LifE

selamat tinggal?

Um… begini. Ada hal-hal rumit yang sebenarnya malu untuk diceritakan. Tapi harus. Kenapa? Pertama, karena aku pemalu. Kedua, hal ini kuputuskan untuk diakhiri, sebelum aku terjebak pada frame yang sama, dimana aku mengulur candu ke tempat yang tak mungkin digapai.

Berat sebenarnya, berat sekali. Untuk pertama kali aku merasa euphoria yang berlarut-larut. Candu yang amat akut. Halusinogen yang sangat kuat. Hal yang membuka mata ku dalam-dalam. Ada celah-celah yang belum aku masuki sepanjang hidup ku. Celah itu adalah hal ini. Aku berkata “hal ini” karena beberapa alasan. Pertama, aku malu. Kedua, hal ini erat hubungannya dengan emosi, dimana aku selalu merasa kikuk dan grogi tiap kali me relay dan mengulang-ulang memori itu.

Aku masih sayang. Duh, malu sekali rasanya berkata hal itu di blog sendiri. Mau bagaimana lagi? Ada hal yang hanya bisa diulang sekali. Parahnya, tak ada kesempatan kedua. Bukan, bukan. Ini murni kesalahan ku. Yah, aku yang bodoh.
Aku nggak akan marah sama kamu, karena aku memang nggak bisa. Aku yakin tiap orang pada dasarnya baik. Aku selalu berharap yang terbaik untuk kamu. Selalu.

Aku mungkin masih punya kesempatan untuk memperbaikinya. Tapi kalau melihat keadaan sekarang, aku skeptis. Terlalu banyak variabel diluar kemampuan ku. Atau ini hanya eskapisme karena aku cepat sekali menyerah. Yah, aku tahu benar kalau itu kekuranganku. Aku tahu benar posisi kita. Tempat kita masing-masing dalam drama. Terlalu naïf kalau aku bilang aku adalah yang terbaik. Tentu bukan.

Orang tersiksa karena kenangan. Ada yang bilang cara melupakan kenangan adalah dengan mengingatnya. Hal ini kadang berhasil padaku. Kadang sama sekali tak berarti. Bodoh juga rasanya. Kenyataan bahwa kita masih sering bersinggungan membuat cara tadi menjadi nihil. Tak berarti sama sekali. Melupakanmu dengan mengingatmu sama saja dengan menyulut kembali sumbu dari simpul-simpul rusak yang telah lama kutanam. Tapi aku juga menolak untuk melupakan kamu. Mustahil. Kamu sudah punya tempat tersendiri di hatiku. Mengganti setiap definisi yang telah lama kupakai. Lalu aku sadar satu hal. Betapa kenangan dan emosi sangat membekas dan memberi arah baru bagiku. Merombak semua metadata dan aksioma-aksioma tentang hidup.

Kamu tahu kalau tempat kamu tak tergantikan? Tetap seperti pelangi. Tetap seperti kunang-kunang. Tetap seperti euforia yang diperlihatkan hujan saat bulan desember. Untuk semua kenangan yang baik dan buruk. Untuk setiap perlakuan yang didamba dan menyebalkan. Untuk setiap percakapan yang enggan untuk diakhiri. Aku benar-benar merindukannya.

Tapi aku tahu kamu. Jadi maafkan kalau aku tetap tak bisa melupakan kamu. Aku berkata selamat tinggal hanya agar aku bisa memutus candu itu; agar aku bisa memberi arah baru bagi diri aku. Arah yang berbeda dengan yang pernah kamu tawarkan.

-fin

Satu pemikiran pada “selamat tinggal?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s