puisi

disini mendaki

selembar surat kutitpkan;
pada semesta
isinya: aku ingin mendakimu
dan turun lalu dikenang;
dalam nisan tanpa nama

biarkan simpul semestamu
kududuki dan kuinjak
tanpa jatuh, sampai jatuh
sampai nanti berkubang;
turun melebur bersama

aku ingin semua rasa!
biarkan kutitip kosong pada waktu!
yang mengambilnya saban hari, dan menjauh!
         menjauh tanpa kosong tanpa rasa

aku akan mengukir olympus, menginjak babel, mengangkangi nebula
lalu turun; turba
terdiam mengingat hal yang lupa
dan senyum kecut yang terlupa,
dalam sajak-sajak musiman
dan apologi bohong pagi buta

dan buahmu, wahai semesta
yang bentuk wujudnya adalah segala rasa;
candradimuka dan tabularasa
segala sandi dan segala emosi
juga segala puisi

kupersilahkan mengambil tempat disini,
disampingku.
mencatat lonjakan anomali yang tak dicatat waktu
dan menjauh dari buhul-buhul lelap para pengecoh takdir

yang gemar sembunyi dari maha besar semesta
dan sandiwara jadi arjuna tanpa chariot
tanpa pandawa dan tanpa kresna
cuma ngaku saja!

lalu aku disini saja
tetap disini, tempat jauh seluas langit
tersenyum kecil karena telah melihat,
gambar besar, grand design, protocols, peta jalan damai, tabut, traktat, atau apapun
dan tersenyum kecut
karena ternyata, semesta..
dibawah sana masih banyak semaianmu
yang bertelik sandi, mengada-ngada palsu
berkhutbah pada diri sendiri
dan

mempertanyakan sikapku
apakah sesulit itu, Kausa Prima?

malang, 10/6/14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s