LifE

Totally different

Ide dasarnya adalah saya berbeda dengan yang lain. Saya heran, kenapa ada saja orang yang masih kukuh melihat keadaan hitam putih secara parsial. Tidak mau melihatnya apa adanya. Melihatnya sebagai sebuah dialektika. Dalam beberapa hal yang prinsip mungkin saya sama seperti mereka. Masih melihat secara parsial terhadap sesuatu yang berbeda. Tapi tidak dalam masalah yang mengawang-awang.

Saya berbeda. Sejak kecil saya memang anak kebanyakan. Tak ubahnya anak kecil yang larut dalam euforia masa kecil. Tapi terlepas dari generalisasi itu, saya tetap berbeda. Saat anak-anak lain begitu menyukai sepakbola, saya suka memanjat pohon, genteng, berpetualang. Saya tidak pernah memasuki institusi akademis yang favorit selama hidup saya. Berada di kelas yang biasa-biasa saja. Anak dengan IQ jenius? Bukan. Berada di kelas akselerasi? Bukan juga. Jago basket, sepak bola, voli? Bodoh, tentu saja tidak. Dunia saya berbeda. 180 derajat berbeda. Kadang saya merenung sendiri kalau saya memang dilahirkan dan ditakdirkan untuk berbeda. Jauh dari mainstream. Jauh dari kanon-kanon baku, jauh dari gemerlap. Saya serba terpencil, didunia buatan sendiri. Dunia yang kerdil.Maka tak jarang saya sering di cemooh. Dinasihati sedemikian rupa. Diberi wejangan-wejangan bahwa kita sebagai makhluk sosial haruslah begini dan begitu. Tentu saja! Mereka tak pernah salah. Tapi mereka selalu mengambil jarak untuk setiap penyelewengan-penyelewengan yang mereka tangkap dari gerak-gerak ku. Menilai ku dengan kitab diri dan komunitas mereka sendiri. Sungguh parsial dan komunal. Mengapa harus seperti itu? mengapa memakai jeans lebih diutamakan daripada memakai celana kain? Mengapa? Mengapa?

Pada saat orang lain terkesima dengan sistem, saya mencemoohnya habis-habisan. Saya tak suka sistem. Disiplin diri adalah sistem saya. Saat orang sibuk mencari beasiswa, saya diam saja. Tak berbuat apa-apa. Apa nilai saya jeblok? Tidak juga. Apa karena saya tidak ikut salah satu ormawa, sehingga saya malu? Ini benar, tapi bukan alasan utama. Apa karena saya berasal dari keluarga yang ekonominya baik? Relatif. Beasiswa memang hal yang baik. Tapi entah, intuisi saya berkata itu bukan sesuatu yang baik untuk saya. Ada hal-hal yang sulit dijelaskan kalau kita hanya melandaskan diri pada filsafat materi. Bagi saya, materi hanya kulit. Mereduksi makna terdalam dari setiap peristiwa.

Saya dari dulu bukan mainstream. Selalu berada di kubu pembangkang, walau tak setiap waktu berada di garis depan. Pembangkangan bukannya tanpa alasan. Bukan karena semata-mata saya berbeda lantas mengambil jarak. Tidak. Dalam beberapa kasus mungkin saja. Tapi secara umum, saya bisa menerimanya sebagai sebuah keadaan hitam putih begitu saja. Hasil akhirnya tetap saya serahkan kepada Tuhan. Hei, saya masih percaya Tuhan, kalau kau mau tahu! Saya masih muslim. Dalam beberapa kesempatan saya malah memposisikan diri sebagai puritan. Dan lagi-lagi dicemooh karena hal ini.

Saya juga menolak memakai setiap definisi yang dipakai kebanyakan orang saat ini. Mayoritas bukanlah kebenaran. Televisi adalah candu, seperti demokrasi. Saya bisa menerima pluralisme dan multikulturalisme sebagai sebuah keadaan hitam putih. Tapi saya selalu memakai prinsip saya sendiri. Prinsip yang saya anggap benar. Saya tak mau memakai prinsip kebanyakan orang. Tak sudi! Saya menolak berkaca dari televisi. Saya menolak suara mayoritas sebagai suara Tuhan. Saya menolak dominasi merk-merk yang mengkungkung leher kita sejak tidur sampai tidur lagi. Menolak display berhala-berhala sebagai panduan. Menolak beasiswa dari korporat-korporat hidung belang yang bermuka dua. Menolak iklim pergaulan yang dilandasi filsafat materi. Menolak dominasi akal atas wahyu. Dominasi nafsu atas akal. Saya tak sudi dikekang dan dikepung dari segala sisi, bahwa segala bentuk kemapanan dunia modern adalah sebuah kebenaran!

Maka orang-orang seperti kami sering dicap aneh. Bagi saya justru mereka yang aneh. Lebih aneh lagi bahwa mereka aneh secara kolektif. Aneh secara berjamaah. Aneh secara berkelompok.

Siapa yang menyedihkan sebenarnya?

2 pemikiran pada “Totally different

  1. Bagi saya justru mereka
    yang aneh. Lebih aneh lagi bahwa
    mereka aneh secara kolektif. Aneh
    secara berjamaah. Aneh secara
    berkelompok.
    ini sungguh kenyataan yg terjadi, mrk melakukan hal yg sy anggap mengorbankan sesuatu yg tidak sebanding dengan kebebasan yg dpt diraih..
    tp mungkin merka nyaman dgn hal sprti itu jd sy harus menghormatiny, krn sy ingin d prlkakukn sprti itu pula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s