cerpen

sayap ketiga (1)

yusuf merapikan tasnya, melihat sekeliling untuk terakhir kalinya. “semu”, gumamnya. guratan mentari sirna dipucuk daun-daun kering pohon ketapang. memunculkan berkas-berkas cahaya yang berkejaran menerpa bumi. siluet gunung kecil dibelakangnya adalah tanda terakhir bahwa bintang-gemintang akan segera melafalkan sandiwara baru untuknya. serigala liar dan para pemburu viking. dongeng tentang palu thor dan konfigurasi menarik dari sabuk orion. Yusuf terlalu sering memuja bintang, hingga bosan olehnya semua kelap-kelip itu. hal terakhir yang dilihatnya adalah isi tasnya. darimana dia memlai, dia tahu bahwa dia hanya berjalan beriringan dengan waktu untuk perjalanan panjang ini. waktu enggan menulisnya, gumamnya.

hal yang paling dimengerti olehnya adalah, bahwa orang-orang sepertinya memiliki kemiripan yang hampir sama: bisa berbicara dengan diri sendiri. walaupun tampak lucu dan tidak banyak yang mengerti, “bakat” ini adalah cerminan manusia purba atas pertanyaan akan eksistensinya dipunggung bumi. mereka mulai bertanya. mulai mencari kausa prima. mulai menjawab. maka orang yang bisa berbicara dengan dirinya sendiri adalah seorang yang memiliki ikatan magis dengan makhluk berpikir pertama yang tercipta. walaupun terlihat bodoh dan samasekali tak berguna, komunikasi dua arah dengan diri sendiri adalah sebuah bentuk paling sederhana yang kaya makna. terkandung didalamnya analog-analog cerdas bagi manusia. hal yang mencengangkan, bahwa manusia dapat “memperpintar” diri sendiri tanpa bantuan orang orang lain. tentu saja jika Dia tidak dimasukkan, toh Dia terlalu Agung bagi manusia untuk disandingkan dengan ciptaannya.

dan yusuf merasakan hatinya bergelojak untuk hal yang dia pahami. hal ini hanya bisa dimengerti bagi mereka yang juga memiliki naluri alami untuk merasakan dirinya sendiri. naluri yang disebut oleh manusia lain dengan banyak nama: introvert, melankolis, sensitif, perasa, penyendiri, dan banyak lagi. dia terjebak dalam hal yang dia mengerti, tapi susah untuk diuraikan. sesuatu yang oleh orang kebanyakan adalah sebuah kondisi dimana mereka hanya harus menganggapnya sebagai sebuah pilihan “ambil atau tinggalkan”. sesuatu yang mudah diacuhkan oleh orang lain. Yusuf melihatnya berbeda. gejolak ini berpendar dan memberikan kemungkinan hampir tak terbatas untuk ditelusuri, seperti lingkaran dengan sudut tak hingga.

apakah Yusuf telah membuang-buang waktunya untuk hal yang tidak dia pahami? untuk hal yang orang lain tidak mengerti? untuk hal yang diacuhkan ketika dunia tanpa nurani merebut semua sisa pertahanan terakhir dari pikiran-pikiran manusia marjinal untuk hidup dalam cahaya terang mereka sendiri?

… bersambung

Satu pemikiran pada “sayap ketiga (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s