Uncategorized

Teka Teki yang Ganjil – Wiji Thukul

Pada malam itu kami berkumpul dan berbicara,
Dari mulut kami tidak keluar hal-hal yang besar..
Masing-masing berbicara tentang keinginannya yang sederhana dan masuk akal
Ada yang sudah lama sekali ingin bikin dapur di rumah kontraknya
Dan itu mengingatkan yang lain
bahwa mereka juga belum punya panci, kompor gelas minum dan wajan penggoreng
Mereka jadi ingat bahwa mereka pernah ingin membeli barang-barang itu
tetapi keinginan itu dengan cepat terkubur oleh keletihan kami,
Dan upah kami dalam waktu singkat telah berubah
menjadi odol-shampo-sewa rumah dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi

Ternyata banyak di antara kami yang masih susah menikmati teh hangat
Karena kami masih pusing bagaimana mengatur letak tempat tidur dan gantungan pakaian
Ada yang sudah lama ingin mempunyai kamar mandi sendiri
Dari situ pembicaraan meloncat ke soal harga semen dan juga cat tembok yang harganya tak pernah turun,
Kami juga berbicara tentang kampanye pemilihan umum yang sudah berlalu
Tiga partai politik yang ada kami simpulkan
Tak ada hubungannya sama sekali dengan kami: buruh
Mereka hanya memanfaatkan suara kami demi kedudukan mereka
Kami tertawa karena menyadari
Bertahun-tahun kami dikibuli dan diperlakukan seperti kerbau
Akhirnya kami bertanya
Mengapa sedemikian sulitnya buruh membeli sekaleng cat, padahal tiap hari ia bekerja tak kurang dari 8 jam
Mengapa sedemikian sulitnya bagi buruh untuk menyekolahkan anak-anaknya
Padahal mereka tiap hari menghasilkanberton-ton barang
Lalu salah seorang di antara kami berdiri
Memandang kami satu-persatu kemudian bertanya: ‘Adakah barang-barang yang kalian pakai yang tidak dibikin oleh buruh?’
Pertanyaan itu mendorong kami untuk mengamati barang-barang yang ada di sekitar kami: neon, televisi, radio, baju, buku…
Sejak itu kami selalu merasa seperti sedang menghadapi teka-teki yang ganjil
Dan teka-teki itu selalu muncul ketika kami berbicara tentang panci-kompor-gelas minum-wajan penggoreng
Juga di saat kami menghitung upah kami yang dalam waktu singkat telah berubah menjadi odol-shampo-sewa rumah dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi
Kami selalu heran dan bertanya-tanya
Kekuatan macam apakah yang telah menghisap tenaga dan hasil kerja kami?

Kalangan, Solo, 21 September 93

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s