Uncategorized

in pursuit of destiny

saya sudah bilang dari dulu kalau garis takdir memang bergerak sesuka hatinya; tak memandang siapa objeknya, tak pusing mengenai siapa korbannya. takdir berjalan sendirian tanpa sepengetahuan usernya, manusia.

begitukah?

lalu apa pendapatmu tentang anak tukang becak yang jadi guru besar? anak petani yang jadi jendral? anak kiyai yang jadi germo? anak pejabat yang otaknya dungu?

karena itu kubilang takdir memang berjalan sendiri. tak linier, tak ikut user. bergerak liarnya sendiri.

begitukah?

jadi aku perlu alasan mengapa aku harus berada dijalan ini saat ini, selain menyalahkan takdir yang suka berpindah pindah jalan. apa alasannya?

tidak ada yang spesifik, kecuali takdir memang membawaku kesini, disini, tepat dititik ini dimana takdir memberhentikan chariotnya untukkku, hanya untukku.

jadi apakah aku harus berterima kasih? ataukah menyumpah? atau apologi bohong pagi buta?

dimanakah takdirku? dimanakah takdir semesta? itulah pertanyaan besarnya. tapi seperti yang selalu kukatakan, mempertanyakan hanya akan menyelewengkan mata batin dari hal yang lebih kosmis dari itu; makna.

dan, aku bosan kalau harus menggantungkan segala alasan dengan alasan makna, hanya karena kita harus mengejar makna, memaknai alasan dengan makna, mencari makna atas perbuatan, mencari tujuan akan makna, lalu hanya terus menerus mengejar makna selagi yang lain telah sampai di puncak olympus. dan aku hanya disini berputar-putar mencari makna dilayar silau pada pagi buta yang menurutku bodoh sekali.

semua bermula dari kebuntuan atas metode-metode hidup taktis yang menawarkan hal-hal duniawi serba cepat (dan manjur) tanpa mengurangi esensi untuk berkabung dalam kubangan kontemplasi. lelah, sederhananya. semua orang pernah lelah. tapi lelahku dengan orang kebanyakan jelas beda. karena dalam setiap hal-hal taktis yang kukerjakan, selalu kuselipkan space kosong untuk diisi oleh makna, sejauh mana hal taktis serba cepat ini mempengaruhi makna awal dari perjalanan kosmis? sehebat apa makna yang dapat kuperoleh?

dan aku hanya tenggelam dalam usaha pengejaran makna yang wujudnya lebih mirip seperti hantu ketimbang abstrak itu sendiri. dan, lama-kelamaan, merubah esensi pencarian sakral akan makna menjadi mirip hal-hal taktis murahan serba cepat itu. hal gawat karena makna lama-kelamaan berubah menjadi hal taktis dan dangkal. diabolikal dengan makna yang tergambar dalam.

maka aku mulai berbicara takdir. mungkinkah bukan makna yang kucari, melainkan takdir? makna itu seperti check point-check point kita dalam hidup, takdir adalah akhir dari stage. tapi takdir yang kubilang bergerak liarnya sendiri itu, juga merupakan interpretasi rapuh dari mekanisme mencari makna yang kupakai.

sampai disini jalan buntu lagi

 

3 pemikiran pada “in pursuit of destiny

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s