Uncategorized

diary telat: Malang-Madiun lewat selatan

salah seorang teman ingin mengajak saya untuk penelitian di pabrik gula Rejo Agung, Madiun. saya iyakan. kapan lagi punya kesempatan melihat outer rim nya jawa timur? yang secara budaya lebih dekat ke budaya mataraman, yakni budaya yang masih dipengaruhi oleh budaya voorstenlanden, budaya keraton. dan karena saya selama ini hanya mengenal budaya jawa dari pinggirnya saja, maka kesempatan ini sangatlah baik.

perjalanannya cukup makan waktu dan pantat tepos. 6 jam dengan kecepatan tinggi. Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Madiun. singgah dirumah teman di ponorogo. 

di perbatasan Malang-Blitar berhenti sebentar di Waduk lahor. dekat dengan bendungan sutami. kemudian ngebut lagi. masuk blitar kota. eh, nggak masuk. ambil jalan lain yang lebih sepi, biar lebih cepat. saya pernah baca skripsi kakak tingkat tentang sejarah blitar, sebuah kota pedalaman. cukup menarik ya, apalagi dengan kasak kusuk gunung kelud yang diperebutkan dengan kediri.

sampai ditulungagung, saya menangkap sesuatu yang unik; dilampu-lampu merah dipasang pengeras suara yang jika lampu merah diputar himbauan untuk menaati rambu lalu lintas dan keselamatan berkendara. seruannya mirip dengan seruan di perlintasan kereta api yang banyak tidak dihiraukan. saya jadi berfikir bagaimana kalau pengeras suara dipakai disemua lampu merah diindonesia? tampak seperti corong propaganda pemerintah kelihatannya. kalau di lombok, pasti, seruannya adalah ayat-ayat Qur’an, dan pesan-pesan moral dan akhlak. kalau diwilayah nasionalis mungkin yang diputar adalah lagu Indonesia Raya atau Garuda Pancasila. di minahasa atau papua isinya adalah kabar Injil. dan kalau dimalang sendiri boleh jadi yang diputar adalah siaran radio bola Arema vs xxx. tapi tidak mungkin karena tentu lampu merah akan macet karena waktu lampu hijau tidak akan ada yang mau jalan. serempak mendengarkan!

sampai trenggalek pemandangan didominasi oleh marmer, marmer, dan marmer. sebenarnya sudah dari tulungagung begitu. wilayah selatan memang kaya deretan bukit marmer. marmer sepanjang jalan. marmer sampai semaput. trenggalek cukup terlihat arif, karena kabupaten ini tidak dilalui jalur kereta api, yang, bagi saya subjektif, sangat kasihan. jalur kereta api itu jalur bertuah yang menghubungkan kota-kota di seluruh jawa. dari senen sampai glenmore, dari banyuwangi sampai tawangalun. dan sayang rasanya kalau trenggalek di skip begitu saja. atau saya yang salah? ah, mohon koreksi.

memasuki perbatasan trenggalek-ponorogo, sudah jam 9 malam. jalannya berliku-liku, nerabas gunung. kabut lumayan pekat, dengan gerimis ringan. benar-benar kontemplasi dari atas sadel motor. ternyata saya cupu sekali. dan saya berjanji suatu saat akan menjelajahi jantung indonesia ini sampai ubun-ubunnya, sampai akar nadinya. semua panggung sejarah indonesia itu 80% terjadi di pulau jawa. itu juga mungkin yang membuat penduduknya sudah bosan dengan intrik ini itu, dan kadang-kadang merasa lebih tinggi statusnya dari etnis lain (no offense). masuk ponorogo, kota dimana tiap perempatan ada patungnya. ini bukan bali, tapi patungnya banyak sekali. dan jika saya berkata patung, tentu saja bukan patung arca dwarapala, wisnu, dewa-dewi lain atau apapun. patung diponorogo itu banyak patung kyai, patung diponegoro, patung reog, kuda, atau apapun yang mendeskripsikan wilayahnya. sungguh menarik.

dari sini logat sudah berubah. dari bahasa arek ke bahasa kulonan. kalau dimalang saya mengatakan “ndi arek-arek iku?” kalau diponorogo menjadi “ndi cah-cah kui?” artinya sama. bahasanya lebih halus, karena dengan dengan keraton. pada masa kerajaan, ponorogo itu kalau tidak salah masuk ke wilayah mancanegara. hierarki kerajaan mataram sendiri teridiri atas keraton-negaragung-mancanegara-sabrang (wilayah sebrang laut). kalau secara hierarkis ponorogo masuk di ring luar, namun secara geografis masih lebih dekat daripada wilayah malangan yang memang sama sekali buta akan adat kerajaan.

keesokan paginya, saya cabut ke madiun. malamnya nginap dirumah temen, paginya dapat sarapan pecel komplit lengkap yang sayurnya saya tidak paham saking lengkapnya. ini mungkin pecel yang otentik ya, yang dulunya merupakan jamuan makan raja Kadiri ketika babat alas. ponorogo-madiun dihubungkan dengan sebuah jalan besar nan lurus. dulunya ada jalur kereta api bolak balik yang menghubungkan dua kota. sekarang sudah pangsiun, namun dengar-dengar mau dihidupkan lagi. masuk madiun, ada lagi yang menarik. sekarang ditiap lampu merah ada himbauan tertulis kalau dilarang memberi uang kepada anjal/pengamen/pengemis. mungkin saya tahu alasannya. madiun itu salah satu kantong punk jawa timur lho. dan banyak gathering ataupun konser punk digelar disekitar poros madiun-ponorogo-ngawi-kertosono. tentu saja lengkap dengan band-band pendukungnya yang namanya membuat air muka mengeriyit. namanya seram-seram! 

madiun kota gadis. jangan salah kira, gadis disini adalah akronim dari perdagangan, pendidikan, dan industri. nah lo. dulu pertama lewat madiun saya kira beneran banyak gadisnya hehe. yang saya tangkap dimadiun adalah, banyak tempat karaoke disini. jangan harapkan tempat karaoke keluarga yang sudah terkenal ya, karena yang saya maksud karaoke disini adalah karaoke gembira suka-suka (artikan sendiri ya).

masuk ke pabrik gula, saya terkesima, bagaimana roda gotri sebesar rumah menjalankan perut-perut petani untuk terus menanam tebu. warisan kolonial memang selalu hebat, dahsyat. walau Rejo Agung sendiri adalah milik orang paling kaya diantara Hongkong sampai Sydney (dekade 1900an) dialah raja gula Indonesia, Oei Tiong Ham. saya ingat potret putrinya yang seperti kuntilanak itu masih bisa saya lihat di Hotel dekat alun-alun tugu, Malang.

selesai dari pabrik gula, saya diajak ke telaga ngebel, ponorogo. letaknya remote sekali. dan hari itu hari jumat, saya lagi-lagi terkesima karena saya harus jumatan dimushola kecil dengan jammaah yang bisa dihitung jari. letaknya disebuah jalan kecil menuju ngebel, dunia antah-berantah. yang khotbah pakai bahasa jawa halus. saya nggak ngerti. saya hanya akrab dengan ngoko, bahasa kasar, bahasa terminal, bahasa kawula. maklum, jauh dari lingkaran keraton, haha.

jadi, apa yang saya bisa ambil sebagai pelajaran?

ternyata saya bukan siapa-siapa didunia ini. saya tidak spesial. dan perjalanan untuk menjadi something spesial itu baru dimulai ketika saya memutuskan untuk keluar melihat dunia. sialan! dunia yang dimata fisikawan kuantum ini “begitu kecil” dan kita sendiri adalah seperti debu (agamawan pasti juga setuju dengan terminologi ini), ternyata sangat besar dan luas bagi saya. saya larut, larut, larut selarut larutnya. ini hanya sebagian kecil dari banyak perjalanan saya. dan selalu ada hal baru yang saya pelajari. saya belajar untuk endure, belajar untuk mengerti, belajar tersenyum. belajar sabar kalau suatu saat sesuatu tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan.

maka biarkan saja waktu menulis peristiwa, dan biarkan saya disini mengambil makna, walau sedikit.

frxs, over and out. cerita diatas mungkin terjadi dua semester lalu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s