jelajah, log

Tanjung Ringgit, biarkan tetap seperti ini~

Tanjung Ringgit adalah sebuah spot paling tenggara di Pulau Lombok, dengan view Samudra Indonesia dan Pulau Sumbawa. Oke, kali ini sesuai janji saya di facebook, saya mau reportase jelajah kali ini. Tanggal 30 Juli 2011, saya memutuskan untuk jelajah ke Tanjung Ringgit.
Oke, sebelum saya mulai, lihat dulu gambar berikut ini (dijamin mupeng)

pasirnya pink
pantai tangsi, tanjung ringgit. pasirnya pink
pantai tangsi. enak buat snorkling
view dari bukit di pantai tangsi

Tanjung Ringgit. Kata ini mungkin asing bagi sebagian wisatawan yang pernah ke Lombok. Yah, tempat ini memang bukan destinasi andalan. Tapi itulah tempat menariknya. Perpaduan alamnya yang masih asri dan penduduk setempat yang masih sederhana, dipadu dengan medan yang berat membuat tempat ini kurang mendapat perhatian. Tapi sesuai dengan medannya yang tergolong buruk, tempat ini menyimpan surga tersembunyi. Sepi dan masih asri. Ulah tangan manusia belum memberi dampak yang terlalu signifikan. Apalagi ulah kekuatan ekonomi (semoga saja tidak).

Perjalanan dari Mataram-Tanjung Ringgit memakan waktu sekitar 2,5 jam. Dengan jarak tempuh kurang lebih 80km. anda bisa saja memacu kendaraan anda sampai jerowaru, karena jalannya masih bagus. Tapi dari jerowaru sampai pemongkong dan terus ke tanjung ringgit jalan berubah menjadi off road. Ini masih jalan provinsi dan sudah diaspal. Namun telah rusak berat. Saya mengumpat. Kendaraan yang saya naiki tidak bisa melaju kencang. Oh iya, seperti biasa, jelajah kali ini saya ditemani fotografer kita, Piko. Pantat saya keramnya minta ampun, hahaha

Silahkan lihat peta tanjung ringgit di bawah ini:

tanjung ringgit di sisi tenggara pulau lombok
peta tanjung ringgit

by the way, saya masih bingung dimana letak goa raksasa. Apakah goa raksasa yang dimaksud adalah goa terusan ke bawah menuju pantai karang? Yang jelas saya dan piko hilir mudik mencari goa ini sampai menyusuri tiap ujung tanjung. Nihil. Apa benar goa yang dimaksud adalah goa terusan ini? Mungkin saja saya salah.

Oke, back to story

setelah menyusuri jalan bebatuan dan hutan-hutan, ditambah sesekali bertemu dengan pemukiman warga (rumahnya pakai solar cell, keren!), konter pulsa (aneh ya di tempat seperti ini adalah konter pulsa. Yang lebih aneh lagi, sinyal *l kuat disini!), dan proyek reboisasi kerjasama RI-jepang. Akhirnya kami menemukan papan penunjuk yang bertuliskan seperti dibawah ini:

kami langsung turun. Well, saya juga baru mendengar pantai tangsi. Ternyata, subhanallah! Indah sekali! Jauh dari keramaian ditambah dengan medan yang berat, kami menemukan sepotong surga disini! Mau tahu yang lebih keren? Ternyata pasir pantai ini berwarna PINK! Nggak kalah keren dengan pink beach di flores sana. Saya tertawa sendiri. Jauh-jauh ke flores buat ngambil pasir pantai pink, eh, ternyata di pulau sendiri ada! Hahaha. Piko langsung mengabadikan keindahan tempat ini (semua foto disini adalah hasil ulah tangan beliau). Satu lagi, karang disini indah! Saya berani jamin lebih indah dari karimun jawa! (tentu saja, jarang yang snorkling disini sehingga tetap terawat). Yang hobi snorkling saya sarankan untuk kesini. Jangan merusak!

diatas bukit ada berugaq
pantainya benar-benar berpasir pink/merah

Saya basa-basi dengan orang lokal. Melempar senyum dan mengucapkan salam. Jangan sampai kedatangan kami kesini dianggap mengacau. Saya selalu membiasakan senyum kalau bertemu orang lokal. Mereka mengagumkan. Saya bertanya kepada salah satu nelayan dimana letak goa jepang yang tertera di papan petunjuk. (saya pernah lihat di google gambarnya). Awalnya mereka tidak tahu. Namun kemudian mereka menunjuk sebuah bukit kecil sebelah barat yang diatasnya terdapat villa (entah milik siapa). “di pojok” kata mereka. Kami pun berjalan kaki disana…dan viola! Ada ceruk kecil yang letaknya agak tersembunyi. Ternyata disitulah letak goa jepang ini. Kami gembira bukan main. Setelah mengambil beberapa foto, kami memutuskan untuk menyusuri goa ini. Goa ini ternyata dalam. Pintu masuknya lumayan kecil (harus menunduk) dengan lebar kira-kira 2m. Bentuknya hampir persegi sempurna. Tentara jepang memang jagoan. Saya masih bisa melihat bekas pacul-pacul mereka di dinding gua.

fotografer kita, PIKO
yang bisa lihat, ada banyak ORB di gua

Didalam gua terasa pengap. Saya menyuruh piko untuk menghidupkan blitz kameranya agar bisa melihat jalan. Dan benar saya, gua ini terhubung dengan bagian lain bukit. Saya biasanya masuk gua yang buntu, tapi tidak kali ini. Ada junction di sisi lain gua, namun buntu. Dan setelah kami telusur lagi, ada sebuah gua lagi tepat disisi gua tempat kami keluar, lengkap dengan concrete paritnya. Rasanya saya kembali era perang dunia II. Benar-benar luar biasa.

pertigaan di dalam gua
akhirnya keluar
gua buntu

Setelah merasa puas di Tangsi, kami melanjutkan perjalanan ke titik terakhir jalan ini, yaitu mercusuar. Sampai disini, jalan karang. Seluruh wilayah ini adalah tanjung ringgit. Ada papan pengumuman yang menarik

meriam jepang : 300m
goa raksasa : 600m

saya semakin semangat. Langsung saya tarik gas tak peduli jalan rusak. Piko turun karena jalannya rusak. Akhirnya, ladies and gentlemen…. inilah Tanjung Ringgit dengan pemandangan lautnya yang memesona, dan guratan-guratan spektakuler dari tebing-tebing yang tererosi laut dan angin. Sungguh indah, subhanallah. (note : angin disini kencang!)

tanjung ringgit

langsung saja saya tidak membuang-buang waktu. Dari Mataram saya sudah punya ide untuk gantungan di tebing (TOLONG JANGAN DITIRU). Simpel saja, biar kelihatan keren (padahal bodohnya minta ampun). Saya bersusah payah mencari pegangan yang mantap, sementara itu angin bertiup sungguh kencang. Jantung saya berdetak hebat. Piko mewanti-wanti agar saya naik “jangan bermain-main dengan nyawa!” katanya. Air mukanya ketakutan. Saya apalagi. Namun dasar sayanya yang bego, saya tetap kukuh ingin berfoto gelantungan di tebing. Saya suruh piko “ayo ko, cepet, mau jatoh sayaaa!) piko langsung dengan gemetar mengambil gambar. Sukses! Hahaha… bahkan sampai Mataram pun, saya cengar cengir sendiri betapa bodohnya hal yang saya lakukan tadi. (samapi kepikiran terus kalau jatuh bagaimana?) tebing ini kurang lebih tingginya 100m (ketahuan bgt ybs terinspirasi iklan rokok! Wkwkwkw)

setelah itu, kami mencari meriam Jepang. Kami susuri tiap ujung tanjung ini. Kami berjalan hati-hati karena angin yang sangat kencang. Salah jalan atau bersenda gurau bisa membuat kami terjatuh dari tebing. Tidak ada yang tahu. Setelah lama di menyusuri dan tidak menemukan apa-apa, kami kecewa. Sewaktu berjalan baik saya melihat batang logam kokoh, tak jauh dari motor saya, di sebuh dataran tinggi. Viola lagi! Ternyata meriam ini berdiri malu-malu disini! Langsung saja kami memotretnya dan menerka-nerka apa yang dilakukan tentara dai nippon puluhan tahun lalu ditempat ini? Ditempat yang mungkin dulu tidak ada seorangpun kesini? Saya takjub melihat kekuatan mereka. Perang asia timur raya berimbas sampai tanjung ringgit! Saya bertanya-tanya mungkinkah kehadiran tentara jepang disini untuk mengisi pos-pos terluar mereka? Kapal apakah yang hendak ditembak dengan diletakkan meriam ini disini? (ini semacam anti sea gun, atau howitzer dengan kaliber besar). Miris juga rasanya benda bersejarah ini ditelah kesunyian tanjung dengan beberapa tulisan vandal yang merusak kemegahannya bertahun-tahun lampau.

meriam jepang

Oke, sudah dengan meriamnya, kami menuju tempat terakhir. Goa terusan. Saya menerka-nerka apakah ini yang dimaksud dengan goa raksasa di papan penunjuk tadi. Kalau disebut goa saya rasa tidak cocok, lebih cocok terowongan. Terowongan ini membuka akses jalan menuju pantai karang di bawah. Anginnya super kencang! Debu-sebu berterbangan dan kalau tidak hati-hati, mata bisa kelilipan atau lebih parahnya tergelincir (pijakan kaki pasir) dan jatuh ke bawah. Setelah foto-foto kami memutuskan untuk pulang

goa (raksasa???) / terowongan ke pantai karang di bawah

di peta yang ada diatas, terlihat sekali banyak pantai disekitar tanjung ringgit, namun saya tidak tahu apakah ada akses jalan kesana. Mungkin saja jalannya lebih ekstrim. Lain kali saya akan kesana. Kami tidak sempat untuk mandi di tangsi karena memang niatnya tidak untuk wisata, hanya jelajah (saya pribadi ingin ke goa jepang dan tanjung ringgit saja).

Saya ingin tempat ini tetap seperti ini. Kalau ada yang mesti diperbaiki, saya harap HANYA JALANNYA. Saya tidak ingin tangan-tangan ekonomi merambah surga kecil ini sehingga penduduk yang turun-temurun menggantungkan hidup di tempat ini tersisihkan. Terutama pantai tangsi. Semoga dia tetap asri dan baik-baik saja, tetap tersembunyi dan dilupakan orang, sehingga ekosistem disana tetap terjaga.

Aku tidak akan mengambil apa-apa darimu, surga kecilku!

Catatan : bagi first timer yang kesana, sangat disarankan untung bertanya jika tidak tahu jalan! Banyak jalan baru yang membuat kita bingung! (saya sempat nyasar sampai telongelong <— bodoh

sekian reportase jelajah kali ini, sampai jumpa di jelajah berikutnya!

credit foto : Herpiko Dwi Aguno

7 pemikiran pada “Tanjung Ringgit, biarkan tetap seperti ini~

  1. Sumpah keren bgt,,,,,
    klo udah mpe sana pasti nga’ mau pulang
    tebing yg curam
    gua” yg msh alami
    finaly pantai dengan pasir b’warna pink yg msh alami n bersih bgt
    suatu saat pasti balik k’sana lagi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s