puisi

Sabit si Suji

waktu itu gerimis saja
kopi panas dan gorengan kemarin sore
rokok setengah dan rantang tak berat
menemani Suji yang menyabit sambil menyumpah

alangkah enaknya jika sore dihabiskannya di peraduan
atau menemani cucu bermain air hujan
alangkah rehatnya jika saban waktu diisi mengaji
membersihkan langgar dari debu sembari menunggu maghrib
atau berjalan keliling kampung
menyapa tetangga atau mbiodo

tangan sudah tak kuat
tapi beban dipundak tidak mau tahu
pusing, tiap hari cium asap rokok dan mambu rumput
semua demi keluarga

demi istri yang hampir mati
anak-anak yang sudah kawin, tapi masih numpang dirumah
untuk anak yang sudah kawin tapi cerai, dan minta kawin lagi
demi cucu yang capek melihat ayah ibunya bertengkar perkara kosmetik atau ayam aduan,
yang dua-duanya tidak penting

ah, kalau saja anak-anakku kusekolahkan dulunya…
Suji tetap menyabit, sambil menyumpah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s