wahai kamu yang menyepi
untuk asa atau kontemplasi
datar atau riak, menuju hymne sunyi
dari pusat galaksi

wahai kamu; kepingan surga
yang membeku bisu dalam haru biru
pencapaian tak sampai
dan debu terbang dalam waktu

sepimu, sepi kita
dalam wajah batas tak kentara
mengada dalam agenda
dan tujuan yang ganjil

untuk kamu yang menepi
pada sunyi dan jahatnya malam
dan berhenti untuk suka lara
dalam placebo struktur yang anonik

jadi waktu yang hilang
atau sirna tak ada lagi
tak bisa kembali
atau kembali jadi kenang

wahai kamu yang menyepi
menepilah
menepilah

LifE, log

wacana h+

mengapa kematian tak berhenti saja?
atau keabadian menguap saja
meninggalkan kita sendiri;
disini

dalam cahaya dan gravitasi
dalam hampa dan pekat

 

Akibat akhir-akhir ini sering tidur telat, berkontemplasi jadilah kegiatan semalaman. kurang tidur atau susah tisur jadi sama saja. waktu ini akan kuingat terus, sebagai pengingat bahwa waktu yang spesifik pada saat ini sebagai waktu yang berat, terkompresi. mungkin karena kurang olahraga atau kurang piknik, tidur menjadi susah sekali. rasanya kalau memejamkan mata, nafas tidak menjadi autopilot. sering kehilangan nafas saat ingin tidur. lupa bernafas. ada yang tau gangguan ini?

jadi, untuk membunuh waktu dan menunggu waktu kantuk, saya memutuskan untuk mencari wacana. salah satu yang pas adalah ide-ide transhumanis. sederhananya, menggunakan segala sumberdaya teknologi, bioteknologi, bioenjineering, nano teknologi, dan banyak paham-paham lain untuk meningkatkan taraf hidup manusia. beberapa pembicaraan di TED menyarankan untuk editing gen manusia dengan sebuah software termutakhir, mungkin untuk menghilangkan string spesifik dari untaian gen yang katakanlah, bertanggung jawab untuk sebuah penyakit serius. pembicaraan lainnya mensugestikan bahwa suatu saat di masa depan yang tak jauh lagi, manusia akan mengobati dirinya melalui penyembuhan tingkat sel. tanpa obat atau injeksi. lainnya datang dengan ide yang eksotis, mind uploading. mengunggah pikiran manusia, kalau suatu saat tubuh alaminya tidak bisa lagi menopang kehidupan. dan mengunduhnya lagi, mungkin kedalam tubuh baru hasil rekayasa di lab.

Elon Musk di pendiri Tesla, space X dan Paypal, menyarankan untuk kolonisasi Mars. demi tujuan spektakuler dari kemanusiaan, sebagai spesies interplanet. hal ini sebagai upaya anti kepunahan manusia jikalau tetap berada di bumi. dan jika suatu saat di bumi terjadi “kejadian level kepunahan manusia”. Jason Silva, visionaris youtube yang banyak mengunggah video tentang transhumanism dan singularity berkata lantang bahwa “we are the god now”. jangan takut tentang skenario skynet atau robot jahat khas film-film sci-fi, karena sebenarnya teknologi adalah perpanjangan tangan manusia. begitu jelasnya. menurutnya, perubahan fundamental manusia kearah singularitas salah satunya didorong oleh “free exchange of information”. pertukaran informasi secara bebas. jaman dahulu pengetahuan di kotak-kotaknya dalam segala macam struktur yang ada. sekarang berkat bantuan internet, untuk pertama kalinya manusia bisa berfikir selayaknya sebagai satu organisme tunggal, daripada hanya “8 milyar manusia” dengan berbeda pikiran. pertukaran informasi secara bebas pada akhirnya akan mengupgrade cara manusia untuk melihat dirinya sendiri, dan melihat dunia.

John Kurzweil, futurist terkemuka berkata demikian: otak kita bekerja secara linear. 1,2,3,4,5… namun teknologi bekerja secara eksponensial. 1,2,4,8,16… ambil 30 langkah linear maka kita akan mencapai 30. tapi ambil 30 langkah secara eksponensial, maka kita sampai ke milyar. kalau tahun 50an komputer sebesar lemari, tahun ini sebesar kantong, bisa jadi 20 tahun lagi komputer ada di sel tubuh kita. perkembangan teknologi yang eksponensial ini mengukuhkan kaum transhumanis bahwa teknologi ada untuk mengubah manusia (menjadi lebih baik menurut mereka). pada akhirnya diskusi tentang ini berembus pada satu wacana, immortality. bisakah? Elon Musk sendiri percaya bahwa tubuh manusia punya tanggal kadaluarsa, jadi dia agak skeptis dengan wacana immortality. yang lain datang dengan gagasan mind uploading (seperti diatas), cryostasis, rekayasa gen, kloning, dan kolonisasi angkasa.

jadi, seperti apa wajah kemanusiaan masa depan? singularitas (bertindak layaknya satu organisme tunggal)? skynet? poros transhuman-humanish (humanish adalah wacana bahwa di masa depan orang-orang yang memilih untuk tetap “natural” dan tidak terkontaminasi teknologi memiliki komunitas tersendiri yang harus dilindungi)? kolonisasi angkasa (mungkin akan ada UNSC – united nations of space command, macam franchise HALO)? atau skenario yang berbeda seperti new age (masuk jaman aquarius), armageddon, dan skenario surgawi seperti kiamat?

apakah nanti di suatu saat di masa depan (jika benar ada), ada terjadi kebosanan akan keabadian? bagaimana juga nasib semesta?

puisi

teduh

ya, sajak ini sebagai pengingat saja
akan dedaunan yang jatuh, akan kehangatan yang menembus;
dalam celah-celah ranting;
dalam suara lembut angin.

senyummu kukekalkan siang itu;
dalam kenangan yang bias
dalam aroma pantai; dan aroma tubuhmu.
dan suara-suara semak
yang menyorak

atau kicauan kecil kita
tentang apa saja;
tentang yang lalu atau selanjutnya
tentang sirna atau fana
atau tak terencana
atau bias dan hilang

mereka merapal teduh siang itu
sebagaimana seharusnya angin dan ombak pada tempatnya
seharusnya siang itu tak kekal
hanya lalu saja, jadi bias
dan teduhmu menjadi kenanganku

untuk terus menepi