LifE, sekolah

Olimpiade Teknik 2008 (FT-UNUD) : The Foreigner #4 (habis)

Bangun lebih awal lagi… langsung saja saya mandi dan shalat subuh. Kali ini keadaan sungguh berbeda. Kami akan check out dari hotel pagi ini. Setelah acara penutupan selesai barulah kami akan langsung pergi ke habitat asli kami, Mataram.

Perjalanan dari hotel menuju Jimbaran lebih membosankan lagi. Di dekat bandara Ngurah Rai kami terjebak macet. Akibat nyata dari keadaan ini selain perjalanan menjadi lebih lama, saya dan snivelus mengantuk dan tertidur (padahal baru jam setengah 8). Setelah macet bisa teratasi akhirnya kami sampai juga ditempat.

Anak-anak sekolah lain sudah menunggu disini. Ada yang memakai jaket sekolah mereka sebagai pembeda. Yah, rata-rata disini begitu. Rombongan selong tampak berbeda karena mereka memakai baju sekolah warna oranye-hitam, dan putih abu-abu (SMK selong). Sementara dari SMAN 2 Mataram… terlalu aneh dan sangat tidak serasi. Snivelus memakai baju khas SMAN 2 Mataram yaitu warna hijau muda-hijau tua. Anehnya, dia sangat loyal sama jaket abu-abunya. Lain dengan saya. Saya malah memakai baju putih-abu. Dan yang lebih anehnya, saya juga begitu loyal dengan jaket hijau tua saya.

Kami berdua tidak memakai kaus kaki. Sepatu saya yang lebih mirip sepatu bapak-bapak warna hijau tua serasi dengan jaket saya. Baunya minta ampun karena waktu hari selasa (11 November 2008) sepatu saya kena hujan…. sementara snivelus memakai sepatu warna hitam setiap hari, karena beliau itu lupa bawa sandal😉

Karena kami tidak ada jadwal, kembali kami melihat lihat lomba yang belum tuntas. Sampai sini saya merasa ngantuk, saya menyerah dan mencari tempat untuk tidur. Akhirnya kami menemukan tempat untuk tidur. Saya yang dikenal sama teman-teman di Mataram sebagai tukang tidur + ng*lor akhirnya mengeluarkan kebiasaan buruk saya. Tak usah diceritakan. Untungnya tidak ada yang lihat karena posisi saya yang sengaja saya atur agar ergonomis dan tetap dalam kondisi defense.

Acara penutupan dimulai. Kami semua berkumpul di Aula Fakultas Teknik. Begitu ramai. Kali ini snivelus sibuk dengan mainan yang dibeli oleh salah seorang anak dari rombongan selong. Mainan yang cukup mengasah otak. Berupa kubus-kubus kecil yang disatukan sedemikian rupa. Tugas kita ialah menyusunnya menjadi sebuah balok dengan ukuran 3×3 kubus. Saya yang mengerti kecemerlangan otak snivelus, membiarkannya asyik dengan penelitiannya tentang pola hubungan antar kubus. Berkali kali saya interupsi, tidak mau. Akhirnya beberapa menit kemudian dia berhasil melakukannya. Rombongan Selong kaget karena yang beli udah semalaman mencoba tapi hasilnya nihil. Akhirnya kami digerogoti oleh rombongan Selong dan Surabaya. Snivelus yang kini dipanggil sensei ditanya tentang trik dan tehniknya.

Well, sebenarnya kami juga bertemu rombongan dari Malang. Menurut SID (Self Intelligence Department/ departemen intelijen diri), mereka mengikuti lomba rancang bangun jembatan. Sewaktu saya melihat persiapannya, saya udah membatin “pasti ini yang menang”. Tak usah dijelaskan. Silahkan pikirkan sendiri selengkap apa mereka membawa bahan.

Sewaktu kami sibuk melihat sensei snivelus mengutak atik mainannya, ternyata rombongan malang (cewe) bertanya kepada kami, “mushallanya dimana ya?” (mudah2an ga salah narasinya). Salah seorang menjawab, “kita sholat di masjid aja”. [setelah berunding dengan guru kami memutuskan untuk shalat jama’ ta’hir]. Jujur, saya merasa memiliki teman. Karena saya juga sedang mencari tempat untuk sholat. Saya kagum dengan keloyalannya untuk melakukan ibadah. Salut buat anti…

Nah, acara penutupan dimulai. Kali ini dimulai dengan memainkan games. Saya terlalu bosan untuk menceritakannya, karena saya juga nggak begitu tertarik. Saya justru lebih tertarik dengan rentetan piala yang ada di ujung sana😉

Panitia meminta para peserta yang dari luar pulau Bali untuk mengangkat tangan. Sebabnya? Mau ditanya n dkasi hadiah. Saya yang anti dengan hal-hal seperti ini langsung mengangkat tangan tanpa gairah sedikitpun. Prosentase ditunjuknya saya kedepan adalah 1 dari 24 kemungkinan. Sialnya, ternyata saya yang dipanggil. Jaket hijau yang saya pakai ternyata mempersempit prosentase menjadi 1 dari 1 kemungkinan. Akhirnya saya maju untuk mempermalukan diri saya sendiri😉

Ditanya, disuruh memberi kesan kepada Bali, UNUD, FT… saya jawab seadanya. “sampai kapan saya harus mempermalukan diri saya?” batin saya saat itu. Sementara itu saya melihat tampang anak-anak Bali sangat aneh. Sepertinya mereka tengah melihat Alien Pleiades dengan pakaian antar galaksi berwarna hijau tua sedang terdampar di planet Erra (Bumi) dan sedang diwawancarai oleh CNN. Tak apa-apa, tertawa saja selagi bisa. Anak anak SMK 1 Selong tertawa melihat alien sedang mempermalukan dirinya di depan delegasi intergalaksi…

Waktu yang ditunggu tunggu datang. Tapi saya tak bisa melukiskannya. Untuk itu silahkan yang baca klik disini, karena saudara snivelus yang akan melanjutkan moment-moment extra ordinary ini.

Juara umumnya adalah dari SMAN 4 Denpasar. Selamat ya, kalian emang ambisius. Oh ya, prediksi saya benar. Rombongan malang menjuarai lomba rancang bangun jembatan. Juara satu gitu. Selamat deh, bahan kalian membuktikan eksistensi kalian.

……………………….

… Kami sudah bersiap-siap hendak pulang. Setelah sedikit berbasa-basi dengan orang-orang, kami langung berangkat ke padangbai. Snivelus asyik menulis lagi untuk postingan blognya (postingan yang anda baca diatas). Sementara saya hanya menerawang. Keadaan yang wajar saat saya berhasil berhadapan dengan kompetisi.

Di Gianyar mobil yang kami tumpangi pecah ban. Melihat panjangnya kerusakan saya ragu apakah mobil ini bisa berjalan. Bannya seperti disayat oleh monster dari planet Korriban (star wars). Akhirnya panitia mengontak rombongan pertama (kami memakai 2 mobil) untuk kembali lagi menjemput kami.

Kembali melanjutkan perjalanan. Lagi lagi monoton. Saya tidak menangkap sesuatu yang bisa ditulis disini. Jika ada, pasti itu adalah berisiknya suara anak-anak rombongan selong. Mereka sedang bersukacita.

Singkat cerita kami akhirnya masuk kekapal. Jam menunjukkan pukul 07.45pm. Saya dan snivelus telah menyelesaikan kewajiban kami kepada Sang Pemelihara. Saatnya momen yang paling kusukai. Naik kapal.

Seperti yang telah saya bilang di postingan sebelumnya, naik kapal selalu menyenangkan. Selalu begitu. Tak peduli seberapa sering naik kapal. Selalu begitu. Kami mengambil tempat duduk di dek paling atas. Alasannya, agar kami bisa memposting lagi tulisan-tulisan ini. Lagipula disini keadaan tidak terlalu ramai. Naasnya walaupun dapat sinyal, 3g modemnya pembimbing kami tidak dapat melakukan kontak ke server wordpress. Kegiatan di interupsi.

Semua akhirnya tertidur. Wajah-wajah polos dengan segunung harapan. Irama laut dan mesin kapal saling beradu. Sang angin yang tidak mau kalah ikut-ikutan ambil bagian. Kurasakan irama ini, berulang-ulang. Kusenang. Kutersenyum. Karena hanyut dalam irama selat lombok, akhirnya saya ikut tertidur…

Sekitar jam 1, memasuki teluk lembar.
Perjalanan hampir memasuki babak akhir. Kami sudah mulai bersiap-siap. Dan masih tetap kudengar, suara yang membuatku nyaman. Dicampur dengan aroma laut dan sedikit oli. Memaksa memori untuk mengeksekusi kejadian setahun lalu. Saat saya pulang kampung ke Riau. Naik mobil… sangat menyenangkan. Tentu saja naik kapal adalah momen yang ditunggu tunggu.

Ternyata kapal yang kami tumpangi tidak bisa langsung merapat karena dermaga penuh dengan kapal lain. Kami harus menunggu kapal itu bongkar muat terlebih dahulu. Saya mengantuk, tertidur lagi…
Lalu sekitar jam 3 baru kapal kami merapat. Setelah mobil-mobil keluar dan dek kosong, kami baru turun. Dimarahi oleh ABK karena terlalu lama di dek penumpang (kapalnya mau istirahat)…

…Mobil yang kami tumpangi melaju di jalan-jalan sepi Lombok Barat. Perjalan jam 3 pagi membuat saya melihat sesuatu yang tidak pernah saya lihat selama 17 tahun saya hidup. Selama 12 tahun tinggal di pulau lombok. Sesuatu itu adalah kabut. Tentu saja ini menjadi menarik karena biasanya saya melihat kabut di Sembalun, sebuah desa dekat gunung Rinjani. Kali ini kabutnya sangat rendah. Persawahan di kanan-kiri kami menyiratkan aroma angker karena kabut ini. Jadi teringat laut… mobil harus memakai lampu besar karena kabut lumayan pekat. Semakin seram saja.

Setelah mengantar guru pembimbing dan snivelus ke rumahnya, saya pulang kerumah. Bertepatan dengan itu suara adzan genggema bertalu-talu mengisi kerinduan saya terhadap seruan kemenangan ini. Assholatu khairumminannaum – sholat itu lebih baik daripada tidur…

2 pemikiran pada “Olimpiade Teknik 2008 (FT-UNUD) : The Foreigner #4 (habis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s