Anekdot, LifE

setinggi awan

waktu kecil, banyak pikiran yang ada dibenakku. walau tidak sebanyak sekarang (tentunya), namun ada satu pikiran yang selalu ada. ditanyakan dari waktu ke waktu. “kamu mau jadi apa?”

aku mau jadi chef, jadi nakhoda, jadi pembaca berita. banyak yang kuinginkan. sewaktu perang melawan terorisme ala Amerika dicetuskan, aku ingin jadi mujahidin yang membela tanah air dan kehormatan mereka. waktu aku melihat kecakapan dosen sejarah maritim, aku ingin jadi ahli sejarah maritim. waktu aku melihat saudaraku sukses berbisnis, aku ingin menjadi entrepreneur. waktu aku melihat nikmatnya menjadi seorang traveler yang santai dengan hidupnya, aku ingin jadi traveler. aku ingin jadi semuanya!

seorang teman pernah berkata, “masa muda itu seperti kita sedang menonton pertandingan di sebuah stadion yang kosong.” kita boleh memilih kursi apapun, di tribun manapun. namun nanti kita akan memilih satu kursi yang akan kita tempati selamanya.

pertandingan itu adalah hidup kita sendiri. dan kursi-kursi itu adalah bagaimana kita memilih untuk menghabiskan hidup kita. dengan cara apa dan dengan pikiran seperti apa kita menuju detik-detik kedewasaan sampai akhir “pertandingan”. ada benarnya kalau dipikir-pikir. aku sedang berapi-api waktu itu, ketika temanku itu bercerita. dunia sedang bergerak dihadapanku, dan aku merasakan bahwa roda-roda raksasa dunia memang sedang bergerak, bergerak bersamaku. kalau berhenti aku akan ketinggalan.

dan aku mulai berfikir bagaimana aku memilih “kursi” untuk menonton hidupku sendiri?

ada hal-hal yang bisa kita prediksi, dan ada juga hal-hal yang secara kecut bisa kita acuhkan karena melenceng dari garis pola. selalu ada perasaan getir ketika dipaksa melayani kenyataaan bahwa prediksi kita salah. aku telah mencoba banyak hal. mengutak-atik formulasi tentang bagaimana seharusnya (atau enaknya) hidup dijalani. apa fondasi dasarnya, apa nilai yang menggerakkannya, bagaimana jika gagal, dan bagaimana menghindari kemiskinan logika untuk hidup yang begitu-begitu saja?

maksudku, setiap dari kita pasti setuju bahwa tidak ada manusia waras didunia ini yang ingin hidupnya begitu-begitu saja. kecuali beberapa gelintir orang yang kuketahui – yang ingin hidup dengan pikiran mereka yang sederhana, mungkin karena sudah bosan menonton pertandingan dari sebuah tempat disuatu tribun dalam stadion miliknya sendiri. setiap pikiran ideal dan logis dari kita pasti menginginkan sebuah, manfaat dalam hidup. mengapa kata manfaat aku beri tanda miring? ya, karena setiap otak dari kita memiliki jalurnya sendiri dalam memindai dan membuat konklusi ketika ditanya “bagaimana menjadi bermanfaat?”

dan berbicara mengenai manfaat atau makna atau apapun, sudah barang tentu ditentukan oleh anasir-anasir diluar skema berfikir otak, yaitu opini kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. anasir itu adalah lingkungan.

maka aku pernah (bahkan sering) menemukan orang-orang dengan bakat yang aku tangkap luar biasa, seperti batu mulia kurang sepuhan, yang santai saja menerima kenyataan yang karena ulah mereka sendiri, mereka menjadi kurang manfaat. dan mereka menganggap hal itu biasa saja, bukan masalah besar. dan satu lagi, mereka menganggap bahwa hal itu adalah takdir yang mereka tak bisa ubah! aku bicara soal opini diluar kerja nalar otak yang membuat otak urung mengeksekusi banyak ide-ide brilian, hanya karena katakanlah, teman, pacar, tetangga, atau keluarga menganggap ide itu sampah. nah, itulah awal mula kemunculan kemiskinan logika akibat doktrin komunal yang membatasi manusia dari hal-hal hebat berikutnya.

aku telah melihat banyak drama, dimana anak laki-laki yang sebenarnya cukup berpotensi maju dijegal jalannya hanya karena lingkungan sekitar (bahkan lingkungan inti) nya menghendaki dia harus mengikuti ikatan kerja komunal, ikatan persaudaraan kekolotan berfikir bahwa dia harus A,B,C,D. si anak laki-laki, katakanlah, akhirnya mengalah, bahkan melanjutkan hidupnya dengan keadaan lebih sengsara dari sebelumnya. kalau sudah terlalu lama, hal ini menjadi hal biasa, dan ditakutkan watak kekolotan permanen yang diwariskan dari komunalnya itu dia wariskan ke anaknya. itu bisa jadi tanda kiamat, atau tanda evolusi manusia yang gagal.

lalu, dimana tempat mereka yang cukup berani keluar dan lantang berkata bahwa “aku ingin mencari makna”? tempat mereka cukup sulit, karena berjuang melawan pikiran komunal dengan ikatan intim tidak semudah yang dibicarakan. mereka akan dicemooh, dijegal, terus, terus, terus, sampai akhirnya antitesis keluar, mementahkan semua pendapat miring tentang menjadi bermakna.

dan aku juga pernah bertanya, dimana letakku? dimana manfaatku?

aku ingin terbang setinggi awan! aku ingin ke Mars! aku ingin bermanfaat!

Satu pemikiran pada “setinggi awan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s