Uncategorized

Equinox

Seorang pertapa memandang serius, apa yang didepannya disebut dengan punden. Dilihatnya lama-lama sambil menghela nafas. Matanya berputar putar, berfikir. Pikirnya dia bisa linuwih malam ini, dengan merapal beberapa mantra kuno dan sajen kesukaan mbah petruk, yang diyakini bersemayam disini. Dia melihat dengan sayu, seakan putus doanya. Dipikirnya, “apakah sesuatu harus berulang?” dan titik balik apakah yang berada dibelakangnya? Pertapa bosan kalau harus merapal lagi mantra yang sama, punden tak juga keluar tuahnya. “Mungkin saja kamu buang waktu, atau jalan itu memutar tak disini”.

Dalam waktu beberapa lolongan anjing kampung, pertapa makin gelisah saja. Lama lama diseruput juga kopi yang disuguhkan untuk mbah petruk. Masa bodoh kalau sudah haus, perihal catut sajen jadi hal lumrah. Pertapa kembali merenung. apakah jalan ini benar adanya, dan berbalik dibenarkan untuk melangkah. Apakah celaku selalu disini, bersama ketiadaan untuk ada dan menjadi kelu dalam lidah disetiap ujarku?

Pertapa bosan, mengambil langkah berani: memutar arah. Melangkah mundur. Dia yakin kesalahan adalah mutlak diperbaiki. Waktunya terserah niskala. Punden ini hanya batuan yang dimaknai saja. Pertapa bangkit, meninggalkan sajen dan mantranya, memutar arah, berbalik mundur.

Merancang kekuatan dan menentukan langkah lagi.

Dia ingat saat itu titik balik matahari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s