Uncategorized

Lewat batas waktu

Target bisa diartikan sebagai tujuan. Atau akhir. Atau bisa juga sebagai perhentian sementara. Seberapa pentingkah target? Luar biasa penting. Tapi disisi lain target juga tidak begitu penting. Mengapa harus ngotot bahwa hal itu harus selesai besok? Atau bulan depan? Atau tahun depan? Jawabannya sangat sederhana: karena satu-satunya alat tukar manusia -dan seluruh semesta- adalah waktu. Waktu yang menentukan baik tidaknya pekerjaan seseorang. Menetapkan dengan bijak dan menimbang dengan teliti seluruh tumpah ruah pekerjaan manusia. Dia seperti hakim agung nan bijak bestari, yang menggenggam seluruh urusan dan keputusan, untuk diakhir tenggat dibacakan dakwaannya. Maka disanalah target tercipta untuk pertama kalinya. Karena sedari dulu waktu memang tak pernah sudi menunggu, karena semakin lama timbangan akan semakin jauh dari adil.

Target membedakan kau dan aku. Dia dan mereka. Mengkotak-kotakkan manusia dalam ring tinju paling adil sejak penciptaan: perseteruan dengan dirimu sendiri, dan seperti biasa, waktu adalah jurinya. Target adalah cermin segala harapan dan segala jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang terlintas sore lalu, kala tidur, kala berbaring, dan sewaktu senja. Membantu kita mendaki gunung pribadi kita sendiri, dan untuk pertama kalinya membawa kita kedalam pesan pesan otokritik akan pencerahan dan pengetahuan yang eksponensial. Target adalah muara segala harapan, lidah matahari, dan nebula kepercayaan yang dibangun atas dasar dasar rasional dan irasional sekaligus. Memberikan manusia tujuan yang jelas lagi terukur tentang apapun, tentang apapun.

Tapi target juga ditakdirkan untuk meleset. Gagal dan dilupakan. Melupakannya biasa saja. Namun mengingatnya saat waktu telah membacakan buku dakwaan bisa membuat gejala serius, seperti gangguan cerebral misalnya. Itu wajar karena simpelnya kita telah menghabiskan catatan di buku Sang Juri tanpa adanya skor yang jelas di papan.

Maka kuwasiatkan kepadamu, untuk berhati hati mengarungi nova tanpa tali kekang yang kuat, dan tanpa peta atau dongeng cerita yang samar untuk tidak berlayar. Ingatlah bahwa target harus terukur dan tidak harus rasional. Ingatlah bahwa waktu tak pernah sudi menukar catatannya dengan kebodohanmu. Ingatlah bahwa bata selamanya menjadi bata, sampai kau memulai untuk membuat naunganmu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s