LifE

Minggu campur aduk

Seminggu sebelum pengumuman UN adalah minggu yang mendebarkan bagi anak-anak kelas XII diseluruh Indonesia. Tapi ini tidak berlaku bagiku. Kenapa? Hehe… seperti yang kukatakan dalam tulisan sebelumnya, tidak ada perasaan was-was, berdebar-debar, paranoid, merasa coklat, atau yang lainnya. Benar-benar datar… sempurna.
Entah mengapa aku sangat yakin UN ini aku akan keluar sebagai pecundang pemenang (aiihh). Menggenapi perkataanku tempo hari bahwa aku akan lulus dengan nilai tinggi.

Lantas apa saja yang kulakukan seminggu sebelum UN ini? Rata-rata siswa (yang rajin) biasanya akan meningkatkan intensitas kedatangannya kesekolah. Bertanya ke guru, wali kelas, sibuk nyari bocoran kelulusan, bahkan kalau bisa mengintimidasi pihak PTN yang ditugasi memeriksa lembar jawaban untuk memastikan kalau mereka lulus. Ini sangat, sangat wajar.
Sedangkan aku sendiri datang ke sekolah untuk sekedar mengembalikan buku perpustakaan yang usang. Naasnya dari dua buku jelek yang aku dipaksa pinjam, salah satunya hilang. Terpaksa harus bayar… belum lagi sekolah membebani siswa untuk menyerahkan 2 buku paket sebagai sumbangan, yang mana buku dengan kurikulum KTSP saja yang boleh disumbangkan. Jika tidak, anda akan sukses tidak mendapat ijazah. Naasnya lagi aku hanya memiliki satu buku paket dengan kurikulum KTSP… bayar lagi. Ups, satu lagi. Siswa juga harus menyumbangkan pakaian layak pakai.
Hari lainnya aku, Wilhy, dan Sigit mencoba peruntungan kami untuk maling benwit di Telkom. Hasilnya Nihil. Akhir-akhir ini Telkom begitu pelit membagi benwitnya untuk anak-anak ingusan seperti kami. Akhirnya kami memutuskan untuk bergerilya mencari TMB (tempat maling benwit/AP) lain yang bisa disedot. Tentu saja provokator promotor acara ini adalah aku.
Tempat maling benwit itu bernama Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Sebagai Fakultas baru yang langsung naik daun tanpa harus naik tangga, FK Unram memiliki semua kriteria untuk bisa dicap sebagai “Kampus Favorit”. *dengan nada suara iklan ala radio AM* Gedung baru bertingkat, full AC, tempat parkir luas dan nyaman, air ledeng mengalir lancar, listrik mencukupi, gedung terkover sinyal wi-fi… ahk, enaknya.
Hanya saja, ada satu kendala. TMB dengan nama Cakrawala1 ini terproteksi password!. Ah, celaka betul!. Semenjak kami dengan metode sneaking mengambil tempat yang agak jauh dari gedung FK (tapi masih ada sinyal), kami sudah atur strategi. Di berugaq gedung FK ada banyak mahasiswa/i sibuk menatap notebooknya masing-masing. Yang paling super adalah seorang cowok yang duduk dekat tangga. Super karena ternyata notebooknya tersambung dengan cok roll yang dibawa entah dari mana dan nyambungnya kemana. Ngenet sambil begadang, begadang sambil ngenet.
Strategi kami :
– pura-pura jadi mahasiswa FK yang dengan begonya lupa password TMB, lantas minta salah satu mahasiswa untuk memberitahu
– dengan gaya sok kul masuk gedung FK, langsung duduk di berugaq sambil buka notebook. Pas ditanya password, langsung bilang ke mahasiswa disebelah “eh, ni passwordnya diganti yah? Bukannya kemaren passwordnya “dokterbegadang123”? udah diganti yah? Apaan?.”
– Dengan sangar menstop siapa saja yang bertampang mahasiswa lagi cupu yang masuk gedung FK dengan membawa tas mencurigakan yang disinyalir berisi notebook untuk dipaksa membocorkan rahasia apa sebenarnya passwordnya
– Baik-baik meminta password, kalau ditanya bilang saja anak Ekonomi atau anak kampus sebelah (dimana tuh?)
Well… gak ada yang berhasil. Kami sudah pasrah mau ngacir ke Muhammadiyah, sebelum kami menyadari bahwa saat itu hanya ada satu orang bertengger syahdu di berugaq FK sambil menatap tajam notebook didepannya. Kesempatan emas datang untuk bertanya baik-baik passwordnya. Setelah berembuk dan saling lempar tanggung jawab, akhirnya Wilhy pasrah untuk bertanya. Tidak salah aku memilihnya karena ia baru saja membaca buku “Membaca pikiran orang melalui Bahasa tubuh” (beneran lho) yang baru saja kami beli patungan di toko buku tempo hari. Siapa tahu dia bisa bernegosiasi dengan tepat.
Beberapa saat berlalu…
“Pupil matanya mengecil dan melipat tangannya didada sambil membusungkan kedepan (padahal kecil badannya, tapi disebelahnya ada satpan berbadan tambun), artinya dia tidak tertarik dengan apa yang saya katakan. Tiba-tiba dia menutup notebooknya sambil berkata “saya ketua Eksekutif disini. Disini ada peraturan kalau bukan mahasiswa kedokteran nggak boleh ngenet. Kamu anak mana?” saya jawab aja anak Ekonomi.” Wilhy mengisahkan pengalaman pahitnya. Ternyata lawan bicaranya adalah ketua BEM. Tak sia-sia dia membaca buku bahasa tubuh itu. Dia jadi tahu keadaan si KetSek (Ketua Eksekutif) lagi nggak mood. Jadi dia sudahi saja pembicaraannya. Walhasil, kami pulang dengan tangan hampa. Wilhy pulang dengan perasaan berdosa karena membawa-bawa nama Ekonomi.

Hari lainnya aku, Wilhy, dan Sigit sebagai dedengkot Lombok Parkour (bangganya~!) rencananya akan mendatangi Piko untuk mengemis dibuatkan logo L~Parkour (Lombok Parkour). Malam harinya kami bertiga datang. Dengan santainya Piko sang seniman cyber lepas membawa serta mekbuknya dan tanpa jeda, tanpa introduksi, tanpa sekapur sirih, langsung duduk ngemper di teras sambil langsung memulai kerja. Booting BlankOn, buka Inkscape, buka FRXS_ROYALE (flashdisk ku), sedikit penyesuaian, briefing nggak karuan, langsung mulai menorehkan vektor-vektor apik nan cantik ke kanvas digitalnya. Anak ini memang pantas dibanggakan, cuek tapi berisi, terlihat pendiam tapi mengobservasi sekitarnya, lusuh tapi kritis, kemana-mana bawa mekbuk yang akan menggiring orang-orang kedalam opini bahwa : dia adalah seorang hacker yang dilatih khusus di forum-forum underground, dipersiapkan untuk menembus database CIA, NSA, KGB, bahkan Sayaret Matkal (aiiihh, otak konspirasiku kambuh!). Menggunakan identitas sebagai anak SMA biasa merangkap sebagai nyubi dalam komunitas pengembang BlankOn dan KLPI (Kelompok Pengguna Linux Indonesia). Aih, sudahlah. Initinya, jangan lihat buku hanya dari kovernya (kalau bisa lihat harganya).

Pembuatan logo menimbulkan masalah karena sudah hampir 45 menit kami bertiga gagal mencapai kata sepakat. Pembuatan logo berjalan alot. Tidak hanya rapat yang berjalan alot. Ide-ide terlontar satu demi satu, kritik, saran, dan lain-lain. Saling serang saling sikut saling hantam (boong). Setelah sedikit penyesuaian, akhirnya jadi juga logo L~Parkour. Terima kasih untuk piko atas kesabarannya membuatkan vektor dari gambar bitmap.

Satu lagi pengumuman penting. Ternyata hari pengumuman diundur sampai tanggal 15 Juni. usut punya usut ternyata karena ada SMA yang ujian ulang, jadi yang lain harus menyesuaikan. Kasian ya, udah capek-capek ngrepek bocoran, didikte-in guru, eh malah salah..!!. apa kataku, jangan percaya kunci jawaban! (kecuali sudah di kroscek).
Jadi tak sabar menunggu tanggal 15 nanti. Aku berharap semua akan baik-baik saja. No shit happen.

3 pemikiran pada “Minggu campur aduk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s