LifE, Original bRAIN

Distorsi

Sepertinya aku mengenalnya. Tapi tak tahu pasti siapa dia sebenarnya. Mungkin aku mengenalnya dimasa lalu, ketika kehidupan berjalan datar dihadapanku. Ketika malam sinis menyapaku. Namun tetap aku tidak bisa mengingatnya dengan sempurna. Hanya sepotong-sepotong. Wajahnya nampak seperti puzzle dihadapanku. Jelas aku tidak mengetahuinya. Tapi intuisiku berkata lain. Ada yang janggal saat aku memandangnya. Ada seraut roman muka yang tiba-tiba terlempar dari tempatku sekarang, menuju masa lalu. Lalu mulailah aku mengingat sesuatu yang indah, sangat indah. Mudah untuk kuungkapkan tanpa kata-kata. Pelan-pelan aku mulai mencari wajah yang asing itu dimemori otakku. Kosong. Aku hanya bisa mengenalinya dari senyum indahnya. Selainnya adalah datar dan hampa.

Apakah ini hanya distorsi? Halusinasi? Deja vu? Tak mudah menjawabnya, tapi kuyakin akan lebih mudah untuk menuliskannya apa adanya. Tapi memang begitu adanya. Terlalu banyak distorsi ketika aku melihat wajahnya. Terlempar bertahun-tahun sudah. Tercampur dengan sebuah harapan yang tersimpan rapi. Tercecer bersama keinginan dimasa sekarang dan menjadi satu dengan impian mendatang.

Aku tetap berusaha mengenalinya, walau hanya senyumnya yang berhasil ku sejajarkan dengan kenangan. Tetap akan kucari sumber keindahan itu, walau akan berakhir di labirin masa lalu yang hampir mustahil untuk aku keluar. Dan akan kucoba untuk menghirup segarnya, walau saat itu juga ia menguap.

Dan tempatku berpijak terasa bergoyang. Mulailah muncul satu persatu potongan-potongan dari kehidupanku yang lalu. Terlihat seperti ratusan cahaya silau yang mengerubungiku. Berputar-putar disekelilingku. Dalam khayalku aku bisa merasakan sejuk, ketika aku mulai mengenali sebuah wajah yang tadi asing kuanggap. Sejuk ini terasa nikmat saat kucoba memegang salah satu potongan itu. tak berbentuk.

Tiba-tiba cahaya tadi meredup dan akhirnya hilang bersama hembusan lembut angin timur. Sirna. Aku disini, di titik ketika harapan beristirahat. Tempat dimana masa lalu menyandarkan dirinya pada dahan rindang pohon kehidupan. Saat kenangan berkeluh tentang keadaannya yang menyedihkan. Memang tak mudah mengungkapnya, tapi kurasa aku telah melihat sesuatu yang telah usai. Yang habis kala tidurku.

Dan aku mulai bertanya dalam diriku, apakah ini hanya khayalanku?

Kali ini aku berharap sebaliknya.

3 pemikiran pada “Distorsi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s