Uncategorized

climber by accident

saya pertama kali mendengar konsep quiter, camper, dan climber kira-kira 8 tahun lalu, saat pertama kali masuk sekolah menengah atas. konsep simpel yang seringkali dijadikan contoh bagi banyak orang, dari anak-anak hingga dewasa. konsep ini dikaitkan dengan para pendaki gunung dan stance yang diambilnya ketika dihadapkan dengan gunung yang harus dia taklukkan. quiter, secara literal berarti ‘mereka yang berhenti’. sebutan bagi mereka yang urung mendaki puncak gunung (dalam hal ini puncak tersebut adalah kehidupan mereka). camper berarti ‘mereka yang berkemah’. yang saat ini tengah beristirahat dari pendakiannya dan membuat kemah. yang terakhir adalah climber atau mereka yang mendaki. strata tertinggi, orang-orang yang berhenti berkemah, dan melanjutkan pendakian. semacam summit attack dalam bahasa pendaki.

dan mulai dari sini polanya selalu sama; jangan jadi quiter. jangan terlalu lama jadi camper. jadilah climber. dan seterusnya dan seterusnya. sampai disini masih mudah untuk mencernanya. dan konsep ini dengan gampangnya dipakai hampir disegala bidang. karir, akademis, kehidupan pribadi, seminar motivasi, bahkan keagamaan.

dalam Islam pun sebenarnya sudah ada konsep yang mirip dengan ini. termaktub dalam hadits bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini. sebuah hadits yang intinya mirip dengan konsep tadi, bahwa sebuah progresivitas, kemajuan, kebaikan, haruslah terus dicapai dan ditingkatkan, haruslah terus dicari, diraih, didaki, menjadi seorang climber.

tapi ada kalanya kita terpaksa menjadi seorang climber; keterpaksaan yang bagus sebenarnya. bagaimana keadaan menuntut kita agar menjadi lebih baik hari keharinya. lingkungan seperti ini bisa dilihat dalam ekosistem yang tertata dan terukur. seperti misalnya lingkungan pondok pesantren atau lingkungan militer yang menuntut disiplin tinggi. lalu bagaimana nasib mereka yang tidak hidup dalam lingkungan yang memaksa mereka untuk terus mendaki? jawabnya adalah anarki! Bakunin si bapak anarki menjelaskan bahwa dalam esensinya, anarki harafiah dalam arti tidak ada sistem, menekankan pada disiplin diri individu yang menganutnya. sejak tidak ada sistem kolektif yang mengatur mereka, maka merekalah yang mengatur dirinya sendiri. berdisiplin dengan dirinya sendiri. dalam hal ini. climber boleh jadi berubah menjadi seorang anarki sejati, paling tidak anarki pribadi, diluar atribut mereka dimasyarakat. contohnya bisa dilihat bagi mereka yang tidak mengenal agama. kenihilan mereka akan nilai-nilai moral spiritual dalam agama mereka tebus dengan anarki; mendisiplinkan diri dengan sistem moral mereka sendiri. saya pernah melihat mereka yang mengaku atheis atau agnostik tapi memiliki standar moral yang lebih tinggi dari mereka yang beragama. mengapa ini bisa terjadi? padahal mereka (atheis/agnostik) tidak memiliki sistem yang mengatur mereka ini dan itu. bisa dibedakan kalau mereka membuat kerusakan dimuka bumi, itu adalah posisi chaos.

kembali kepada climber, ada banyak hal mengapa kita terpaksa menjadi climber. ada banyak motivasi. saya sendiri mendapatkannya dalam perjalanan-perjalanan panjang nan lelah menyusuri beragam tempat, dan manusianya. tempat seringkali kosong akan makna sebelum manusia mengisinya dan memaknainya. jadi saya katakan bahwa cara pertama untuk menjadi seorang climber adalah dengan melakukan perjalanan/safar. jalan ini lebih efektif daripada menghadiri motivasi dengan orientasi profit, atau dimarahi patron dan diingatkan tentang strata dalam masyarakat, atau membaca tanpa praktik (saya tidak bilang membaca itu buruk).

dari perjalanan-perjalanan itu maka dibukalah mata. kalau anda seorang camper, maka safar adalah perjalanan anda ke gunung para manusia, dan melihat berjuta-juta manusia yang berhenti, melihat ratusan ribu dari mereka yang berkemah, dan puluhan ribu pendaki. dari sana anda pasti sadar kemana sebenarnya jalan anda, sampai mana sesungguhnya pendakian anda, dan tahu mengira-ngira kapan pendakian anda akan berakhir.dengan catatan bahwa anda sudah mulai mendaki lagi.

maka disiplinkanlah diri anda, jadilah seorang anarki individual dan dakilah gunung pribadi anda. saya tidak menjanjikan apa-apa diatas sana. andalah yang berhak menentukan, akan anda temukan apa dipuncak?

selamat mendaki!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s