log

Kalau ada yang bertanya, apa moral dari sebuah cerita?

Kalau ada yang bertanya, “apa moral dari sebuah cerita?”
Maka aku akan menjawab bahwa moralnya adalah cerita itu sendiri, bahwa seseorang kadang harus menceritakan kisahnya –apapun itu. Kadang alasannya beragam, namun aku lebih senang mengatakannya sebagai upaya untuk membagi bebannya sendiri. Membaginya kedalam setiap baris dan lembaran kalimat dari ribuan kata. Dan sebuah kisah juga kadang tak mengandung moral apa-apa kecuali kisahnya itu sendiri, bahwa sebuah cerita kadang tak perlu moral untuk diceritakan. Pena dan kertas atau layar dan keyboard, atau touchscreen atau pita dan mesin ketik. Apapun.
Cerita juga tak pernah menuntut untuk jadi sempurna. Tak pernah marah kalau ceritanya tak pernah usai, atau penulisnya pergi. Meninggal atau lupa ingatan. Cerita tetap disana. Tempatnya selalu disitu. Disuatu tempat dimembran otak si penulis. Letaknya disimpul-simpul neuron. Bentuknya mungkin kimiawi. Dan butuh tenaga lebih besar lagi untuk si penulis merubah asa kimia ini menjadi materi. Dari ide menjadi fana. Dari surga turun kebumi.

Cerita tidak suka kalau dianggap jelek. Tidak ada cerita yang jelek. Semuanya sempurna seperti bayi yang baru lahir sejam yang lalu. Sempurna dan rapuh. Penulis adalah induknya. Ibunya. Persalinannya tak pernah lancar, karena mengeluarkannya dari “rahim” otak selalu bermasalah. Setidaknya itu yang selalu kurasakan saat mulai menyalin memori otak, anakku, kedunia nyata. Ke dunia yang bodoh. Idiot. Dunia sialan yang diabolis dan kadang tak ramah. Bahkan tak pernah ramah.

Dan, ada banyak alasan untuk menulis. Banyak, tapi butuh waktu lebih lama untuk menemukan satu – hanya satu – alasan dasar untuk mulai menoreh sejarah baru diatas kertas atau dilayar silau. Beberapa orang ingin namanya dipajang di rak-rak jaringan rak buku terkenal dikota-kota besar. Beberapa ingin dianggap sastrawan, walaupun sekarang sulit membedakan sastrawan dengan tukang gorengan (sama kontemplatifnya soal kehidupan). Ada yang berangkat dari ipk tinggi, dan pandai menulis, lantas mengirim naskah ke penerbit kemarin sore. Ada yang ikut-ikutan karena temannya sukses buat blog dengan visitor tinggi, dan blognya dinovelkan dan difilmkan. Beberapa mencoba menulis karena apes masuk jurusan sastra, dimana yang lainnya mengumpat karena harus menulis karena masuk jurusan sejarah. Cuma sedikit yang menulis untuk dahaga pribadinya, dan lebih sedikit lagi yang menulis untuk orang yang dikasihi, tanpa diketahuinya. Langka juga orang yang menulis karena tidak bisa membaca (yang terakhir ini kacau).

Cerita apa yang ingin didengar orang-orang? Cerita yang tokoh utamanya selalu menang? Happy ending? Cerita cinta dangkal ala teenlit? Biografi saduran internet? Buku teknis yang 2 bulan basi karena program sekarang diupdate harian? Cerita tentang konspirasi perusahaan rokok dengan kementrian kesehatan? Cerita tentang pengambilalihan dunia oleh organisasi jahat ala kamen rider? Cerita tentang penemuan dunia baru? Cerita cabul? Komik strip dengan pelajaran moral diakhir gambar? Ini lucu karena aku selalu bingung. Apa yang ingin kutulis? Aku tak pandai mengarang kisah fiksi. Dan kisah perjalanan-perjalanan ditanah tak bernama selalu sulit untuk dikeluarkan dari otak. Aku sering menulis pertanyaan. Aku suka bertanya. Hampir gila dan hampir tercerahkan karenanya. Aku tak pandai menulis filsafat. Rasanya mendekonstruksi filsafat Gramsci dan Fukuyama hanya berhasil diawal-awal bab buku mereka. Setelah itu mereka meracau, mungkin kesurupan. Foucault apalagi. Bukunya seperti buku kentut yang tak habis-habis. Benar-benar seperti kegilaan yang beradab. Tapi aku lumayan suka bercerita. Lumayan, bukan suka. Batas itu tegas. Benang merahnya terlihat, karena kusiram fosfor agar berpendar dalam gelap kehidupan.

Kadang-kadang kehidupan juru cerita itu tak seindah kisah yang mereka ceritakan. Dan cerita yang mereka karang, atau kisahkan, lebih bagus dari hidup mereka sendiri. Siapa yang memulainya? Tidak tahu dan tidak perlu tahu. Pikiran kita manusia sudah tertanam dari dulu, dari buku-buku lama, dari teks-teks kuno, dari tablet jaman assyria, dari hyreogliph mesir, dari pelepah lontar, dan dari buku cerita lima ribu perak dilampu merah, bahwa juru cerita haruslah seorang yang arif lagi bijak bestari. Dan bijak bestari selalu dikaitkan dengan kesederhanaan, dan kesederhanaan tak tegas batasnya dari kemiskinan. Apakah harus menjalani tapa brata dan semedi disungai tempur untuk menceritakan epos mahabarata? Apakah setiap cerita bernilai harus dipanggul oleh manusia suci yang –maaf– miskin? Apakah ada orang bijak yang menceritakan kisah suram? Tentang kiamat mungkin?

Apa batas tegas antara menulis dan cerita tertulis? Apakah yang kutuliskan ini adalah sebuah tulisan? Atau cerita? Aku pernah terbangun tengah malam. Bangun dengan jiwa yang merasa tua, dan masih terperangkap diwadah yang masih segar. Aku bingung. Dan dalam kebingungan aku berfikir, “apa batas tegas dari menulis dan cerita tertulis?” Dan sampai pagi aku merenung, dengan aplikasi olah kata terbuka disebuah layar silau diranjang, dan sebuah pulpen tanpa kertas ditangan kiri. Lebih mirip seseorang yang bingung mengisi tts daripada seorang filsuf amatir tanpa gelar yang merenungkan kehidupan. Dan sampai pagi jawaban tidak muncul. Aku menebus kesalahan dengan tidur lagi. Menyedihkan sekali.

Kalau sifat dasar manusia itu bergerak maju, haruskah ada manusia-manusia gagal? Bukankah gagal atau tidaknya itu adalah persepsi pikiran? Mengapa harus ada mereka yang gagal? Apakah mereka yang gagal pernah merasakan atau memikirkan hal ini? Sepertinya iya, karena aku sedang memikirkannya. Jalan pertama yang kulalui adalah jalur surga. Lalu gelap tanpa pegangan. Lalu aku diusir dari surga. Lalu aku tinggal ditanah profan. Lebih mirip purgatory. Lucu mengingat kalau dulu aku pernah memegang jalur surga sekuat hati, sepenuh jiwa. Memegangnya dengan gigi geraham. Semua hal adalah sakral. Lalu gelap datang dan peganganku terlepas. Semua hal jadi profan. Mau jujur? Aku tak suka hal ini. Aku benci tiap detik didalamnya. Dan lucu juga mengingat betapa bodohnya aku. Pathetic moron.

Kembali ke cerita. Apa moral dari sebuah kisah? Agar kau tahu, dan kau faham. Mengerti dan menjauh jika itu buruk bagimu. Faham dan mengekor jika itu baik bagimu. Mari kita sederhanakan semua, namun tidak lebih sederhana lagi. Cerita tak harus punya setting waktu. Seperti cerita ini, tanpa waktu. Timeless. Aku tak berniat membubuhkan paraf waktu disini. Biarkan cerita ini dibacakan diluar buku waktu. Diluar jadwal Masinis Alam Semesta. Biarkan dia asing dan hanya dibaca mereka yang sempat keluar dari beban waktu. Para manusia-manusia malas dan congkak. Dan para manusia yang pintar dan bijak. Biarkan cerita ini juga hilang tak dicatat waktu. Dibawa angin menjauh dari pohon pengetahuan. Terlantar dan layu seperti bintang sekarat. Jadi pengembara abadi dalam simpul-simpul maha luas dari penciptaan. Dicaci dan dipuji. Dibaca dan dibakar. Biarkan dia menemukan tempatnya yang tidak ada. Biarkan dia wafat di kampungnya yang tak pernah dikenal. Biarkan dia hilang dalam peristiwa yang tak pernah terjadi.

Jadi, apa moral dalam cerita ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s