cerpen, Original bRAIN

Konyol

Dusun kecilku mendadak geger setelah desas desus kemarin sore menyebar seperti hama. Tepat dibelakang desa, jalan terabasan menuju desa belakang didekat kuburan dusun, ada warga yang menemukan sebuah patung. Patung itu arca Dewi Sri. Kebanyakan warga dusunku, walaupun penetrasi agama abrahamik sudah sampai mengakar ke tulang-tulang mereka, tetap saja selalu percaya dengan hal klenik. Maka seperti halnya masyarakat pedalaman di Jawa, kemunculan arca dewi sri itu dikaitkan dengan satu hal: pertanda dari dewata. Sejak hari itu lokasi kemunculan arca itu mendadak ramai. Banyak yang menyaksikan karena penasaran saja, tapi tidak sedikit juga yang langsung bawa ubo rampe kembang dan ayam cemani. Segala pinta dipanjatkan. Kerumunan manusia selalu disambut oleh pelaku ekonomi bagai semut mendatangi gula. Lokasi itu juga ramai para pedagang, pedagang sesajen. Aku lihat terakhir kali bahkan sudah ada tukang parkir!

Sudah hampir seminggu sejak penemuan arca itu. Semakin banyak orang datang. Namun pemuda-pemuda dusunku justru membatasi orang untuk masuk. Gus Rohman yang punya pesantren yang kebetulan letaknya tak jauh dari lokasi penemuan itu sudah mewanti-wanti untuk menjauhi kemusyrikan. Dia merasa tersinggung pondok pesantrennya justru sepi, disaat yang sama 100 meter didekatnya orang beramai-ramai kumpul, tapi bukan untuk meminta pada Tuhan.

Para pemuda suruhan Gus Rohman manut saja, soalnya mereka takut Gus nantinya tidak mau mendoakan mereka waktu ada apa-apa, waktu nikah misalnya. Atau waktu ruwatan Gus tidak mau datang. Tapi namanya pemuda, darah mereka memang sedang membara-membaranya. Gepeng, pentolan pemuda desa Ningsekar –desaku- sibuk mengompori rekannya. Pemuda pengangguran yang kesehariannya utak atik cb tua dan mainan burung ini menjelaskan keuntungan patung dewi sri itu kepada temannya, Samsul.

“kon ngerti sul, aku krungu arek deso lor onok sing tembus nomere. Mari nggrandong nang buri!”*

Samsul hanya memperhatikan. Otaknya sibuk memikirkan mimpinya semalam. Mimpi itu dia kait-kaitkan dengan apa saja. Warna baju, suara tokek, bahkan suara penjaja bakso. Kode alam, mereka menyebutnya.

“aku bengi iki kate nang kono, siapa tau tembus!”** Gepeng semakin berapi-api. Sementara samsul mengangguk-angguk namun pikirannya buyar memikirkan tukang bakso yang kebetulan lewat. Biasanya si tukang bakso mengambil jalur kiri, namun hari ini jalur kanan.

Bagi Samsul, itu adalah kode alam. Dia mencatat rumus kiri kanan pada selembar kertas. Lama dia mengutak atik rumusnya sendiri. Dia kalikan dengan panjang jalan desa, lalu masing-masing ditambah dengan koefisien kiri kanan. Hasilnya harus ditambah lagi dengan angka firasat yang dia dapat dimimpinya. Tidak lupa juga dia menambahkan dengan agnka warna merah jambu, warna itu dia lihat dipakai oleh Wangi, wanita putus sekolah penjaja rokok kesukaannya. Lama lama dia mencoret kertasnya, diremas lalu dilemparnya sambil misuh.

“Jancok! Peng, ngkok bengi aku melok!”***

***

Bagi aku yang tamatan S1 ini, tidak ada yang lebih menyengsarakan daripada pulang kuliah membawa gelar namun tidak dengan pekerjaan. Kondisi sosial masyarakat didesaku tidak mau ambil pusing kau ingin pulang dengan gelar apapun, asalkan kau sudah bekerja. Pendidikan akademik tidak lain hanyalah sebuah tempat les yang ujung-ujungnya hanya memproduksi manusia siap kerja. Singkat kata, pendidikan menjadi perpanjangan tangan pasar yang menuntut kapasitas tenaga kerja yang handal, namun relatif murah. Setidaknya itu adalah garis besar kebijakan pendidikan di negeri ini, dan entah mengapa warga desaku mengamininya. Sudah setahun sejak aku menyelesaikan studiku, namun aku belum juga bekerja. Orang rumah sudah khawatir. Takut investasi berjuta-juta mereka tidak seperti diharapkan. Biaya pendidikan sekarang luar biasa mahal, wajar bila orang tua kadang kalap sampai menyogok untuk masuk sebuah instansi karena dipandang lebih efisien, daripada menyekolahkannya yang membuat waktu, juga tidak ada jaminan kerja.

Ibuku pun sangat khawatir. Panjang doanya tiap malam agar aku bisa bekerja. Aku sendiri bukannya tidak mau bekerja. Resiko orang idealis yang punya kode sendiri memang jauh lebih pahit. Aku ingin membuat sesuatu yang besar, yang tak mungkin dilakukan dengan bekerja 15 jam sehari dengan bayaran seadanya. Tapi ibu tidak mau tahu, omongan tetangga lebih sakti daripada buku-buku pencerahan sekalipun. Tapi kali ini kurasa dia sangat kelewatan.

“le, siapa tau ini pertanda. Coba kamu ke belakang desa, ke patung dewi sri itu. Siapa tahu dibukakan jalan”.

Ibu mungkin berfikir, jika Tuhan semesta alam belum mengabulkan doanya, mungkin saja tuhan kecil dibelakang desa itu bisa mengabulkan.

“buat apa sih, bu? Kayak tidak ada kerjaan saja”, aku menimpali.

“ya kayak kamu ini yang nggak ada kerjaan, kuliahmu larang, le. Apa hasilnya?”

Aku terdiam. Ibu sudah kelewatan karena menyuruhku meminta pada patung. Tapi perkataannya barusan juga benar. Aku terdiam saja.

“ingat, le. Ibu bapak sudah tua. Adik-adik kamu juga masih belum selesai. Ibu menyuruhmu kuliah karena ibu tahu Cuma kamu yang bisa diandalkan, le. Pokoknya kamu harus dapat kerja ya, kalau tidak kamu ke belakang desa sana. Beli sesajen dijalan, jangan lupa”.

Aku terdiam. Tertegun. Seratus persen benar perkataan ibuku. Sungguh sangat sulit mempertahankan idealisme. Saat ini aku sadar bahwa hal baik pun harus didukung dengan kekuatan finansial. Kekuatan ini hanya bisa kudapat jika aku menukarkan keahlian yang kubeli saat kuliah dengan uang uang gaji bulanan. Menyedihkan sekali.

Aku kuat jika diejek teman-temanku. Aku kuat jika diejek tetangga-tetangga, toh aku tidak minta makan dari mereka. Aku kuat harus berjalan dijalan desa dengan status “sarjana nganggur”. Tapi aku tidak kuat kalau ibuku sendiri memintaku untuk hal yang aku belum persiapkan.

Sambil berjalan keluar rumah aku berfikir bagaimana caranya agar ibuku tidak menyuruhku lagi. Sampai depan warung pak solkan aku menemukan caranya: akan kuberikan apa yang dia inginkan, untuk memberinya pelajaran. Akan kudatangi patung itu dengan sesajennya, kufoto sekalian. Jika hal ini tidak berhasil aku akan memberitahu ibuku, bahwa sangat konyol bagiku, bagi kami untuk menyandarkan sesuatu bukan pada kekuatan sendiri. Aku berfikir lama, meyakin-yakinkan diriku bahwa ini adalah hal yang benar. Konyol, namun benar. Ya, ini benar, demi mimpi-mimpi dan rencana besar, ini benar!

Maka aku dengan wajah sumringah menyusuri jalan dusun, menuju belakang ke tempat patung dewi sri itu. Sepanjang perjalanan banyak mata yang melihatku. Aku tahu tatapan itu. Tatapan rasa kasihan karena pendidikan kota justru tidak membuatku menjadi berpenghasilan, namun latah mengikuti orang-orang untuk berwasilah kepada patung itu. Tidak masalah. Bagiku, pemahaman membutuhkan sedikit pengorbanan. Sebelum belokan belakang dusun aku membeli sesajen dulu. Mbok Ngantrem sudah lama jadi penjual kembang untuk tanggal nyekar tiap hari hari yang sudah ditentukan dalam pranata jawa. Namun melihat antusiasme warga untuk berkunjung ke patung dewi sri ini, dia langsung banting setir jadi penjual sesajen. Baginya sesajen dan kembang itu mirip-mirip. Arwah orang mati mungkin hobi makan kembang. Aku membeli paket lengkap berupa kembang tujuh rupa, kopi pahit sepahit-pahitnya, rokok jagung, dupa kualitas super, dan ayam cemani. Harus kurogoh kantungku sampai kempis. Kempis sekempis kempisnya. Ini sebagai tanda bahwa aku sungguh-sungguh ingin memberi pelajaran pada ibuku.

Setelah sesajen lengkap aku berjalan lagi. Sambil membawa nampan berisi sesajen yang lumayan berat. Dalam hati aku berfikir nakal untuk memotong anggaran untuk dewi sri. Ayam cemani ini saying sekali kalau hanya untuk dipersembahkan kepada patung, bukan dimakan. Mungkin para dewa tidak akan marah aku mengambil bagian pahanya. Toh mereka sudah mendapat dada, sayap, dan kepala. Aku tertawa kecil menyusuri jalan tanah dusun menuju lokasi patung. Orang-orang yang kutemui merasa heran. Mungkin aku dikira gila, membawa sesajen lengkap dan tertawa sendiri.

Memasuki area rawa tempat patung itu, aku terkejut. Sudah banyak polisi berjaga dan memasang garis polisi. Ada apa ini? Apakah ada kejadian kriminal? Atau polisi sekarang juga mengambil alih tugas untuk menjaga patung? Atau temuan ini begitu misterius sehingga kepolisian turut campur tangan? Aku kebingungan. Ini jelas diluar rencana. Aku mencoba mendekat, siapa tau mereka hanya berjaga. Warga yang ingin menghadap patung tetap diperbolehkan. Aku nekat mendekat. Beberapa warga didekatku berbicara serius. Katanya patung dewi sri yang muncul di rawa ini bukan muncul karena pertanda. Bukan muncul karena kemudahan hati para dewa. Namun ada pencuri benda cagar budaya yang mencurinya dari museum purbakala seminggu yang lalu. Si pencuri lantas membuangnya ketika kabur melewati dusunku karena sedang ditangkap. Desas desusnya patung ini bernilai sangat tinggi karena hanya satu-satunya patung dengan posisi tidak biasa, seperti yang biasanya ditemukan…

Aku bingung. Sesajen sudah ditangan, pinta siap diucapkan. Tapi patung itu sendiri tidaklah mistis atau tuah. Dia ada disana karena ulah konyol si pencuri. Aku memaki dalam-dalam…

 

* kamu ngerti sul, aku dengar anak desa utara ada yang tembus angkanya. habis nggrandong di belakang!
** aku malam ini mau kesana, siapa tau tembus!
*** Jancok! Peng, nanti malam aku ikut!

2 pemikiran pada “Konyol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s