puisi

di batas senja

di batas senja
ada harapan yang putus
ada harapan yang dirajut kembali
ditangan-tangan kuat tapi hampir patah
dikaki-kaki tangguh menunggu putus
dan diatas asa yang menunggu rejeki turun

di batas senja
hanya demi memastikan
bahwa istri dan anak-anak kami dirumah
bisa menyambung nafasnya sampai esok
kami rela tidak pulang

waktu senja
kami terus menunggu ditepi jalan
menenteng semuanya, pemuas dahaga, pemutus lapar
menunggu kuda baja raksasa datang
menagih bagian rejeki kami
seribu dua ribu perak, asal dapur bisa mengepul

di batas senja
kami putus asa
dan menyambungnya lagi
di tepi jalan
di terminal
di stasiun

semua demi nafas
yang dengannya kami menghitung ajal kami sendiri
demi nafas untuk dihabiskan membeli nafas
yang dengannya kami membeli kubur kami sendiri

yang sepi, sendiri saja
dikubur kami yang tak seorangpun tahu
ditanah yang dilupakan orang
yang saat senja tak ada yang mendoakan

di batas senja
kami menunggu
menunggu Tuhan menggenapi nasib
memenuhi semua takdir
melipat semua duka
mengekalkan semua cita

dibatas senja kami bercengkerama dengan para malaikat
malaikat rejeki
dan malaikat maut

9 November 2013, jalur pantura, Brebes
frxs

terinspirasi dari malam penuh hikmah dengan tukang asongan pencari rejeki dari para penumpang bis disepanjang jalur pantura. aku menghormati kalian!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s