Izzatul IslaM, LifE, tazkyatun nafs

Mein Kampf as a Moslem

well, tulisan diatas ga serta merta berarti saya adalah pengikut fuhrer, sang kakek bontot gila perang dengan alasan yang invalid yaitu bertahan hidup. Sedekar meminjam bukunya si adolf hitler berjudul Mein Kampf (perjuanganku)…biar keliatan tumpang tindih gitu (harap maklum, kalau penulis adalah seorang yang senang campur-campur bahasa)

Aku memikirkan sebuah jalan yang tak lagi sama setelah hari ini. begitu berbeda. Hingga anak kecil yang hari ini terlilhat begitu gembira dengan topi barunya, sepatu barunya, baju, celana, psp bergantung ditangannya, tak lagi merasakan kebahagiaan setelah hari ini. Karena besok takkan pernah kembali sama.

Aku memikirkan Dunia yang kolaps dengan kesombongannya. Setelah hari ini, akan kau temukan kesusahan hidup… wahai manusia. Karena kita sudah sampai dipuncak inovasi. Kini saatnya turun menuju titik keseimbangan. Kembali keharibaanNya… dengan segala amalan kita yang minim.

Sejak kubuka mata maka saat itulah meteran dosaku dihitung. Begitu banyak dosa… minimnya ibadah… ilmu yang percuma jika hanya mencari dunia. Tak lengkap tanpa kedustaan jika bertutur. Mata yang selalu liar. Pikiran kacau tak tentu tujuan. Tangan edan dengan segala tindak-tanduknya. Kaki berjalan tanpa dipesan. merangkak menuju kemanapun yang dikehendaki sang komando, nafsu.

Perjuanganku bukan hanya sekedar koar-koar tak tentu tujuan. bukan sekedar interupsi para pejabat. Yang telah mengkhianati sumpahnya sebagai pelayan Rakyat. Katanya pelayan rakyat, tapi ditengah jalan, malah di seperempat jalan dia telah mengganti dirinya menjadi pelayan nafsu. Lihat saja. Jika semula uangnya hanya 1 miliar, maka sewaktu berhenti menjabat menjadi 3 miliar.

Perjuanganku bukan untuk mengisi perut kosong, mengganjalnya dengan salah satu bahan bakar neraka, rezeki haram. Tak perjuangan mencari popularitas semu berantakan, berhias make up tebal tanpa cahaya… bagiku, itu sebuah tanda tanda redupnya cahaya diri di Akhirat kelak. Tak perjuangan mendapatkan gadis impian. semuanya begitu cantik. Bahkan suaranya adalah manis, padahal itu pintu masuk setan. Aku melihat disana… muda mudi sedang aktif memanggil setan via obrolan matre, gombal dan cabul.

Tampaknya tak cukup dengan omongan. Semakin dilarang semakin menjadi jadi. Hingga hampir kutulis “hanya kera dan babi yang masuk mushalla dengan sepatu”. walaupun ku tahu bahwa kera dan babi manapun juga tak memakai sepatu. Jika tak mau diluruskan dengan omongan, apa kau ingin diluruskan dengan pedang?

Mein Kampf bukan hanya seputar kedamaian di sekitarku, regionku, wilayahku. Kuingin semua makhluk yang tulus mengucap syahadat menerima kedamaian. Setelah berjuang melewati fitnah tebal tak terperi. Bukan hanya jargon nasionalis sempit yang terlihat “menyatukan”, penuh omong kosong aneh tak logis. Jika kalian tak setuju, aku memang lebih senang untuk tidak menjadi warga wilayah ini.

Lihatlah, saudaraku. Jika kalian mengaku muslim yang waras dengan keimanan kalian. Dimana kalian saat pasukan amrikiy menerobos lancang rumah rumah muslim di seantero bumi Allah, Bumi yang diwariskan untuk orang orang dengan iman.
Kulihat kalian sibuk, dengan harta, tahta, wanita. Selalu hal itu yang menjadi 3 besar kesenangan manusia versi orang dengan pikiran yang tololnya bukan main habis-habisan. Jika di bahasa jawa kan, itu kurang lebih berarti “wong gendeng pamungkas”.
Sehingga bisa kukatakan, bahwa hanya orang dengan pikiran invalid tidak waras yang tidak acuh mendengar risalah fatimah dibacakan (walau aku ragu apa kalian pernah mendengar tentang risalah fatimah)

Ya! perjuanganku tak kuberikan untuk petak-petak kecil bumi. Ludes ditimpa maut. Hilang bersama hempasan angin, angin topan. Atau ditelan keguncangan hebat dari dalam bumi, atau terlempar bersama material lain saat laut patuh mengerjakan titah Sang Khalik. Terlalu jauh kalian melenceng, teman.

Perjuanganku untuk mereka, saudara dalam tauhid, demi kembalinya din ini untuk Allah semata. Demi pertanggung jawabanku saat dimana kebingungan dahsyat melanda, karena tak tahu dengan kaki yang mana aku harus berdiri, dengan mulut yang mana harus ku berbicara, dengan akal yang mana aku berargumen, ketika Allah mengadili ku.

Berusaha ku keluar dari dosa. Bersusah payah. Jangan meninggalkan doa. Karena itu adalah sebab terbesar bagimu. Mencoba kembali merangkak. Rangkul ilmu syari dengan benar. Abaikan ilmu kauni jika bertentangan dengan yang syari.

Pikirkan jalan menanjak, penuh aral melintang, rintangan, liku-liku. Ini bukan sekedar kata-kata. Teguhkan kaki kecilmu di jalan ini. Karena cercaan, hinaan, ancaman, olokan paling pedas akan kau temui. Sebagai bukti kebenaran jalan kita. Jangan jauhkan kakimu dari rel ini. teguhkan dirimu, bukan hanya seperti karang dihempas ombak. tapi seperti gunung batu cadas yang tinggi menantang langit. Tetap dijalan ini, karena ini adalah sebab terbesar yang mengantarmu menuju rimbunnya pepohonan di kampung bernama Keabadian…

2 pemikiran pada “Mein Kampf as a Moslem

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s