Distorsi
Sepertinya aku mengenalnya. Tapi tak tahu pasti siapa dia sebenarnya. Mungkin aku mengenalnya dimasa lalu, ketika kehidupan berjalan datar dihadapanku. Ketika malam sinis menyapaku. Namun tetap aku tidak bisa mengingatnya dengan sempurna. Hanya sepotong-sepotong. Wajahnya nampak seperti puzzle dihadapanku. Jelas aku tidak mengetahuinya. Tapi intuisiku berkata lain. Ada yang janggal saat aku memandangnya. Ada seraut roman muka yang tiba-tiba terlempar dari tempatku sekarang, menuju masa lalu. Lalu mulailah aku mengingat sesuatu yang indah, sangat indah. Mudah untuk kuungkapkan tanpa kata-kata. Pelan-pelan aku mulai mencari wajah yang asing itu dimemori otakku. Kosong. Aku hanya bisa mengenalinya dari senyum indahnya. Selainnya adalah datar dan hampa.
Apakah ini hanya distorsi? Halusinasi? Deja vu? Tak mudah menjawabnya, tapi kuyakin akan lebih mudah untuk menuliskannya apa adanya. Tapi memang begitu adanya. Terlalu banyak distorsi ketika aku melihat wajahnya. Terlempar bertahun-tahun sudah. Tercampur dengan sebuah harapan yang tersimpan rapi. Tercecer bersama keinginan dimasa sekarang dan menjadi satu dengan impian mendatang.
Baca selebihnya »
Matahari turun, mulai…
Biasanya pulang dari masjid kalau tidak ada yang bisa dikerjakan aku jadi bobe (boring berat). Kebetulan sekali kedua orang tuaku sedang keluar kota, jadi sendiri ini makin menjadi-jadi. Untung saja aku telah menebus HP kakaknya piko (N80) yang uangnya kudapat dari hasil menjual hp cina yang gak jelas asal-usulnya (dikasi soalnya). Mantap, dengan kamera 3MP aku bersiap-siap untuk menangkap apapun yang terlihat menggelitik otak kananku. Masalahnya… mau kemana sekarang? Mau ke kota tua ampenan? Tidak, terlalu pagi. Masih banyak orang berlalu-lalang. Ke genteng? Bulan purnama bersinar terang malam ini. Tapi aku sedang tidak berminat untuk memotretnya. Ke taman kota? Ngapain? Latihan PK? Nggak deh. Kayaknya malam ini aku akan mengambil sesuatu dari kamarku saja.
Baca selebihnya »
Minggu campur aduk
Seminggu sebelum pengumuman UN adalah minggu yang mendebarkan bagi anak-anak kelas XII diseluruh Indonesia. Tapi ini tidak berlaku bagiku. Kenapa? Hehe… seperti yang kukatakan dalam tulisan sebelumnya, tidak ada perasaan was-was, berdebar-debar, paranoid, merasa coklat, atau yang lainnya. Benar-benar datar… sempurna.
Entah mengapa aku sangat yakin UN ini aku akan keluar sebagai pecundang pemenang (aiihh). Menggenapi perkataanku tempo hari bahwa aku akan lulus dengan nilai tinggi.
Lantas apa saja yang kulakukan seminggu sebelum UN ini? Rata-rata siswa (yang rajin) biasanya akan meningkatkan intensitas kedatangannya kesekolah. Bertanya ke guru, wali kelas, sibuk nyari bocoran kelulusan, bahkan kalau bisa mengintimidasi pihak PTN yang ditugasi memeriksa lembar jawaban untuk memastikan kalau mereka lulus. Ini sangat, sangat wajar.
Sedangkan aku sendiri datang ke sekolah untuk sekedar mengembalikan buku perpustakaan yang usang. Naasnya dari dua buku jelek yang aku dipaksa pinjam, salah satunya hilang. Terpaksa harus bayar… belum lagi sekolah membebani siswa untuk menyerahkan 2 buku paket sebagai sumbangan, yang mana buku dengan kurikulum KTSP saja yang boleh disumbangkan. Jika tidak, anda akan sukses tidak mendapat ijazah. Naasnya lagi aku hanya memiliki satu buku paket dengan kurikulum KTSP… bayar lagi. Ups, satu lagi. Siswa juga harus menyumbangkan pakaian layak pakai.
Baca selebihnya »
Wawancara dengan remaja biasa
Q : hy, siapa kamu?
A : orang, moso’ setan?!
Q : bisa lebih spesifik?
A : hmm… cuma remaja biasa dihari biasa. gak ada yang luar biasa
Q : sekarang lagi ngapain?
A : lagi ladenin kamu…
Q : maksudnya kegiatan sehari-hari
A : nganggur, makan, mandi, tidur
Q : gak ada yang lain? Baca selebihnya »
bosan lagi
hehe… tema mikroblogging ala twitter diinterupsi. lagi-lagi karena ternyata saya kurang begitu impression sama ni tema… mau nulis dikit tapi kok kayaknya kurang ya?….
sedikit kisah
- frxs
Lagi⦠kutelusuri
Serpihan-serpihan kehidupan
Antara terang dan kemerahan
Terjatuh dan menderita
Kesepian dan lelah
Menguap
Roda kemanusiaan berputar
Cepat tanpa makna
Terguling tanpa arti
Didalam mata keruh
Mustahil cahaya
Mengisi
hari (naas) itu telah usai
begitulah kawan… aku sudah 5 hari yang lampau belajar. awalnya semangat, tapi waktu matematika otakku crash. hanya beberapa soal yang bisa kukerjakan dari 40 soal. naas bukan? begitulah… tapi, tenang. firasatku lebih bisa diandalkan daripada penguasaan rumus. jadi sampailah aku diakhir waktu dengan gemilang, ditambah lagi “frekwensi nyasar” yang aku tangkap, membuat LJUN ku semakin berisi (setelah verifikasi tentunya).
satu hal yang aneh, aku selalu dikirim pesan singkat berisi bocoran UN dari apa segala penjuru dan oknum-oknum atau seorang kawan yang (katanya) beli soal… tapi salah. bahasa inggris, bahasa indonesia, sosiologi, matematika, geografi semua bocoran yang disebar salah. seorang kawan malah memiliki hingga 3 versi bocoran yang dipungut entah dari mana. sangat ajib ujian kali ini penyebaran bocoran begitu sporadis. hingga pada hari ketiga muncul desas desus disekolah kami bahwa intel akan datang dan memeriksa apakah ada dugaan kebocoran soal. Baca selebihnya »
Comments(3)
Comments(3)
Comments(1)



