puisi

teduh

ya, sajak ini sebagai pengingat saja
akan dedaunan yang jatuh, akan kehangatan yang menembus;
dalam celah-celah ranting;
dalam suara lembut angin.

senyummu kukekalkan siang itu;
dalam kenangan yang bias
dalam aroma pantai; dan aroma tubuhmu.
dan suara-suara semak
yang menyorak

atau kicauan kecil kita
tentang apa saja;
tentang yang lalu atau selanjutnya
tentang sirna atau fana
atau tak terencana
atau bias dan hilang

mereka merapal teduh siang itu
sebagaimana seharusnya angin dan ombak pada tempatnya
seharusnya siang itu tak kekal
hanya lalu saja, jadi bias
dan teduhmu menjadi kenanganku

untuk terus menepi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s