LifE, Original bRAIN

An extraordinary weekend

Sabtu lalu, setelah sebelumnya janjian sama piko mau bawa laptop ke skul, akhirnya moment yang ditunggu-tunggu datang juga. Akhirnya saya bisa ngenet gretongan di skul. Well, skul saya (SMAN 2 Mataram) sebenarnya udah jauh-jauh hari masang hotspot. Tapi karena mungkin anak-anak pada malu bawa laptop, akhirnya kami berdualah yang (ceritanya) menjadi pionir “hotspot era” di skul.. hi hi.

Beruntungnya, ada 3 AP (access point) di sekolah kami. 1 di ruang multimedia, 1 di deket perpustakaan, dan satu lagi di ruang BK (bimbingan konseling atau boleh keluar). Hebatnya lagi, tidak ada yang diprotek (ya iya lah). Tentu saja ini hal yang menyenangkan.

Awalnya, piko sebenarnya udah war walking di skul nyari AP tapi katanya nihil. Mungkin saja dia cuma muter-muter kelas atau unfortunalety APnya belum dihidupin. Tapi setelah saya Tanya guru TIK, katanya aktif. Kami langsung mengatur strategi bagaimana sabtu ini kami bisa ngenet gretongan. Pilihan jatuh pada AP di ruang BK. Masalahnya adalah, saya sangat anti masuk ruang BK karena sesuatu dan lain hal. Tapi besar dugaan saya kalau kopsis yang terletak tepat di dekatnya (disebelahnya ada wc cewek) pasti juga “kebungkus” ni sinyal. Piko langsung memutar otak dan…. Ta Da! Ada ruang kelas kosong di depan kopsis! Gak ada yang pake karena skulnya lagi di renovasi. Jelas! Area ini juga pasti kebungkus sinyal.

Benar dugaan piko, baru saja ni axioo stand by, langsung kedetect deh APnya. Langsung aja saya konek dan berhasil. Buka ie dan otomatis masuk msn. Berhasil!!. Saya nggak suka pake ie jadi saya download firefox, sekalian ngetes kecepatannya. Ternyata cepat. Jelas karena bandwidthnya semuanya jatuh ke axioo saya. Kemana macbooknya piko? Ternyata karena dia baru install ulang ubuntu, mungkin sinyalnya masih “kabur”. Padahal sebelumnya macbooknya itu sensitive sekali lo sama sinyal…

Walhasil, kami senang. Piko saking senengnya jadi bingung mau buka apaan. Saya ngetes download offline installernya YM v.9 dan berjalan sukses. Satu-satunya kendala adalah batre axioo ini lemot banget. Soalnya sebelum ngenet saya nonton video lucu dulu sama temen-temen ^_^. Beda dengan macbooknya piko yang tahan sampe 2 jam lebih dikit. Saya bergumam sendiri, “hari yang menyenangkan”…

***
Siangnya, kami sekeluarga berkesempatan nginep (gratis) di The Santosa Villa and Resort. Hotel baru yang merupakan “transformasi” dari Hotel Intan Laguna. Ada yang tahu kenapa tiba-tiba saya bisa nyasar disini? Hehe… Tanya saja manajer hotelnya.

Sebagai hotel “merk” baru, sangat penting bagi The Santosa untuk mengenalkan berbagai fasilitasnya ke public. Jadi, banyak sekali promo yang diluncurkan. Mungkin keluarga saya adalah salah satu yang beruntung dapet nginep semalam… fasilitasnya yang paling mengesankan adalah ball room (atau meeting room?) yang terbesar di lombok yang bisa menampung 700 orang. Kolam renang ukuran lagoon, dll. Kami sekeluarga sendiri sudah sangat senang “ditempatkan” di bungalow yang bagus. Really. Thanks untuk The Santosa.

Akhirnya tiba acara dinner. Pertama-tama saya permaklumkan bahwa saya adalah orang udik dan ndeso. Secara teknis saya tak terikat dengan “adat-adat” makan ala barat seperti pake pisau atau pembagian menu. Tidak ada appetizer, main course, ataupun dessert. Bagi saya semua adalah main course… masalahnya, banyak sekali jenis makanan yang dihidangkan. Saya tidak tahu harus makan yang mana. Tapi kroket dan kawan-kawannya disebelah saya sepertinya manggil-manggil dari tadi, ingin segera masuk ke perut *_*. Akhirnya saya mutusin untuk ambil itu dulu. Persetan dengan appetizer. Ini adalah appetizer! Walaupun kelihatan seperti dessert (atau sebaliknya).

Keadaan malam ini cukup rame. Well, yang diundang kan bukan kami doang. Ada banyak individu-individu lain yang lebih “penting” dari kami yang ikut serta. Sementara yang lain sibuk ngobrol dan berbincang sesama ataupun dengan manajemen hotel, saya telah memulai “manuver ketiga” saya dalam “perang dinner” ini, yang sebenarnya menurut saya adalah perang eksistensi dan urat saraf. Makaaan!!.

Keesokan harinya setelah kami makan pagi dan main-main + nonton HBO, kami kembali ke rumah kami yang mungil. Sangat tidak terpikir bagi kami bisa nginep di hotel yang berkelas internasional. Ditambah lagi ditempatkan di bungalow yang harganya bisa sampai 7 angka per malam. Thanks sekali lagi buat The Santosa…

***

Ahad siangnya saya diajak lagi sama abi saya ke sekotong. Sebuah daerah di selatan pulau Lombok yang kini ramai diperbincangkan para elit karena ternyata dibalik keelokan pantainya tersimpan deposit emas, walau dalam proporsi yang beragam. Ini jelas suatu keasyikan tersendiri.

Setelah pertambangan “liar” (dalam kacamata penguasa) ala masyarakat setempat berlangsung, banyak hal yang berubah sejak terkahir kali saya kesini semester sebelumnya. Kini di beberapa titik jalan bisa kita temukan pos-pos “penyaringan” emas. Kandungan emas yang terdapat dalam tanah dipisahkan dengan tanah induk dengan menggunakan mesin khusus. Saya belum pernah melihat yang seperti ini. Pikiran saya ketika memikirkan penambang emas sekotong yang notabene masih tradisional adalah menyaring menggunakan saringan tepung. Seperti yang sering saya lihat di TV. Tapi ternyata sedikit lebih maju. Go Miner!!

Btw saya kesini sama teman sekelas saya. Namanya Marwi. Dia adalah anak pesisir. Wataknya supel dan santun. Bapak saya menyuruhnya ikut karena bapak saya juga akrab sama orang-orang pesisir…

Kami sampai di Medang, sebuah desa kecil di sebuah teluk di sekotong. Ombaknya bisa dibilang tidak ada. Sore hari adalah waktu surutnya air laut. Bibir pantai menjauh dari kami hingga puluhan meter. Kami disini melihat-lihat pekerjaan orang membuat rumah apung. Bagus banget!. Lengkap dengan ruang tengah, dapur, kamar mandi, ruang tidur, dan buffet satu-satunya yang tidak ada adalah pos pengamatan dan ruang senjata (hehe, just kidding). Rencananya ini akan digunakan untuk budidaya. Ikan atau mutiara. Sedetik terlintas untuk mengajak teman-teman saya yang lain menginap kalau ini sudah jadi. Tentu setelah UN. Detik-detik berikutnya otak saya terus berkooperasi dengan otak marwi merencanakan kegiatan ini… Insya Allah.

Setelah shalat ashar dan kembali melihat-lihat rumah apung, kami diajak oleh warga sekitar yang juga teman abi saya untuk pergi ke pulau (gili) kecil di ujung teluk ini untuk menjemput para pemancing pulang. Satu hal lagi yang membuat teluk ini begitu tenang adalah karena ada 3 pulau yang “menghadang” ombak. Dengan mesin Yamaha Ai 5 pk, kami bertolak dengan kapal fiber menuju gili di ujung teluk ini, Gili Tangkong. Dari pembicaraan Marwi dengan sang nahkoda, kami mengetahui bahwa sebenarnya kapal ini seharusnya memakai mesin 25 pk. Tapi karena katanya mesinnya berat dan mereka enggan membawanya karena capek, jadi ya pake mesin ini deh…

Sebelum mencapai Gili Tangkong, ombaknya ternyata cukup besar. Ini adalah saat yang menyenangkan. Seperti yang sudah diketahui, saya sangat menyukai kapal. Kapal apapun. Kecuali kapal karam. Ombak yang besar sangat menantang adrenalin saya (ciee) karena saya nangkring di pos paling depan.

Ternyata sampai di Gili keadaan kembali tenang. Ombaknya kecil. Para pemancing yang kira-kira jumlahnya 15 orang mulai bersiap untuk pulang. Well, karena masih ada beberapa lagi yang masih mancing, akhirnya diputuskan kami akan kembali dengan sampan tradisional yang sebelumnya memang sudah nangkring disana. Kami kembali bersama 10 orang pemancing (kurang lebih). Saya agak takut apakah sampan ini muat menampung kami. Marwi berkata tidak apa-apa. Saya menurut…

Sepulang dari sekotong saya mendapat kabar yang tidak terlalu baik. Ibu saya yang baru pulang pengajian berkata bahwa pedagang cilok (bakso tusuk) langganan saya yang biasa buka cabang di samping sekolah tadi pagi tertabrak. Meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi ro ji’uun. Sedetik setelah mendengar itu saya mengucapkan kalimat istirja’, menerawang, seperti tidak percaya. Saya langsung lemas. Saya sudah cukup lama kenal sama beliau. Kata ibu saya, dia ditabrak oleh seorang polisi yang mabuk dari Senggigi… sungguh ironis. Saya masih mengingatnya sampai saya mengetik tulisan ini…

Ampuni dosa dan kesalahan hamba Mu ini Ya Rabb…

3 pemikiran pada “An extraordinary weekend

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s