Uncategorized

masih lama

“punya korek, mas?”

“sepurane mas, gak onok”

aku mencoba mengingat-ingat sudah sampai mana ini. dan aku terbangun oleh gerakan lembut dilenganku. seorang bapak meminta korek, tentu saja untuk sepuntung rokok disakunya. aku tidak merokok, kutolak halus. dan aku baru sadar, ini sudah sampai stasiun Klakah. ah, aku ingat betul tempat ini. sebuah kabupaten di Jawa Timur, Lumajang. kotanya tidak dilalui oleh jalur kereta api karena letaknya dilembah, sebelah timur taman nasional Bromo. stasiun yang paling dekat adalah stasiun Klakah.

hari sudah magrib, dan aku belum juga solat. gerbong yang aku tumpangi dilanda lelah; orang-orang sudah capek. wajahnya bermacam rasa. bermacam tujuan pula. dan bermacam stasiun yang ada dibenak mereka. bau udara semacam kombinasi dari asap rokok dicampur bau keringat dicampur deo tawas dan sedikit aroma macam-macam mulut yang lapar atau lelap. dan tempat saya seperti biasa. dipojok saja. kursi depan dengan sandaran yang selalu tidak nyaman. disebelah ada pria paruh baya. sekitar 30 tahunan. dari tadi sibuk mencari sinyal dari hp jadul ditangan kirinya. mungkin saja seorang buruh serabutan. didepanku ada bapak, sudah tua. baju koko dan kopiah lusuh khas orang tua. tertidur. barang bawaanya terdiri dari bermacam-macam kardus (entah isinya apa) beragam ukuran, dan seekor ayam jago didalam tas rotan tentengnya. tidurnya pulas sekali, dan aku bisa mencium aroma mulutnya yang khas.

disebelah bapak tua tadi ada lagi seorang pria, berkumis dan terlihat periang. dia yang meminta korek sedetik yang lalu. mata dan mulutnya konsisten: riang. dengan meminta kepada orang dikursi sebelah, cuma butuh 3 detik baginya untuk kembali menghirup pemutus stress itu, tembakau.

ah, harus juga kuceritakan ya, mengapa aku bisa terdampar disini. aku harus menyelesaikan sesuatu di banyuwangi. mengambil sebuah barang. dan aku terjebak disini karena ternyata yang disana membatalkannya. dan aku terjebak disini. 10 jam dalam gerbong bising suara. tujuan Malang-Banyuwangi. tujuan yang lebih spesifik adalah: aku bisa melihat manusia lebih dekat. aku suka bepergian sendiri. hanya sendiri. ditemani sepi dan aku sendiri. karena itu membantu saya merekonstruksi apa yang saya lihat. membuat saya fokus, dan bisa berfikir jauh lebih kompleks dan dalam. namun bukan berarti saya tidak suka ditemani. seorang dan dua orang sahabat tentu akan lebih bermakna, namun minus momen sakral kosmis ketika kesendirian membangunkanku dan menyadari bahwa kamu tidak sendiri di jagad dunia.

lewat stasiun Klakah aku menimbang-nimbang; apakah lanjut sampai banyuwangi atau menyerah di jember. dan, kawan, karena aku belum pernah melihat jember, maka kuputuskan untuk mengakhiri perjalanan ini dengan turun di stasiun jember.

Jember itu termasuk dalam karesidenan besuki di zaman kolonial. perkebunan tebu adalah komoditi utama. kotanya terlihat ramah dimalam hari, alun-alunnya menakjubkan. dan malam dijember mungkin tidak seramai di Malang, namun selalu ada dialektik antara ramai dan sepi, dan Jember adalah contoh bagus bagaimana aku menemukan harmoni ketika diatas ojek yang kusewa untuk pergi ke terminal Tawang Alun, mencari bis terakhir kembali ke Malang.

dan malam itu aku berdiri saja di terminal tawang alun, jember. terminal yang tidak begitu besar. terlihat mengantuk namun masih ada aktivitas. terlihat rawan namun petugasnya sungguh baik. sekali bertanya, lengkap sudah info yang kucari. jam menunjukkan pukul 11 malam. kalau kecepatan konsisten, aku sampai dimalang pukul 2-3 pagi. lingkungan baru selalu membuatku bersemangat. hanya dingin dan kantuk yang membatasinya.

===

diatas bis ekonomi jurusan Jember-Malang, saya selalu bermeditasi. dan selalu berhasil. ada pengamen yang selalu membuat saya berfikir, apakah ada kehidupan lain diatas jam 10? dan pengamen wanita dengan partner pria itu adalah contoh kecil, bahwa rejeki tak pernah tidur, selalu datang ketika kadang nadi sudah beku, ketika asa sudah sampai tenggorokan. dan orang-orang di bis ini, tak lain hanya mengikuti kemana takdir membawa mereka. aku juga. kemanapun. walaupun rencanaku kadang hebat sekali, tetap saja aku harus meniti jalur takdir. jalur surga dan sudah tertulis.

dan semakin larut jalan semakin lama

“masih lama”

aku memutar lagu tak jelas dari pemutar musik khayalanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s